periskop.id - Menteri Luar Negeri Sugiono menyambut kepulangan 22 Warga Negara Indonesia (WNI) dari Iran menyusul eskalasi konflik militer di Timur Tengah. Kepulangan puluhan warga ini merupakan tahap awal dari serangkaian proses repatriasi pemerintah secara bergelombang.
"Sore ini ada 22 saudara kita yang kembali di gelombang pertama. Besok menyusul 10 orang lagi, dan per sore ini sudah ada 36 orang lainnya yang mendaftarkan diri untuk repatriasi," ujarnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (10/3).
Rombongan evakuasi gelombang perdana ini mendarat dengan selamat pada Selasa sore. Mereka terpaksa meninggalkan negara tersebut imbas memanasnya situasi keamanan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Salah satu peserta rombongan kepulangan ini merupakan mantan Anggota DPR RI Zulfan Lindan. Ia menceritakan pengalaman menegangkan selama mengungsi di Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran.
"Situasinya mencekam. Ketika kami berada di KBRI Teheran itu, ada 10 bom lewat di atas gedung. Jaraknya hanya sekitar 1 hingga 2 kilometer, itu luar biasa sehingga kaca-kaca di kedutaan sampai bergetar hebat," ungkapnya.
Rombongan WNI ini harus menempuh perjalanan darat sangat panjang demi mencapai zona aman. Mereka menghabiskan waktu sembilan jam berkendara menuju wilayah perbatasan Iran dan Azerbaijan.
Setibanya di perbatasan, seluruh rombongan melanjutkan perjalanan udara menuju Baku. Penerbangan penyelamatan ini sempat melakukan transit di Turki sebelum akhirnya bertolak ke Tanah Air.
"Kami berangkat subuh dan menempuh perjalanan 9 jam sampai ke perbatasan. Beruntung saat itu jalanan tidak macet sehingga prosesnya lancar," tambahnya.
Situasi ibu kota Iran sebenarnya masih menunjukkan aktivitas pergerakan warga dalam jumlah besar. Banyak penduduk lokal justru turun memenuhi jalanan menggelar aksi protes massa.
Pemerintah Indonesia tetap memprioritaskan langkah penyelamatan cepat di tengah situasi tak menentu tersebut. Negara segera mengevakuasi setiap warga negara dengan kondisi keselamatan terancam.
Kementerian Luar Negeri turut merilis imbauan tegas bagi seluruh masyarakat Indonesia. Warga diminta menunda atau membatasi rencana perjalanan menuju wilayah rawan konflik Timur Tengah tanpa keperluan mendesak.
Peringatan perjalanan ini bertujuan mengantisipasi risiko keselamatan di tengah situasi regional tidak stabil. Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri terus memantau perkembangan eskalasi keamanan setiap waktunya.
Tinggalkan Komentar
Komentar