periskop.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa anggaran resmi BGN dalam APBN hanya sebesar Rp268 triliun, sekaligus membantah kabar yang menyebut angkanya mencapai Rp335 triliun.

"Anggaran berbasis undang-undang APBN, BGN mendapatkan anggaran sebesar Rp268 triliun. Jadi kalau ada yang menyampaikan bahwa kita memiliki anggaran Rp335 triliun itu tidak benar," tegas Dadan dalam keterangannya, Selasa (31/3).

Ia menjelaskan, dana Rp335 triliun yang selama ini diketahui publik berasal dari Dana Standby BA BUN (Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara) yang dikeluarkan melalui kebijakan presiden untuk dana cadangan sebesar Rp67 triliun.

Sebanyak 93% dari total alokasi APBN sebesar Rp268 triliun yang dikelola BGN dialokasikan untuk Bantuan Pemerintah dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dadan menerangkan bahwa sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Dari Rp249 triliun, sebanyak 70% digunakan untuk membeli bahan baku.

Hal ini menguntungkan petani, peternak, nelayan, UMKM, dan lain-lain. Sebanyak 20% digunakan untuk operasional seperti listrik, sewa kendaraan, termasuk gaji relawan.

Saat ini sudah ada lebih dari 1,2 juta relawan SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia dan mendapatkan penghasilan antara Rp2,4 juta–Rp3,2 juta per bulan.

“Mayoritas anggaran kami langsung disalurkan untuk program MBG, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Dadan.

BGN juga memberikan perhatian terhadap kesejahteraan relawan yang menjadi bagian penting dalam rantai distribusi MBG, dengan dukungan insentif yang disesuaikan dengan beban kerja di lapangan.

Dengan komposisi anggaran yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan langsung, BGN menegaskan bahwa program MBG dirancang tidak hanya sebagai intervensi gizi, tetapi juga sebagai instrumen penguatan ekonomi lokal melalui penyerapan bahan baku dan tenaga kerja.

Lebih jauh, pihaknya akan terus memastikan pengelolaan anggaran dilakukan secara akuntabel, efektif, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat Indonesia.