Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menghadiri sekaligus membuka secara resmi Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Munas HIPMI) yang ke-18. Acara berskala nasional tersebut diselenggarakan di Kota Bandar Lampung pada Rabu (10/6).
Di hadapan ratusan pengusaha muda dari seluruh penjuru tanah air, Kepala Negara menyampaikan pidato pembukaan yang diwarnai dengan selorohan serta refleksi mendalam mengenai perjalanan politiknya yang panjang sebelum akhirnya berhasil memenangkan mandat memimpin Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo secara terbuka mengoreksi pernyataan yang sempat disampaikan oleh pembicara sebelumnya mengenai total riwayat kekalahannya dalam kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) di masa lalu.
Sembari berseloroh, ia meluruskan bahwa dirinya bukan sekadar mengalami kegagalan sebanyak tiga kali, melainkan sudah menelan kekalahan sebanyak empat kali sejak pertama kali memutuskan untuk ikut serta dalam bursa pencalonan pemimpin nasional dua dekade silam.
"Saya tadi dikatakan berapa kali maju jadi presiden. Tadi disebut tiga kali kalah, salah, empat kali kalah. Saya usaha jadi presiden dari 2004," ujar Prabowo yang langsung disambut riuh tawa dan tepuk tangan dari para peserta munas.
Alasan di Balik Kegigihan Maju dalam Kontestasi Politik
Presiden ke-8 Republik Indonesia ini tidak memungkiri bahwa kegigihan serta keputusannya untuk terus maju kembali dalam pemilu meskipun telah berkali kali mengalami kegagalan kerap membuat banyak pihak merasa heran.
Ia menyadari ada sebagian kalangan masyarakat yang bingung melihat komitmen politiknya yang tidak pernah surut walau harus melewati jalan buntu dalam rentetan pesta demokrasi sebelumnya.
Namun, di balik pertanyaan besar dari publik tersebut, Prabowo menegaskan bahwa keputusannya untuk terus bertarung di panggung politik nasional didorong oleh sebuah keresahan mendalam yang sudah ia saksikan sendiri sejak era akhir abad ke-20.
Prabowo melihat ada persoalan struktural besar yang membuat tata kelola pemerintahan dan pembangunan nasional berjalan di jalur yang kurang tepat.
"Empat kali kalah, orang bingung, sudah empat kali kalah, masih mau maju lagi. Saudara-saudara, kenapa saya ingin jadi presiden? Saya ingin jadi presiden karena saya sudah lihat dari tahun 90-an, Indonesia menuju arah yang salah," tegasnya di atas podium.
Bukan Sekadar Mengincar Jabatan Tertinggi Negara
Menutup bagian pidato refleksinya, Mantan Menteri Pertahanan ini menyatakan dengan lugas bahwa motivasi utamanya menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia sama sekali bukan didasari oleh syahwat politik atau ambisi buta demi mengejar status kehormatan sebagai presiden semata.
Ia memandang jabatan tertinggi eksekutif tersebut bukan sebagai fasilitas yang nyaman, melainkan sebuah tanggung jawab dan beban kerja yang sangat berat demi meluruskan kembali arah masa depan bangsa.
"Saya bukan mau jadi presiden hanya untuk jadi presiden. Lu kira enak (jadi presiden)!" pungkas Prabowo yang disambut kembali oleh gemuruh tepuk tangan pengusaha muda yang hadir di lokasi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar