Periskop.id – Pemerintah menargetkan perluasan Sekolah Rakyat hingga mencapai 500 titik di seluruh Indonesia pada 2029. Program pendidikan berasrama bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem itu akan dikembangkan secara bertahap dengan penambahan sekitar 100–200 lokasi per tahun selama 2027–2028.
Pada tahun ajaran 2026/2027, jumlah Sekolah Rakyat bertambah dari 166 menjadi 182 sekolah. Pemerintah menargetkan total peserta didik yang terlayani mencapai 43.344 anak pada tahun ini, mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA.
Deputi III Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah RI Kurnia Ramadhana mengatakan perluasan tersebut akan menjangkau seluruh provinsi dan sebagian besar kabupaten serta kota.
"Selanjutnya untuk tahun 2027-2028, pemerintah menargetkan penambahan 100 hingga 200 titik lokasi Sekolah Rakyat per tahun. Untuk tahun 2029, pemerintah menargetkan pembangunan Sekolah Rakyat mencapai 500 titik di 38 provinsi dan 416 kabupaten kota," ucap Kurnia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Sebanyak 93 Sekolah Permanen Siap Beroperasi
Berdasarkan data pemerintah per 21 Juli 2026, sebanyak 93 dari 182 Sekolah Rakyat merupakan sekolah permanen yang siap beroperasi. Sisanya terdiri atas 81 Sekolah Rakyat rintisan tetap dan delapan lokasi rintisan baru.
Komposisi tersebut menunjukkan pengembangan program masih berada dalam masa transisi. Sebagian kegiatan belajar telah berpindah ke gedung permanen, sedangkan sekolah rintisan masih memanfaatkan fasilitas milik kementerian, pemerintah daerah, balai pelatihan, atau bangunan lain yang disiapkan sementara.
Peralihan menuju sekolah permanen diperlukan agar program memiliki sarana pendidikan, asrama, ruang makan, fasilitas kesehatan, dan lingkungan belajar yang lebih berkelanjutan.
"Dengan jumlah Sekolah Rakyat yang bertambah, target peserta didik tahun ajaran 2026-2027 juga meningkat," katanya.
Target Peserta Didik Baru Mencapai 28.568 Anak
Mengacu pada data Kementerian Sosial per 8 Juli 2026, pemerintah menargetkan penerimaan 28.568 peserta didik baru. Jumlah itu terdiri atas 6.305 siswa SD, 11.186 siswa SMP, dan 11.077 siswa SMA.
Jika digabungkan dengan murid yang telah mengikuti program, total peserta didik Sekolah Rakyat ditargetkan mencapai lebih dari 43 ribu anak.
"Dengan demikian, total peserta didik Sekolah Rakyat tingkat SD, SMP, dan SMA secara keseluruhan dari yang sudah ada dan target sementara mencapai 43.344 orang pada tahun ini," ucap Kurnia.
Pada tahun ajaran sebelumnya, sebanyak 166 Sekolah Rakyat Rintisan telah melayani 14.776 siswa di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota. Perinciannya meliputi 2.713 siswa SD, 5.681 siswa SMP, dan 6.382 siswa SMA.
Sebaran sekolah tersebut mencakup 77 lokasi di Jawa, 35 di Sumatra, 28 di Sulawesi, 13 di Kalimantan, tujuh di Bali dan Nusa Tenggara, tujuh di Maluku, serta enam di Papua.

Menyasar Anak yang Belum Sekolah dan Putus Sekolah
Sekolah Rakyat dirancang sebagai pendidikan gratis berasrama bagi anak dari keluarga dalam kelompok sosial ekonomi terbawah. Peserta mendapatkan tempat tinggal, makanan, seragam, perlengkapan belajar, pemeriksaan kesehatan, dan pendampingan selama mengikuti pendidikan.
Data yang disampaikan Bakom menunjukkan 67 persen keluarga peserta didik memiliki pendapatan kurang dari Rp1 juta per bulan. Hingga 20 Juni 2026, program tersebut juga menjangkau 454 anak yang sebelumnya belum pernah bersekolah dan 298 anak yang sempat putus sekolah.
Pada aspek tenaga pendidik, sebanyak 2.343 guru, termasuk guru agama, telah tercatat dalam Data Pokok Pendidikan. Sebanyak 166 kepala sekolah juga telah berstatus definitif. Pemerintah turut menyalurkan 15.487 laptop serta 596 papan interaktif digital untuk mendukung pembelajaran.
Program ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan capaian akademik, tetapi juga memperbaiki kesehatan, kedisiplinan, kemandirian, dan kondisi sosial anak dari keluarga rentan.
Prabowo Bidik Kapasitas 500 Ribu Murid
Target 500 Sekolah Rakyat sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto ketika meresmikan 166 sekolah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 12 Januari 2026.
“Hari ini kita berhasil melihat dan meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Sasaran kita adalah 500 Sekolah Rakyat sampai tahun 2029. Insyaallah akan tercapai,” ujar Presiden Prabowo.
Pemerintah merancang setiap kompleks Sekolah Rakyat permanen dapat menampung hingga 1.000 siswa. Apabila target 500 titik terealisasi dengan kapasitas tersebut, program ini berpotensi melayani sekitar 500 ribu anak.
“Ujungnya sasaran kita adalah tiap sekolah rakyat adalah seribu murid. Berarti sasaran kita nanti 500 ribu murid,” ungkap Presiden.
Namun, target itu masih membutuhkan pembangunan fasilitas, pengadaan tenaga pendidik, kesiapan anggaran, verifikasi calon siswa, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pertambahan jumlah sekolah juga harus diikuti jaminan kualitas pembelajaran, keamanan asrama, pemenuhan gizi, dan perlindungan anak.
Dengan perluasan menjadi 182 lokasi pada tahun ajaran 2026/2027, pemerintah memasuki tahap berikutnya dalam pengembangan Sekolah Rakyat. Keberhasilan program tidak hanya akan diukur dari jumlah gedung yang tersedia, tetapi juga kemampuan sekolah menjaga anak tetap belajar dan membuka peluang mereka keluar dari kemiskinan antargenerasi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar