Periskop.id — Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk atau PPAPP DKI Jakarta menilai Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah atau GAMAS menjadi momentum penting untuk memperkuat peran ayah dalam keluarga. Kehadiran ayah pada hari pertama sekolah dinilai bukan sekadar aktivitas mengantar, tetapi bentuk dukungan emosional bagi anak saat memulai tahun ajaran baru.

Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan, keluarga merupakan ruang pertama anak belajar nilai kehidupan. Karena itu, keterlibatan ayah dan ibu perlu berjalan bersama agar anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan komunikatif.

"Ya sebenarnya kita berusaha agar ayah itu hadir ya bersama seluruh mendampingi anak-anaknya. Jadi membangun keluarga yang ideal," kata Dwi usai kegiatan GAMAS di SLBN 02 Jakarta, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (13/7). 

Menurut Dwi, komunikasi keluarga perlu dibangun melalui delapan fungsi keluarga, yakni agama, cinta kasih, perlindungan, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, reproduksi, dan lingkungan. Ia menekankan seluruh anggota keluarga perlu terlibat, terutama orang tua, agar anak merasakan dukungan secara utuh.

"Ada delapan fungsi keluarga yang semua anggota keluarga perlu terlibat terutama peran orang tua pastinya untuk bisa membangun mulai dari komunikasi," ucapnya. 

GAMAS juga sejalan dengan dorongan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN agar ayah hadir dalam momen penting anak. Dalam laman Kampung KB, gerakan ini disebut sebagai bentuk keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan sejak dini, serta dapat membangun kedekatan emosional, rasa aman, dan kepercayaan diri anak.

Ayah Meluangkan Waktu

Dukungan serupa juga disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji saat meninjau pelaksanaan GAMAS di SLBN 02 Jakarta. Ia mengatakan program ini mendorong para ayah meluangkan waktu mendampingi dan mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah sebagai bentuk kehadiran orang tua dalam tumbuh kembang anak.

Di DKI Jakarta, dukungan terhadap GAMAS juga diberikan melalui instruksi bagi ASN. Dwi mengatakan Sekretaris Daerah DKI mengimbau para ayah di lingkungan Pemprov DKI untuk meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk. Kebijakan itu sejalan dengan penerbitan Surat Edaran Pemprov DKI Nomor 22/SE/2026 tentang Izin Mengantar Anak Sekolah pada Hari Pertama Sekolah.

"Untuk kalangan ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI, ada instruksi Sekda yang isinya adalah kepada para ayah untuk meluangkan waktu hari ini atau hari pertama anaknya sekolah untuk mengantar," tuturnya.

Gerakan ini juga merupakan tindak lanjut Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah atau GEMAR dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah atau GAMAS. Sejumlah pemerintah daerah lain juga menerbitkan surat edaran serupa sebagai bentuk dukungan terhadap keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.

Kegiatan GAMAS di SLBN 02 Jakarta juga menjadi bagian dari kelanjutan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak atau GEMAR. Kepala Sekolah SLBN 02 Jakarta Dedeh Kurniasih berharap program tersebut dapat meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan, terutama bagi anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan dukungan keluarga secara konsisten.

"Mudah-mudahan dan InsyaAllah kegiatan ini berdampak positif bagi kita semua, khususnya bagi SLB Negeri 02 Jakarta," serunya.

SLBN 02 Jakarta membimbing 230 siswa penyandang disabilitas dari jenjang SD hingga SMA. Para siswa dilatih agar memiliki keterampilan dan kemampuan untuk hidup lebih mandiri di masa depan. Dalam laporan Berita Jakarta, Wihaji juga menyebut DKI memiliki 13 SLB di bawah naungan Pemprov DKI dan dinilai telah menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak berkebutuhan khusus.

Persoalan Fatherless

Wihaji turut menyoroti persoalan fatherless atau kehilangan figur ayah secara psikologis. Ia menyebut sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami fenomena tersebut, sehingga kehadiran ayah dalam momen penting anak perlu terus didorong.

Dalam konteks itu, GAMAS bisa dibaca sebagai gerakan simbolik sekaligus praktis. Simbolik karena mengingatkan bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu. Praktis karena membuka ruang komunikasi langsung antara ayah, anak, dan sekolah sejak hari pertama tahun ajaran.

Tantangannya adalah memastikan gerakan ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Kehadiran ayah perlu berlanjut dalam aktivitas harian, mulai dari bertanya kabar anak, menemani belajar, hadir saat pengambilan rapor, berdialog dengan guru, hingga mendampingi anak menghadapi masalah sosial dan emosional.

Jika berjalan konsisten, GAMAS dapat menjadi pintu masuk untuk membangun keluarga yang lebih komunikatif dan kolaboratif. Anak tidak hanya merasa diantar ke sekolah, tetapi juga merasa ditemani dalam proses tumbuh dan belajar.