Periskop.id – Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal menyikapi tragedi tewasnya tiga pekerja proyek yang diduga keracunan gas di dalam gorong-gorong Cipayung, Jakarta Timur. Usai memanggil jajaran direksi PT Moya, ia berencana meminta pertemuan langsung dengan bos besar Grup Salim, Anthony Salim, guna menuntut tanggung jawab konkret.
Menurutnya, langkah itu perlu ditempuh karena saham korporasi dikuasai 95% oleh Moya Singapura, sedangkan 5% sisanya dipegang PT Tamaris yang terafiliasi dengan Grup Salim.
"Kami juga nanti akan meminta bertemu dengan Pak Anthony Salim, atau setidak-tidaknya Pak Franky Welirang untuk meminta langkah-langkah apa yang akan diambil oleh pihak pemegang saham. Karena ini nyawanya sudah hilang! Dan kalau di ILO (Organisasi Perburuhan Internasional), K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) itu adalah isu yang sangat kuat. Ya, keselamatan nyawa satu orang pun itu wajib dipertanggungjawabkan," tegas Said di Gedung PT Moya, Senin (13/7).
Saat dikonfirmasi soal sejauh mana keterlibatan pemegang saham lokal dalam insiden ini, pihak grup konglomerasi Indonesia mengaku belum mengetahui kejadian secara mendetail. Ketidaktahuan itu, menurut Said, dikaitkan dengan porsi kepemilikan saham mereka yang minoritas.
"Ya kalau Pak Anthony Salim dan Pak Franky Welirang, grup Salim-lah ya, tidak tahu. Diakui oleh mereka tidak tahu. Mereka hanya ada afiliasi. Dan saham terbesar 95% kan Singapura. Jadi yang dari grup Indonesianya hanya 5%," jelas Said.
Meski pihak terafiliasi lokal mengklaim belum mengetahui insiden di lapangan, Said menegaskan hilangnya nyawa pekerja dalam proyek ini tidak boleh diabaikan. Ia memastikan standar baku keselamatan kerja internasional wajib ditegakkan dan dipertanggungjawabkan oleh seluruh jajaran pemegang saham korporasi.
Pertemuan dengan Anthony Salim ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan resmi Said dengan jajaran petinggi PT Moya untuk mengklarifikasi dugaan kelalaian prosedur K3 yang berujung kematian tiga pekerja.
"Pada hari ini kami sudah berjumpa dengan jajaran pimpinan PT Moya. Ya, memang terkonfirmasi yang hadir salah satu direkturnya ada, kemudian juga beberapa Chief Officer-nya juga hadir, kemudian juga dari Sekretaris Korporatnya," ungkap Iqbal.
Kunjungan Said ke PT Moya dilatarbelakangi insiden meninggalnya tiga pekerja di gorong-gorong. Mereka diduga mengalami keracunan gas saat berada di dalam saluran di Jalan Pintu 3 Keong Mas, Cipayung, Jakarta Timur.
"Kami mengevakuasi korban keracunan gas di gorong-gorong di Jalan Pintu 3 Keong Mas, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, sebanyak tiga orang meninggal dunia," kata Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur Abdul Wahid di Jakarta, Kamis (9/7).
Abdul menguraikan kronologi kejadian. Insiden bermula saat seorang pekerja proyek masuk ke dalam gorong-gorong untuk melakukan pekerjaan, lalu tiba-tiba pingsan ketika berada sekitar setengah tangga menuju dasar saluran.
Melihat rekannya tidak sadarkan diri, seorang pekerja lain berupaya menolong dengan masuk ke dalam gorong-gorong. Namun, pekerja tersebut ikut pingsan diduga akibat menghirup gas beracun di dalam saluran, disusul satu pekerja lagi yang bernasib sama.
"Pekerja proyek PAM sedang masuk gorong-gorong lalu setengah tangga pingsan, dan temannya menolong untuk membantu namun ikut pingsan juga, lalu masuk satu orang pingsan lagi, jadi total tiga orang," jelas Abdul.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar