periskop.id - Bank Syariah Indonesia (BSI) membukukan laba bersih unaudited sebesar Rp2,8 triliun sepanjang Januari hingga April 2026. Raihan itu tumbuh 17,8% secara tahunan.

Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan, manajemen berkomitmen penuh mengawal kinerja fundamental perseroan lewat berbagai langkah strategis yang berkelanjutan demi kepentingan seluruh pemangku kepentingan.

Advertisement

"BSI terus menjaga fundamental performance bisnis dan keuangan melalui optimalisasi aset, penjagaan kualitas pembiayaan, peningkatan fee-based income, penguatan CASA, serta peningkatan produktivitas pegawai melalui pengembangan ekosistem bisnis syariah dan bullion bank sebagai sumber pertumbuhan bisnis," kata Ade Cahyo dalam keterangan resmi, Selasa (9/6).

Penguatan skala bisnis bank juga tercermin dari sisi aset. Total aset BSI melonjak 12,17% menjadi Rp452 triliun, didorong oleh optimalnya fungsi intermediasi perseroan.

Pertumbuhan itu, menurut Ade Cahyo, ditopang dari dua sisi sekaligus, yakni penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang solid serta ekspansi pembiayaan yang diimbangi manajemen risiko ketat.

Dari sisi DPK, portofolio yang dikelola BSI per April 2026 tumbuh 17,9% menjadi Rp382 triliun.

Pos tabungan menjadi pendorong terkuat dalam komponen DPK tersebut. Tabungan melesat 22,02% ke level Rp165 triliun, melampaui pertumbuhan instrumen Deposito maupun Giro.

Kombinasi dana murah dari ketiga instrumen itu membawa rasio Current Account Saving Account (CASA) BSI ke level 63,48%.

Rasio CASA yang tinggi dinilai positif karena mencerminkan struktur pendanaan yang lebih efisien. Biaya dana yang lebih rendah umumnya berkontribusi langsung pada ruang ekspansi margin keuntungan perseroan.

BSI sendiri terus mengembangkan ekosistem bisnis syariah sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang, termasuk layanan bullion bank yang disebut menjadi salah satu mesin bisnis baru perseroan ke depan.