Periskop.id - Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai kebijakan pemerintah menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) terbukti efektif memperkuat likuiditas perbankan.
Namun, menurutnya, dampak kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi tidak akan otomatis sebanding dengan besarnya dana yang ditempatkan.
Syafruddin menjelaskan, penempatan dana SAL memberikan tambahan sumber pendanaan berbiaya rendah bagi perbankan sehingga dapat mengurangi ketergantungan bank pada penghimpunan dana mahal, seperti deposito berbunga tinggi.
"Penempatan SAL di perbankan memperkuat likuiditas karena bank memperoleh tambahan dana berbiaya relatif rendah, sehingga tekanan penghimpunan deposito mahal berkurang dan ruang penyaluran kredit membesar," kata Syafruddin kepada Periskop, Jumat (17/7).
Ia mencatat pemerintah mulai menempatkan dana SAL sebesar Rp200 triliun pada September 2025 dan kemudian menambah penempatan hingga totalnya mencapai sekitar Rp300 triliun. Langkah tersebut, menurut Syafruddin, turut menjaga kecukupan likuiditas perbankan.
Mengacu pada penilaian Bank Indonesia, penempatan dana pemerintah juga membantu menekan biaya dana (cost of fund) perbankan sehingga menciptakan ruang bagi penurunan suku bunga kredit.
Meski demikian, Syafruddin mengingatkan tantangan muncul ketika pemerintah mulai menarik kembali dana SAL dari perbankan.
"Penarikan mengurangi sumber likuiditas, dapat menaikkan persaingan dana pihak ketiga, dan berpotensi mendorong suku bunga deposito jika bank belum menyiapkan sumber pengganti," terang dia.
Karena itu, ia menilai keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada cara pemerintah mengelola proses penempatan maupun penarikan dana.
"Karena itu, dampak akhirnya sangat bergantung pada kecepatan penarikan, kondisi likuiditas setiap bank, dan koordinasi dengan operasi moneter Bank Indonesia. Kebijakan ini efektif bila pemerintah memperlakukannya sebagai instrumen temporer dan memberi masa transisi yang cukup, bukan memindahkan dana dalam jumlah besar secara mendadak," papar Syafruddin.
Lebih lanjut, Syafruddin menilai tambahan likuiditas di perbankan belum tentu langsung mendorong pertumbuhan ekonomi apabila tidak diikuti peningkatan penyaluran kredit ke sektor produktif.
Menurutnya, dana murah yang diterima bank hanya akan memberikan dampak nyata apabila disalurkan kepada dunia usaha dan masyarakat melalui kredit dengan bunga yang lebih kompetitif.
"Tambahan likuiditas dapat menurunkan biaya dana dan meningkatkan kapasitas kredit, tetapi pertumbuhan baru menguat bila bank menyalurkan dana ke sektor produktif dan dunia usaha memiliki permintaan kredit yang sehat," beber dia.
Namun, katanya, risiko lain muncul jika bank memilih menempatkan dana pada instrumen likuid atau surat berharga karena permintaan kredit lemah dan risiko debitur tinggi.
Karena itu, ia mengingatkan agar pemerintah mengukur keberhasilan melalui tambahan kredit bersih, penurunan bunga pinjaman, kualitas kredit, serta dampaknya terhadap investasi dan produksi, bukan hanya melalui besarnya dana yang masuk ke Himbara.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar