Periskop.id - Euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia sering kali menyajikan drama dan kegembiraan di atas lapangan hijau. Namun, di balik kemeriahan pesta olahraga tersebut, tersimpan sebuah realitas kelam yang jarang tersorot oleh kamera media.
Pihak kejaksaan di Inggris dan Wales baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius mengenai perkiraan terjadinya peningkatan insiden kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di sepanjang pergelaran Piala Dunia 2026.
Merespons potensi bahaya ini, aparat penegak hukum mendesak para korban untuk tidak takut dan berani melaporkan segala bentuk kekerasan yang mereka alami, seraya menegaskan bahwa para pelaku akan diseret ke jalur hukum.
“Kami sering melihat lebih banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga di sekitar turnamen sepak bola besar seperti ini. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa mereka yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban, dan kami tidak akan ragu untuk membawa mereka ke pengadilan,” kata Olivia Rose, kepala Penuntut Umum Kerajaan Inggris (CPS), sebagaimana dikutip oleh The Guardian, Sabtu (27/6).
Alkohol dan Emosi yang Memperburuk Situasi
Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh pihak kejaksaan, turnamen sepak bola itu sendiri sebenarnya bukanlah akar penyebab utama dari seseorang bertindak kasar.
“Kami tahu bahwa sepak bola tidak menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga, tetapi alkohol dan emosi yang meningkat dapat memperburuknya,” tambah Rose.
Meski demikian, pihak berwenang memastikan bahwa sistem peradilan saat ini sudah jauh lebih siap dan responsif dalam memproses laporan masyarakat. Data hukum terbaru menunjukkan tren positif di mana empat dari lima kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dirujuk oleh pihak kepolisian berhasil berujung pada penjatuhan dakwaan resmi di pengadilan.
Menurut Rose, tingginya rasio dakwaan tersebut menjadi bukti nyata mengenai seberapa serius aparat penegak hukum dalam menangani isu kekerasan domestik.
“Kami ingin para korban tahu bahwa dukungan tersedia untuk mereka, dan kami memahami betapa sulitnya melaporkan kekerasan dalam rumah tangga. Namun, jika mereka berani melapor, mereka akan ditanggapi dengan serius,” katanya.
Kontroversi Narasi Hasil Pertandingan
Isu mengenai hubungan antara sepak bola dan kekerasan domestik ini sempat memicu perdebatan hangat di ranah politik publik. Anggota parlemen dari Partai Reform, Sarah Pochin, sempat menuai gelombang kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat pada awal Juni setelah mengunggah sebuah pernyataan di media sosial X.
“Demi keselamatan perempuan, kita perlu Inggris terus menang,” tulis Pochin.
Pernyataan politisi tersebut langsung direspons negatif oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat. Organisasi amal untuk korban kekerasan dalam rumah tangga, Refuge, menggambarkan unggahan itu sebagai narasi yang sangat tidak pantas.
Mereka menambahkan bahwa cara pandang seperti itu tidak hanya menyesatkan publik, tetapi juga berpotensi memberikan celah bagi para pelaku untuk menghindari pertanggungjawaban moral dengan menyalahkan hasil pertandingan tim nasional.
Pihak kejaksaan pun kembali menegaskan bahwa tidak boleh ada alasan apapun sebagai pembenaran atas tindakan kriminal.
“Pesan dari kami adalah bahwa kami memang melihat kekerasan meningkat selama turnamen seperti Piala Dunia, tetapi tidak pernah ada alasan, menang ataupun kalah,” tambah Rose.
Data KDRT selama Pertandingan Sepak Bola
Kekhawatiran yang disampaikan oleh para aktivis dan penegak hukum ini bukan sekadar asumsi belaka, melainkan didukung oleh hasil riset ilmiah yang kuat.
Penelitian dari Lancaster University menemukan data konkret bahwa insiden kekerasan dalam rumah tangga mengalami lonjakan signifikan ketika tim nasional Inggris bertanding. Kasus kekerasan tercatat naik sebesar 26% ketika Timnas Inggris memenangkan pertandingan atau meraih hasil seri, dan melonjak jauh lebih parah hingga naik 38% jika Inggris menelan kekalahan.
Sejalan dengan temuan akademis tersebut, National Police Chiefs' Council (NPCC) juga merilis data resmi yang menunjukkan bahwa ada lebih dari 300 pelanggaran kekerasan dalam rumah tangga yang dilaporkan secara resmi kepada polisi selama turnamen Euro 2024 yang lalu.
Dalam laporan tersebut, para korban meyakini kuat bahwa perubahan perilaku agresif pelaku berkaitan erat dengan tensi pertandingan sepak bola.
Melihat bahaya laten yang terus berulang ini, organisasi amal Women's Aid mengambil langkah proaktif dengan meluncurkan sebuah kampanye kesadaran publik bertajuk The Other Kick Off.
Kampanye kreatif ini secara khusus menyoroti waktu kick off alternatif, yaitu sebuah istilah untuk menggambarkan estimasi waktu kritis ketika pelaku kemungkinan besar pulang dari menonton pertandingan dan berpotensi melakukan aksi kekerasan di rumah.
Kepala Urusan Eksternal Women's Aid, Veronica Oakeshott, menguraikan tantangan terbesar dalam penanganan isu ini.
“Kekerasan dalam rumah tangga masih dianggap sebagai kejahatan yang ‘tersembunyi’, karena sebagian besar terjadi di dalam rumah. Piala Dunia bukan hanya kesempatan untuk meningkatkan kesadaran tentang kejahatan ini, tetapi juga kesempatan untuk mengingatkan perempuan bahwa layanan bantuan tersedia bagi mereka jika dibutuhkan,” kata Oakeshott.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar