periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat 5 Juni 2026 dibuka di zona hijau. IHSG menguat 6,71 poin atau 0,11 persen ke level 5.846,49.

Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan Stochastic RSI membentuk Death Cross. Meskipun pelemahan IHSG berkurang dari level terendah hariannya, namun diperkirakan pergerakan IHSG masih akan fluktuatif.

Advertisement

“IHSG cenderung melemah dan menguji support di 5.700-5.800,” ulas Tim Riset Phintraco Sekuritas, Jumat (5/6).

Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik dicermati antara lain, ADRO, ANTM, MDKA, TINS dan INCO.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 5,839.78 (-1.70%) pada perdagangan Kamis (4/6). IHSG bahkan sempat melemah hingga level 5,644.

Tekanan jual berlanjut dari perdagangan sehari sebelumnya akibat maraknya berbagai macam rumor di pasar domestik di tengah ketidakpastian yang tinggi serta rendahnya kepercayaan investor. Bersamaan dengan itu Rupiah ditutup melemah 0.45% di level Rp18,020 per dolar AS. 

DPR mengesahkan RUU tentang Perubahan atas UU No.4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menjadi UU, yang merupakan kelanjutan dari reformasi besar sektor keuangan Indonesia. Dengan adanya UU ini memperkuat mandat OJK dan pengaturan pasar modal, termasuk rencana demutualisasi BEI dan peningkatan integritas transaksi.

Dengan diterapkannya UU tersebut diharapkan likuiditas pasar juga akan berpotensi meningkat, seiring dengan perluasan peran bank di pasar modal, penguatan lembaga keuangan dan instrumen pasar, serta produk pasar modal yang makin beragam. Transparansi dan tata kelola diperketat serta perlindungan investor diharapkan menjadi lebih kuat. 

UU P2SK ini juga akan mengatur Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menerbitkan surat utang khusus, yakni Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Penerbitan obligasi  tersebut dimaksudkan untuk memperluas sumber pendanaan jangka panjang bagi proyek-proyek strategis nasional sekaligus memperkuat kapasitas investasi Danantara.

Sementara itu Danantara juga berencana akan menerbitkan surat utang global senilai US$5 miliar. Obligasi tersebut telah diberi peringkat Baa2  dengan outlook negatif oleh Moody's. Penerbitan surat utang oleh Danantara ini diharapkan dapat  memperdalam struktur modal nasional dan membiayai program pembangunan tanpa membebani APBN.