Periskop.id - Jika melihat lalu lintas Jakarta beberapa tahun belakangan, di antara deru motor Honda dan Yamaha yang sudah puluhan tahun jadi pemandangan biasa, kini muncul nama-nama asing di telinga. Electrum, Maka, Alva, Volta, Gesits, dan puluhan merek lain yang seolah lahir dari ketiadaan.
Tidak ada sejarah panjang, tidak ada warisan pabrikan legendaris, namun tiba-tiba produk mereka berseliweran di jalan raya.
Fenomena ini bukan kebetulan belaka. Di baliknya ada perpaduan antara kebijakan pemerintah yang agresif, gelombang modal dari berbagai kalangan pebisnis, dan karakteristik industri motor listrik yang jauh lebih mudah dimasuki dibanding motor konvensional.
Pintu yang Dibuka Lebar oleh Negara
Salah satu pendorong utama gelombang ini adalah regulasi.
Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, yang merupakan revisi dari Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, mewajibkan setiap produsen memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN sebesar minimal 40% untuk periode 2022-2026, yang kemudian akan naik menjadi 60% pada 2027-2029 dan mencapai 80% pada 2030.
Aturan ini sengaja dirancang untuk memaksa siapa pun yang ingin berjualan motor listrik di Indonesia untuk ikut membangun basis produksi di dalam negeri, bukan sekadar mengimpor barang jadi.
Untuk mempercepat adopsi, pemerintah juga menggelontorkan subsidi tunai sebesar Rp7 juta per unit bagi motor listrik yang memenuhi syarat TKDN tersebut.
Skema ini kemudian berkembang menjadi insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Hasilnya cukup signifikan meski butuh waktu: penyaluran subsidi melonjak dari 11.532 unit pada tahun pertama menjadi 63.145 unit setahun setelahnya.
Data dari Kementerian Perindustrian bahkan mencatat ada 53 perusahaan yang terdaftar sebagai produsen motor listrik di Indonesia, jumlah yang jauh melampaui pabrikan motor berbahan bakar minyak yang selama ini kita kenal.
Ambisi di balik kebijakan ini juga tidak main-main. Sebagaimana dinyatakan pihak Electrum, perusahaan itu berkomitmen mendukung target pemerintah dalam memproduksi sembilan juta motor listrik pada tahun 2030 sekaligus mewujudkan visi Indonesia mencapai net-zero emission pada 2060.
Target sebesar itu otomatis membuka ruang bagi siapa saja yang berani masuk dan berinvestasi, bahkan tanpa harus punya pengalaman otomotif sebelumnya.
Dua Jalur yang Berbeda di Balik Merek yang Sama-Sama Baru
Menariknya, di balik gelombang ini sebenarnya ada dua jalur pembentukan perusahaan yang cukup berbeda karakternya.
Jalur pertama adalah aliansi antara raksasa bisnis dan startup teknologi yang punya modal besar serta ekosistem pengguna siap pakai.
Contoh paling nyata adalah Electrum. Perusahaan ini secara resmi berbadan hukum sebagai PT Energi Kreasi Bersama, meluncur pada November 2021 sebagai hasil patungan antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dan PT TBS Energi Utama Tbk, sebuah grup yang sebelumnya dikenal lewat bisnis batu bara sebelum bertransformasi ke sektor energi bersih.
Kombinasi ini masuk akal secara bisnis. GoTo punya jutaan mitra pengemudi ojek daring yang butuh kendaraan operasional murah dan efisien, sementara TBS Energi punya modal serta jaringan di sektor energi.
Pabrik Electrum seluas tiga hektare sendiri dibangun di kawasan Greenland International Industrial Center, Cikarang, Jawa Barat dengan kapasitas produksi awal 250 ribu unit per jalur perakitan dan berpotensi menembus satu juta unit per tahun jika seluruh jalur rampung dibangun.
Pola serupa terjadi pada Alva, yang diproduksi oleh PT Ilectra Motor Group dan PT Electra Mobilitas Indonesia, keduanya merupakan anak usaha PT Indika Energy Tbk.
Sama seperti TBS Energi, Indika juga berasal dari latar belakang bisnis energi dan kini memperluas portofolionya ke kendaraan listrik sekaligus infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian dan penukaran baterai.
Di sisi lain, Gesits lahir dari rahim PT WIKA Industri Manufaktur, anak usaha badan usaha milik negara di sektor konstruksi yang memutuskan merambah manufaktur kendaraan listrik.
Sementara itu Volta dibentuk lewat kongsi antara PT NFC Indonesia Tbk dan perusahaan logistik PT SiCepat Ekspres Indonesia, melahirkan PT Volta Indonesia Semesta dengan pabrik di Semarang yang menargetkan produksi 60 ribu unit motor per tahun.
Jalur kedua justru datang dari startup rintisan murni tanpa payung konglomerasi besar, dengan Maka Motors sebagai contoh paling menonjol.
Perusahaan ini bernaung di bawah PT Kendaraan Listrik Nusantara, didirikan oleh Raditya Wibowo dan Arief Fadillah, dua nama yang sebenarnya bukan orang baru di industri mobilitas Indonesia karena keduanya merupakan mantan petinggi Gojek.
Ide mendirikan perusahaan ini bermula dari pengalaman pribadi mereka sebagai pengguna motor di masa sekolah, yang kemudian mereka godok sejak 2021 dan resmi diwujudkan menjadi entitas bisnis pada 2022.
Keseriusan investor terhadap gagasan mereka terlihat dari pendanaan awal senilai US$37,6 juta atau setara Rp563 miliar, yang dipimpin bersama oleh AC Ventures, East Ventures, dan SV Investment asal Korea Selatan.
Yang membedakan Maka Motors dari kebanyakan pemain baru lainnya adalah komitmennya melakukan riset dan pengembangan sepenuhnya secara mandiri di dalam negeri, bukan mengandalkan produk jadi dari pemasok luar. Raditya menjelaskan filosofi ini dengan cukup gamblang di mana MAKA tidak seperti kebanyakan kompetitornya. Perusahaan melakukan proses R&D secara in-house dan lokal sehingga memiliki kontrol atas rantai pasok, user insight, dan pada akhirnya atas efisiensi biaya.
Setelah tiga tahun proses penelitian sejak berdiri, barulah pada 15 Januari 2025 perusahaan ini meluncurkan produk massal pertamanya bernama Maka Cavalry, yang diklaim mengantongi lebih dari dua ratus kekayaan intelektual, mampu menempuh jarak hingga 160 kilometer sekali pengisian baterai penuh, serta dijual dengan harga awal Rp35,85 juta on the road Jadetabek.
Jeda panjang antara pendirian perusahaan dengan peluncuran produk inilah yang membuat publik merasa merek ini "muncul tiba-tiba", padahal proses pengembangannya sudah berjalan bertahun-tahun di bawah tanah sebelum akhirnya diperkenalkan ke pasar.
Ketika Rebadge Menjadi Jalan Pintas
Di luar dua jalur besar tersebut, ada realitas lain yang tidak bisa diabaikan: gempuran merek motor listrik asal Cina yang datang dengan skema yang jauh lebih sederhana.
Banyak dari nama-nama yang beredar di pasar sebenarnya adalah hasil kerja sama distribusi atau perakitan lokal atas basis teknologi yang sudah matang dari pabrikan Cina, yang kemudian ditempeli merek dan identitas lokal agar memenuhi syarat TKDN 40% demi mengejar insentif pemerintah.
Sebuah artikel dari CNBC Indonesia bahkan secara eksplisit mempertanyakan mengapa merek-merek Cina begitu mendominasi sementara pabrikan Jepang yang sudah mapan justru bergerak lebih lambat masuk ke segmen ini.
Pola ini sejalan dengan apa yang terjadi di segmen mobil listrik. Sejak program subsidi kendaraan listrik bergulir pada April 2023, manfaatnya paling banyak dinikmati oleh jenama-jenama asal Cina, sementara satu-satunya merek non-Cina yang turut menikmati insentif serupa hanyalah Hyundai.
Kemudahan relatif untuk masuk ke industri motor listrik dibanding industri motor konvensional turut memperbesar peluang ini: sebuah kendaraan listrik pada dasarnya hanya membutuhkan rangka, motor penggerak atau dinamo, unit pengendali atau controller, dan baterai, komponen-komponen yang bisa dipasok secara utuh dari vendor-vendor Cina yang sudah masif memproduksinya.
Berbeda dengan motor berbahan bakar minyak yang membutuhkan mesin pembakaran dalam, sistem transmisi, dan puluhan komponen presisi lain yang jauh lebih rumit untuk dikuasai dari nol.
Kenapa Terasa Muncul dari Ketiadaan
Bila ditelusuri lebih jauh, ada tiga alasan mengapa merek-merek ini terkesan hadir tanpa rekam jejak sebelumnya. Pertama, industrinya sendiri memang masih sangat muda; kerangka regulasinya baru mulai terbentuk sejak 2019 dan direvisi ulang pada 2023.
Sehingga wajar bila belum ada satu pun merek lokal yang punya sejarah panjang layaknya Honda atau Yamaha yang sudah beroperasi puluhan tahun di Indonesia.
Kedua, para pendirinya kerap datang dari latar belakang industri yang sama sekali berbeda dari otomotif. Mulai dari eksekutif teknologi digital, konglomerat energi dan pertambangan, hingga badan usaha milik negara di sektor konstruksi, bukan pabrikan otomotif tradisional yang identik dengan nama besar.
Ketiga, rendahnya hambatan masuk membuat siapa pun dengan modal memadai bisa merakit motor bermerek sendiri dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan membangun pabrikan kendaraan berbahan bakar minyak dari nol.
Pada akhirnya, gelombang merek motor listrik yang membanjiri Indonesia hari ini adalah cerminan dari sebuah industri yang sedang dalam fase pembentukan ulang.
Sebagian merek lahir dari ambisi konglomerasi besar yang ingin mendiversifikasi bisnisnya, sebagian lagi dari mimpi anak muda yang ingin membuktikan kemampuan riset dalam negeri, dan sebagian lainnya sekadar mengambil jalan pintas dengan menempelkan nama lokal pada produk yang sudah jadi.
Ketiganya bersaing di pasar yang sama, didorong oleh insentif pemerintah yang sama, menuju target elektrifikasi nasional yang sama besarnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar