Periskop.id - Bagi kebanyakan orang, sektor pertanian jarang dianggap sebagai pencemar iklim utama jika dibandingkan dengan industri berat atau transportasi. 

Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change dengan judul “Spatially Explicit Global Assessment of Cropland Greenhouse Gas Emissions Circa 2020” mengungkap fakta yang berbeda. 

Peta global baru menunjukkan bahwa sebagian kecil lahan pertanian justru bertanggung jawab atas sebagian besar polusi iklim di sektor ini.

Melansir laporan dari Earth pada Jumat (20/2), para peneliti menemukan bahwa pada tahun 2020, sekitar 70% emisi lahan pertanian berasal dari dua sumber utama, yaitu sawah yang tergenang dan lahan gambut yang dikeringkan. 

Melalui analisis yang lebih tajam ke dalam grid berukuran sekitar 10 kilometer, para peneliti kini dapat mengaitkan polusi dengan tanaman dan lanskap tertentu secara lebih spesifik.

Beras dan Titik Panas Emisi di Asia

Pada tahun 2020, emisi global dari lahan pertanian mencapai 2,5 miliar ton setara karbon dioksida. Angka yang fantastis ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari total emisi tersebut berasal dari wilayah Asia Timur dan Pasifik. 

Secara mengejutkan, komoditas beras sendiri menyumbang 43% dari total emisi global lahan pertanian.

Penelitian dari Cornell University ini mengidentifikasi tiga sumber utama polusi, yakni tanah kaya karbon yang dikeringkan dan sawah tergenang yang masing-masing menyumbang 35%, serta penggunaan pupuk sintetis yang berlebihan sebesar 23%. 

Mario Herrero, penulis utama studi dan profesor sistem pangan berkelanjutan di Cornell University, memberikan penekanan khusus pada temuan ini.

“Ini semua tentang beras. Di situlah sumber terbesar dan peluang terbesar berada,” kata Herrero. 

Mengingat beras adalah makanan pokok bagi miliaran orang, Ia menegaskan bahwa pengurangan emisi harus dilakukan dengan menyesuaikan pengelolaan air dan pupuk tanpa menurunkan hasil panen.

Mekanisme Terbentuknya Gas Rumah Kaca di Sawah

Mengapa sawah bisa menghasilkan emisi yang begitu besar? Rahasianya terletak pada kondisi tanah. Saat sawah tergenang air selama berminggu-minggu, tanah di bawahnya akan kekurangan oksigen. 

Dalam kondisi tanpa oksigen tersebut, mikroba akan memecah bahan organik dan menghasilkan metana, sebuah gas rumah kaca yang kekuatannya jauh lebih besar daripada karbon dioksida.

Di wilayah beriklim hangat dengan musim tanam yang panjang, sawah bisa tergenang berbulan-bulan sehingga emisi metana berlangsung sangat lama. 

Para ilmuwan menyarankan agar petani mulai mengeringkan sawah secara berkala, mengelola sisa jerami dengan lebih baik, atau mengatur waktu pemupukan untuk menekan angka metana. 

Namun, tantangan di lapangan tetap ada karena sistem irigasi dan regulasi air di banyak tempat sering kali membatasi fleksibilitas petani.

Peran Lahan Gambut dan Penggunaan Pupuk

Selain sawah, lahan gambut yang dikeringkan untuk dialihfungsikan menjadi lahan pertanian menjadi penyumbang emisi yang signifikan. 

Lahan gambut sendiri adalah tanah basah yang menyimpan karbon dalam jumlah besar dari sisa tanaman selama ratusan tahun. Namun ketika airnya dikeringkan, oksigen masuk dan memicu terurainya karbon menjadi karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer.

“Saya terkejut melihat betapa besarnya kontribusi lahan gambut, jauh lebih besar dari perkiraan,” ungkap Herrero. 

Meski emisi bisa turun cepat jika lahan dibasahi kembali, tantangan politik dan ekonomi sangat besar karena lahan tersebut sering kali sudah menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak orang.

Di sisi lain, penggunaan pupuk sintetis yang berlebihan di pertanian intensif juga menambah tekanan pada iklim. Mikroba tanah mengubah nitrogen berlebih dari pupuk menjadi dinitrogen oksida, gas rumah kaca kuat lainnya. 

Wilayah penghasil gandum dan minyak nabati yang menggunakan input kimia tinggi kini tercatat sebagai hotspot emisi akibat praktik ini.

Solusi Tanpa Mengurangi Pasokan Pangan

Analisis terbaru ini memberikan data penting mengenai wilayah mana yang menghasilkan polusi lebih besar untuk jumlah pangan yang sama. Fokusnya kini bergeser pada bagaimana mengurangi polusi tanpa mengorbankan produksi pangan dunia. 

Di beberapa wilayah, seperti di Afrika, fokusnya adalah meningkatkan efisiensi karena produktivitas yang masih rendah meskipun emisi totalnya kecil.

Herrero menekankan pentingnya skala subnasional dalam menentukan tindakan mitigasi agar dana publik yang terbatas dapat disalurkan ke lokasi dengan potensi pengurangan emisi terbesar per biaya.

“Yang belum pernah ada sebelumnya adalah analisis subnasional ini, yang menunjukkan di mana peluang mitigasi berada. Dana terbatas, jadi kita harus memprioritaskan,” kata Herrero. 

Ia juga mengingatkan bahwa tindakan lokal membutuhkan kepercayaan dari para petani yang menjadi pihak pertama yang menanggung risiko saat mengubah praktik pertanian mereka.

Langkah selanjutnya kini bergantung pada kesiapan pemerintah dan sektor swasta untuk berinvestasi dalam perubahan sistem tata kelola air pada sawah, pengelolaan lahan gambut, serta efisiensi penggunaan pupuk demi menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan dan kelestarian iklim global.