Periskop.id — Transformasi digital mengubah cara perusahaan mengelola keamanan. Industri jasa pengamanan kini tidak lagi hanya bertumpu pada keberadaan personel di lapangan, tetapi mulai bergerak menuju sistem yang lebih terintegrasi melalui pemanfaatan command center, CCTV cerdas, digital patrol management, hingga analisis berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Perubahan ini terjadi karena risiko keamanan perusahaan semakin kompleks. Ancaman tidak hanya datang dari gangguan fisik, tetapi juga dari kebocoran informasi, serangan siber, kelemahan sistem operasional, hingga keterlambatan respons terhadap kejadian di lapangan. Karena itu, perusahaan membutuhkan sistem keamanan yang mampu membaca situasi secara real-time, terdokumentasi, dan dapat dianalisis berdasarkan data.

Product Solutions Division Head Nawakara Teguh Prabowo mengatakan, transformasi digital telah menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan yang ingin menjaga keberlangsungan operasional di tengah dinamika risiko yang terus berkembang.

"Keamanan saat ini tidak lagi dipandang sebagai fungsi pendukung semata, tetapi telah menjadi bagian dari strategi bisnis. Perusahaan membutuhkan sistem yang mampu memberikan visibilitas terhadap kondisi di lapangan secara real-time sehingga potensi gangguan dapat diidentifikasi lebih awal dan ditangani secara cepat,” ujar Teguh dalam keteranganya, Kamis (8/7).

Menurut Teguh, digitalisasi juga mengubah pola kerja personel keamanan. Teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia, tetapi memperkuat kemampuan petugas agar bisa bekerja dengan informasi yang lebih cepat, akurat, dan terdokumentasi.

Dengan sistem yang terhubung, tim operasional dapat melakukan mitigasi dan merespons potensi gangguan sebelum masalah berkembang lebih besar. Artinya, personel keamanan tidak lagi hanya bertugas menjaga titik tertentu secara manual, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pengawasan yang terhubung dengan data dan pusat kendali.

Dalam praktiknya, integrasi teknologi keamanan dapat dilakukan melalui beberapa lapisan. Command Center berfungsi sebagai pusat pemantauan. Electronic Security System membantu pengawasan area melalui perangkat seperti CCTV, alarm, sensor, dan akses kontrol. Digital Patrol Management mencatat aktivitas patroli secara digital. Sementara AI Analytics dapat membantu membaca pola, mendeteksi anomali, dan memberi peringatan dini atas aktivitas yang berisiko.

Pendekatan ini memberi nilai tambah berupa transparansi. Aktivitas patroli, pemantauan area, pelaporan kejadian, hingga evaluasi kinerja dapat dilakukan secara terpusat dan terdokumentasi. Perusahaan pun dapat menilai efektivitas layanan keamanan berdasarkan data, bukan hanya laporan manual.

Sebagai perusahaan penyedia layanan keamanan terintegrasi, Nawakara Perkasa Nusantara mengembangkan pendekatan Integrated Security Solutions yang menggabungkan pengamanan fisik dengan teknologi digital. Model ini diarahkan untuk membantu pelanggan memperoleh perlindungan yang lebih efektif sekaligus mendukung efisiensi operasional.

Kebutuhan terhadap sistem seperti ini semakin relevan karena transformasi digital juga membawa risiko baru. IBM dalam Cost of a Data Breach Report 2025 mencatat, rata-rata biaya kebocoran data global mencapai US$4,4 juta. Laporan yang sama menyebut 97% organisasi yang mengalami insiden keamanan terkait AI tidak memiliki kontrol akses AI yang memadai, sedangkan 63% organisasi belum memiliki kebijakan tata kelola AI untuk mencegah penyebaran shadow AI.

Di Indonesia, tantangan keamanan digital juga meningkat. BSSN mencatat sejak Januari 2020 hingga Juni 2025 terdapat lebih dari 6,8 miliar anomali trafik siber yang terdeteksi oleh Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional. Sebanyak 83% dari anomali tersebut berupa malware. Dari 8.769 notifikasi insiden yang dikirimkan kepada pemilik sistem elektronik, hanya 27,9% yang ditindaklanjuti.

Keamanan Fisik dan Keamanan Digital

Data tersebut menunjukkan, keamanan perusahaan ke depan tidak bisa dipisahkan antara keamanan fisik dan keamanan digital. Area gedung, pusat logistik, kawasan industri, fasilitas energi, hingga infrastruktur publik membutuhkan sistem yang mampu memantau pergerakan orang, aset, kendaraan, perangkat, dan data dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Kebutuhan serupa juga pernah disampaikan Nawakara pada 2025 silam. Saat itu, Deputy CEO & Transformation Nawakara Satria Djaya Najamuddin menyebut, perusahaan perlu meninggalkan model keamanan yang terpisah-pisah dan beralih ke solusi yang lebih terintegrasi. Nawakara mengembangkan Integrated Security Solutions untuk melindungi aset fisik, keamanan karyawan, hingga potensi kebocoran informasi.

“Pendekatan integrasi keamanan Nawakara tidak hanya melindungi aset fisik perusahaan, tetapi juga meningkatkan keamanan karyawan, mencegah potensi kebocoran informasi, serta memastikan operasional bisnis berjalan tanpa hambatan,” ujar Satria.

Dalam laporan yang sama, Nawakara juga menyebut pemantauan dan respons cepat melalui Security Command Center yang beroperasi 24 jam menjadi bagian penting dari pengelolaan keamanan real-time. Sistem seperti ini memungkinkan ancaman terdeteksi lebih awal dan ditangani sebelum mengganggu aktivitas bisnis.

Penerapan teknologi keamanan berbasis AI juga mulai terlihat di sektor lain. Salah satu unit kilang di Indonesia, misalnya, telah menggunakan AI RUVision, sistem yang menggabungkan CCTV dan analitik AI untuk deteksi dini potensi bahaya. Sistem tersebut dapat mengenali aktivitas berisiko, mulai dari kecepatan kendaraan berlebih hingga indikasi kebocoran bahan berbahaya.

"Teknologi ini siap meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional di kilang," kata Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha Widya Putra.

Contoh tersebut memperlihatkan, teknologi pengamanan tidak hanya berguna untuk mencegah tindak kriminal, tetapi juga untuk menjaga keselamatan kerja dan keberlanjutan operasional. Di sektor berisiko tinggi seperti migas, logistik, manufaktur, dan energi, deteksi dini menjadi faktor penting karena satu insiden kecil dapat berdampak besar terhadap produksi, keselamatan pekerja, dan reputasi perusahaan.

Di sektor transportasi, teknologi serupa juga mulai diterapkan. McEasy, misalnya, memperkenalkan TrackVision, teknologi berbasis AI yang dilengkapi kamera delapan titik untuk meningkatkan keselamatan pengemudi, penumpang, dan muatan. Sistem tersebut dapat mendeteksi perilaku berisiko seperti pengemudi mengantuk, tidak fokus, menggunakan telepon, tidak memakai sabuk pengaman, hingga jarak kendaraan yang tidak aman.

“Kami harap teknologi ini dapat membantu industri transportasi untuk dapat mengurangi angka laka lantas secara signifikan,” ujar Chief Product Officer McEasy Grady Kusmulyadi.

Bagi Teguh, perkembangan ini menunjukkan, pelanggan ke depan tidak lagi cukup mencari penyedia tenaga pengamanan. Perusahaan akan membutuhkan mitra yang mampu memberi solusi lengkap, mulai dari personel, prosedur kerja, perangkat teknologi, pusat pemantauan, hingga analisis data.

"Ke depan, pelanggan tidak hanya mencari penyedia tenaga pengamanan, tetapi juga mitra yang mampu menghadirkan solusi keamanan secara menyeluruh. Karena itu, integrasi antara kompetensi personel, prosedur operasional, dan teknologi menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem keamanan yang adaptif terhadap perubahan risiko,” tambah Teguh.

Transformasi ini juga menuntut peningkatan kompetensi SDM keamanan. Petugas di lapangan perlu memahami prosedur operasional sekaligus terbiasa menggunakan perangkat digital, aplikasi patroli, sistem pelaporan, hingga respons berbasis data. Dengan begitu, teknologi tidak berjalan sendiri, tetapi benar-benar membantu personel mengambil keputusan lebih cepat.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu memastikan penggunaan teknologi keamanan tetap memperhatikan tata kelola data. Pemanfaatan CCTV, sensor, akses kontrol, dan AI Analytics harus disertai aturan yang jelas mengenai penyimpanan data, hak akses, keamanan informasi, serta perlindungan privasi.

Tantangan tersebut juga muncul di sektor keuangan. Bank Jakarta menyebut penguatan keamanan siber menjadi bagian dari strategi pengembangan digitalisasi perbankan. Direktur Bank Jakarta Agus Haryoto Widodo mengatakan, perusahaan perlu memperkuat sistem transportasi data, identifikasi, dan perlindungan risiko keamanan siber.

"Ke depan, penguatan terhadap keamanan siber dan berbagai aspek keamanan digital akan menjadi bagian dari langkah yang akan kami jalankan berikutnya," ujar Agus.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, integrasi teknologi keamanan menjadi salah satu pilar penting dalam pengamanan modern. Perusahaan yang mengelola aset, data, fasilitas, dan operasional berskala besar tidak bisa lagi mengandalkan sistem yang berdiri sendiri-sendiri. Keamanan perlu dibangun sebagai ekosistem yang menyatukan manusia, prosedur, teknologi, dan data.

Pada akhirnya, masa depan industri jasa pengamanan akan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi. Personel tetap menjadi unsur penting karena memiliki penilaian situasional dan kemampuan mengambil keputusan di lapangan. Namun, teknologi membuat proses pengamanan lebih terukur, cepat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di tengah perubahan risiko yang semakin dinamis, kolaborasi antara kompetensi manusia dan inovasi teknologi menjadi kunci untuk membangun sistem keamanan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.