Periskop.id — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kemendukbangga/BKKBN memperkuat pemberdayaan warga lanjut usia melalui program Lansia Wirausaha atau Lansia Entrepreneur. Program ini dirancang agar para lansia tetap memiliki aktivitas, ruang berkarya, serta peluang mengembangkan kemandirian ekonomi di masa tua.

Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan, Lansia Entrepreneur menjadi bagian dari pembangunan keluarga untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah perubahan struktur demografi Indonesia. Jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah, sehingga lansia tidak bisa lagi hanya dipandang sebagai kelompok yang harus dibantu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang masih bisa aktif, produktif, dan berkontribusi.

"Sekolah lansia bagian dari cara kita untuk memberdayakan lansia supaya ada aktivitas, lebih produktif, dan tentu mengurangi kesepian. Dari masalah kesepian itulah kita buat program Sekolah Lansia dan Lansia Entrepreneur," ujar Wihaji, Rabu (8/7). 

Program tersebut dijalankan melalui Program Lansia Berdaya atau Sidaya yang terhubung dengan Sekolah Lansia Bina Keluarga Lansia atau BKL. Melalui skema ini, lansia tidak hanya mendapat ruang belajar, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan minat, hobi, kemampuan, dan potensi usaha yang bisa memberi nilai ekonomi.

"Bentuk Lansia Entrepreneur meliputi peningkatan kapasitas lansia melalui pelatihan kewirausahaan untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan hobi, pelatihan kewirausahaan dengan melibatkan kementerian/lembaga dan mitra kerja, serta implementasi dilakukan di BKL dan Sekolah Lansia di kelompok BKL," paparnya.

Kebijakan ini menjadi semakin relevan karena Indonesia sudah memasuki fase penduduk menua. BPS dalam publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 menyebut, data kelanjutusiaan mencakup kondisi demografi, pendidikan, kesehatan, potensi ekonomi, kondisi sosial, serta akses perlindungan dan pemberdayaan lansia. Data tersebut bersumber dari Susenas Maret 2025, Sakernas Agustus 2025, Proyeksi Penduduk hasil Sensus Penduduk 2020, serta data kementerian dan lembaga.

Berdasarkan laporan BPS yang dirangkum Katadata, proporsi lansia Indonesia mencapai 11,93% pada 2025. Mayoritas lansia berada pada kelompok lansia muda usia 60 sampai 69 tahun, yaitu 63,72%. Sementara itu, kelompok lansia madya usia 70 sampai 79 tahun mencapai 28,94% dan lansia tua usia 80 tahun ke atas sebesar 7,34%.

Dengan komposisi tersebut, isu lansia tidak bisa hanya dibaca sebagai persoalan kesehatan. Banyak lansia masih memiliki kapasitas untuk bekerja, berwirausaha, mengajar keterampilan, merawat komunitas, atau menjalankan aktivitas sosial. Karena itu, pemberdayaan lansia menjadi penting agar masa tua tidak identik dengan keterasingan, ketergantungan, dan hilangnya peran sosial.

Kementerian Kesehatan juga menekankan, upaya kesehatan lanjut usia dimulai sejak seseorang berusia 60 tahun. Tujuannya adalah menjaga agar lansia tetap hidup sehat, berkualitas, dan produktif. Upaya itu mencakup aktivitas fisik rutin, kehidupan sosial, kesempatan berkarya, dan lingkungan yang ramah lansia.

Di Kota Bekasi, program Sekolah Lansia menunjukkan antusiasme yang tinggi. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan sejak 2022 pemerintah kota menargetkan 3.000 lansia bergabung dalam sekolah lansia. Namun, jumlah peserta kini sudah melampaui target tersebut.

"Ternyata lonjakannya luar biasa, baru masuk tahun ketiga ini, kurang lebih 3.500 lansia yang sudah menjadi peserta didik, terdiri atas 22 sekolah lansia yang tersebar di seluruh kecamatan (di Kota Bekasi)," kata Tri Adhianto.

Kriyaan Lansia Kota Bekasi Tahun 2026 

Kegiatan Kriyaan Lansia Kota Bekasi Tahun 2026 yang mengusung tema "Lansia Berdaya, Berkarya, dan Bahagia" menjadi ajang unjuk karya dari seluruh sekolah lansia di Kota Bekasi. Para peserta menampilkan hasil pembelajaran, mulai dari pembuatan minuman tradisional, batik eco green, fashion rajut, hingga makanan ringan.

Kegiatan seperti ini memperlihatkan, lansia bukan hanya penerima manfaat program, tetapi juga pelaku utama yang mampu menghasilkan karya. Dalam konteks ekonomi keluarga, produk buatan lansia juga dapat menjadi sumber tambahan pendapatan, ruang aktualisasi diri, sekaligus cara menjaga relasi sosial dengan lingkungan.

Program Lansia Entrepreneur sebelumnya juga pernah diperkenalkan BKKBN sebagai upaya memfasilitasi lansia yang masih menjadi tulang punggung keluarga. Dalam laporan ANTARA pada Juni 2025, Wihaji menyebut meningkatnya angka harapan hidup membuat sebagian lansia masih memiliki tanggung jawab ekonomi, sehingga perlu ruang agar tetap mandiri dan produktif.

"Kebetulan angka harapan hidup kita sekarang naik, 74,3 persen. Memang agak lumayan, ada beberapa yang mungkin secara umur lansia, tetapi masih ada beban untuk ekonomi, maka kita bikin kegiatan namanya Lansia Entrepreneur," kata Wihaji.

Dalam laporan yang sama, Wihaji juga menegaskan, lansia tidak boleh dipandang sebagai kelompok yang tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Menurut dia, banyak lansia masih memiliki semangat, pengalaman, dan kemampuan untuk tetap aktif di masyarakat.

"Jangan dianggap mereka itu (lansia) enggak bisa ngapa-ngapain, jangan dianggap mereka itu sudah tua lalu enggak berdaya. Mereka itu masih aktif, beliau-beliau itu semangatnya tinggi, bisa dilihat di negara-negara maju dan modern, misalnya di Singapura, itu lansianya masih aktif," tuturnya.

BKKBN juga menempatkan Sekolah Lansia sebagai salah satu program prioritas untuk mengurangi kesepian. Pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026, Wihaji mengatakan Indonesia sudah memiliki lebih dari 3.000 Sekolah Lansia yang terhubung dengan aplikasi Sidaya. Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup lansia, sekaligus mendukung konsep lansia tangguh dan produktif.

"Kalau se-Indonesia Sekolah Lansia sudah banyak, hanya saja kebetulan hari ini sekitar 387. Semangatnya adalah memastikan program kita jalan dan ini sebenarnya sangat penting. Oleh karena itu saya terima kasih kepada seluruh Sekolah Lansia," ucap Mendukbangga Wihaji.

Wihaji menyebut pemberdayaan lansia juga menjadi bagian dari kapitalisasi demografi. Artinya, warga yang masih mampu beraktivitas produktif dapat diberi ruang agar tetap memberi dampak bagi lingkungan sekitar, meski sudah memasuki usia lanjut.

"Yang dalam kategori produktif tentu bisa ada kegiatan yang bermanfaat, yang berdampak, yang kita sebut dengan kapitalisasi demografi. Yang paling penting hari ini adalah karena aging population kita itu hampir 12 persen, sehingga bagaimana 12 persen itu tetap ada aktivitas yang produktif," papar Mendukbangga.

Dukungan Sosial Lansia

Ia juga mencontohkan, masih banyak warga usia 60 sampai 74 tahun yang tetap dapat beraktivitas, baik melalui usaha kecil, kegiatan sosial, pekerjaan di lembaga, yayasan, pasar, maupun aktivitas jualan daring.

"Maka tadi saya tanya, apa aktivitasnya? Ada yang masih jualan, itu bagian dari bonus demografi. Ada yang mungkin kerja di lembaga tertentu, ada di yayasan, ada yang di pasar, ada juga yang masih jualan online," tuturnya.

Selain kewirausahaan, pemerintah juga memperkuat ekosistem perawatan dan dukungan sosial bagi lansia. Sebelimnya, Kemendukbangga/BKKBN dikabarkan sudah memperkuat care economy berbasis komunitas melalui Program Sidaya. Program ini mencakup sekolah lansia, pendampingan perawatan jangka panjang, edukasi lintas generasi, serta penguatan kepedulian masyarakat terhadap lansia yang tinggal sendiri.

Pendekatan tersebut penting karena kesepian pada lansia dapat berdampak pada kesehatan mental dan meningkatkan risiko depresi. Sekolah Lansia didorong menjadi ruang interaksi sosial agar lansia tetap aktif, sehat, dan produktif. Saat ini, terdapat 3.051 Sekolah Lansia di seluruh Indonesia yang menjadi salah satu instrumen pemerintah menghadapi populasi menua dan bonus demografi kedua.

Di sejumlah daerah, pemberdayaan ekonomi lansia juga mulai diperkuat. Pemerintah Kota Ambon, misalnya, membuka ruang pemberdayaan ekonomi bagi lansia produktif sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian warga senior.

“Pemkot Ambon membuka ruang bagi para lansia yang masih aktif melalui program pemberdayaan dan dukungan terhadap pelaku usaha mikro di usia senja. Dengan begitu, produktivitas mereka tetap terjaga dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar,” kata Wali Kota Ambon Bodewin M Wattimena.

Bodewin juga menegaskan, perhatian terhadap lansia tidak boleh berhenti pada pelayanan kesehatan. Pemerintah daerah perlu menyediakan program yang membuat lansia tetap aktif dan dapat berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

“Hari Lanjut Usia Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukan bagi para lansia dan apa yang masih perlu ditingkatkan ke depan,” ujar dia.

Dalam konteks nasional, BKKBN juga sedang merumuskan Kartu Lansia untuk memperluas akses lansia terhadap berbagai layanan dan keringanan. Wihaji mengatakan program tersebut masih dibahas karena perlu disesuaikan dengan kondisi daerah dan kemampuan pembiayaan masing-masing pemerintah daerah.

"Kartu Lansia kita lagi dirumuskan, memang agak rumit. Walaupun sudah ada yang jalan, seperti DKI Jakarta, kan saya kira sudah jalan. Ada kabupaten/kota yang jalan karena mereka mengintegrasikan dengan program pemerintah daerah, sehingga langsung dikasih kartu lansia, cuma modelnya macam-macam," tutur Wihaji.

Menurut Wihaji, program kartu tersebut dapat membantu lansia mengakses berbagai fasilitas, termasuk diskon transportasi umum. Ia menyebut Kemendukbangga/BKKBN terus menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak agar beban lansia dapat diringankan.

"Minimal dengan Menteri Perhubungan sudah jalan, karena ada diskon 20 persen dari Kementerian Perhubungan. Itu bagian dari program bersama yang saya kira untuk meringankan beban, khususnya lansia, tapi kita sementara menginisiasi, kalau memang ada kemampuan keuangan daerah, silakan. Kalau enggak, tentu kita carikan jalan," paparnya.

Melihat berbagai program tersebut, Lansia Entrepreneur dapat dibaca sebagai salah satu cara mengubah paradigma tentang masa tua. Lansia tidak hanya ditempatkan sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi juga sebagai warga yang tetap memiliki pengalaman, jejaring sosial, keterampilan, dan potensi ekonomi.

Namun, keberhasilan program ini tetap bergantung pada kesinambungan pendampingan. Pelatihan kewirausahaan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik, minat, dan kemampuan lansia. Produk yang dibuat juga perlu dibantu dari sisi pemasaran, kemasan, akses pasar, hingga dukungan keluarga agar usaha tidak berhenti setelah kegiatan seremonial selesai.

Program seperti Sekolah Lansia dan Lansia Entrepreneur juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah pusat dapat menyiapkan kerangka program, pemerintah daerah menyediakan ruang dan dukungan anggaran, komunitas menjadi penggerak, sementara keluarga memastikan lansia tetap mendapat dukungan emosional di rumah.

Dengan jumlah lansia yang terus bertambah, Indonesia membutuhkan kebijakan yang tidak hanya fokus pada perawatan, tetapi juga pemberdayaan. Lansia yang sehat, aktif, dan produktif dapat menjadi bagian dari kekuatan sosial masyarakat, bukan sekadar kelompok rentan yang dianggap sebagai beban.

Melalui Lansia Entrepreneur, BKKBN mencoba membuka ruang agar masa tua tetap bermakna. Di Kota Bekasi, antusiasme ribuan peserta Sekolah Lansia menjadi sinyal bahwa banyak lansia masih ingin belajar, berkarya, dan terlibat. Tantangannya kini adalah memastikan semangat itu mendapat dukungan program yang berkelanjutan, bukan hanya panggung sesaat.