Periskop.id - Kabupaten Wonogiri kini resmi menyandang status baru dalam peta kuliner nasional. Pada acara pembukaan Festival Mie Ayam Bakso Wonogiri Tahun 2026 yang berlangsung hari Jumat (3/7), Bupati Wonogiri Setyo Sukarno secara terbuka mendeklarasikan wilayahnya sebagai Ibu Kota Mie Ayam Bakso. 

Dikutip dari laman resmi Humas Polri, perhelatan akbar tersebut diselenggarakan selama dua hari berturut-turut, yaitu pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 3 sampai 4 Juli 2026.

Dalam pidato pembukaannya, Setyo menekankan bahwa mi ayam dan bakso bukan lagi sekadar makanan pengisi perut. Kedua hidangan ini telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi utama bagi masyarakat setempat karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. 

Lebih dari itu, mi ayam dan bakso juga telah melekat kuat sebagai identitas kuliner khas yang membanggakan bagi Kabupaten Wonogiri.

Kemeriahan acara tersebut semakin lengkap dengan pencapaian sejarah baru. Festival Mie Ayam Bakso Wonogiri tahun ini berhasil mencatatkan namanya di Rekor MURI. 

Penghargaan prestisius tersebut diraih setelah panitia sukses menyajikan sebanyak 5.555 porsi mi ayam bakso secara gratis kepada para pengunjung yang hadir.

Fenomena Ekonomi dan Kekuatan Budaya Kuliner

Eksistensi bakso dari daerah ini memang tidak dapat dipandang sebelah mata. Bakso Wonogiri, termasuk mi ayam, telah berkembang menjadi sebuah fenomena ekonomi dan budaya yang sangat luar biasa di Indonesia. Popularitas kuliner ini sudah sedemikian besar di tengah masyarakat luas.

Dampak dari ketenaran tersebut terlihat dari menjamurnya warung makan di berbagai daerah. Ribuan warung bakso di seluruh penjuru Indonesia sengaja menyematkan kata Wonogiri pada papan nama usaha mereka demi menarik minat para pelanggan. 

Menariknya, strategi pemasaran ini tetap digunakan meskipun pemilik warung tersebut sebenarnya belum tentu berasal dari Kabupaten Wonogiri.

Jejak Sejarah Bakso Pak Min dan Tradisi Diaspora

Sejarah panjang dan melekatnya identitas mi ayam serta bakso dengan Wonogiri tentu tidak terjadi begitu saja. Salah satu tonggak sejarahnya digerakkan oleh warung bakso legendaris bernama Bakso Pak Min. 

Melansir Disarpus Kabupaten Wonogiri, sosok Pak Min dikenal luas sebagai salah satu pelopor yang berhasil membawa dan memperkenalkan cita rasa khas bakso Wonogiri ke panggung kuliner nasional. Berawal dari perintisan tersebut, kini Bakso Pak Min telah berkembang pesat dan memiliki banyak cabang yang tersebar di luar kota.

Selain faktor ketokohan, ada fenomena sosial unik yang ikut memperkuat citra ini, yaitu pergerakan diaspora para pedagang. Banyak warga perantau asal Wonogiri yang memutuskan untuk mengadu nasib di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Yogyakarta. 

Mayoritas dari para perantau ini berasal dari beberapa kecamatan tertentu, di antaranya adalah Kecamatan Sidoharjo, Kecamatan Jatipurno, dan Kecamatan Slogohimo.

Kemampuan para perantau ini dalam mengolah bakso didapatkan dari pengalaman keluarga yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Berbekal keahlian otentik dan resep warisan leluhur tersebut, para pelaku usaha diaspora ini tidak hanya bertahan hidup di tanah rantau, melainkan berhasil bertransformasi menjadi jajaran pengusaha kuliner yang sukses.