Periskop.id - Seruan mengenai keinginan untuk ‘diratukan’ belakangan ini terdengar sangat manis di telinga perempuan muda. 

Fenomena ini seolah menjadi tanda bahwa perempuan masa kini mulai menyadari betapa berharganya diri mereka. Kaum hawa tak lagi mau diperlakukan seadanya, enggan terus-menerus berjuang sendirian dalam sebuah hubungan, dan mendambakan bentuk cinta yang dipenuhi dengan perhatian penuh.

Di satu sisi, keinginan untuk dihargai, didengar, diprioritaskan, serta diperlakukan dengan lembut oleh pasangan adalah hal yang sepenuhnya valid. 

Namun, di sisi lain, ada sebuah realitas tersembunyi yang perlu dipahami secara mendalam oleh para perempuan muda, bahwa tak semua hal yang dikemas secara romantis benar-benar memberikan kebebasan bagi perempuan.

Kadang kala, keinginan kuat untuk mendapatkan princess treatment saat pacaran justru menjadi bentuk lain dari patriarki yang hadir secara halus. Pola ini tak datang dengan larangan yang keras, melainkan dikemas dengan kenyamanan yang sangat memanjakan. 

Melalui pendekatan ini, perempuan seolah diberikan kemudahan untuk tak perlu memikirkan apa pun atau mengambil beban berat karena semua hal telah diatur oleh laki-laki. 

Kondisi yang terlihat manis tersebut nyatanya berisiko menempatkan kembali posisi perempuan sebagai sosok rapuh yang harus dilindungi, ditanggung, dipuja, sekaligus diarahkan oleh laki-laki.

Ketika Kenyamanan Romantis Mengaburkan Esensi Kesetaraan Gender

Banyak perempuan dari generasi muda saat ini secara tegas menolak budaya patriarki. Mereka menolak diatur secara sepihak, enggan dianggap kurang rasional, serta enggan dinilai tak pantas memiliki ambisi besar. 

Mayoritas perempuan masa kini berjuang untuk memiliki karier yang cemerlang, kemandirian finansial, hak mengambil keputusan sendiri, serta ruang hidup yang bebas dari dikte standar orang lain.

Namun, sebuah kontradiksi menarik sering kali terjadi di dalam ruang romantis. Sebagian perempuan tanpa sadar menerima kembali pola-pola patriarki ketika hal tersebut dirasa memberikan keuntungan pribadi. 

Contoh nyata dari fenomena ini adalah asumsi bahwa laki-laki harus selalu membiayai segala hal, selalu menjemput, selalu mengambil keputusan penting, serta memosisikan diri sebagai pelindung yang lebih kuat, sementara perempuan cukup menjadi pihak yang menerima perlakuan istimewa tersebut.

Di sinilah sinyal peringatan itu muncul karena patriarki tak selalu berwujud penindasan yang kasat mata, melainkan sering kali tampil dalam bentuk kenyamanan romantis. 

Berdasarkan penjelasan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gender mencakup norma, perilaku, peran, serta relasi yang dikonstruksi secara sosial antara perempuan, laki-laki, anak perempuan, dan anak laki-laki. 

Dengan demikian, ketika sebuah hubungan pacaran masih dibangun di atas pembagian peran yang kaku di mana laki-laki harus selalu memimpin dan perempuan harus selalu dirawat, maka hubungan tersebut pada dasarnya masih bergerak dalam pola gender tradisional yang dibentuk oleh masyarakat, bukan murni atas dasar pilihan cinta yang setara.

Mengenal Wajah Lain Patriarki Melalui Benevolent Sexism

Sering kali perempuan membayangkan patriarki sebagai sesuatu yang kasar, seperti larangan bekerja dari pasangan, meremehkan kecerdasan, hingga kontrol ketat terhadap pakaian serta pergaulan. 

Padahal, patriarki juga memiliki wajah yang tampak sangat baik hati. Pola ini kerap muncul melalui kalimat-kalimat manis seperti permintaan agar perempuan diam saja dan tak usah memikirkan urusan berat karena semuanya akan diatur oleh laki-laki.

Dalam kajian psikologi sosial, fenomena ini sangat dekat dengan konsep benevolent sexism atau seksisme yang tampak baik hati. 

Kajian yang dilakukan oleh Barreto dan Doyle pada 2022 dalam artikel jurnal berjudul “Benevolent and Hostile Sexism in A Shifting Global Context” menjelaskan bahwa benevolent sexism sering kali menggambarkan relasi gender sebagai sesuatu yang saling melengkapi. 

Kendati demikian, pola ini tetap menempatkan laki-laki sebagai pihak yang wajib memberikan perlindungan dan keamanan, sedangkan perempuan diletakkan pada peran yang merawat dan lembut.

Sejalan dengan hal tersebut, Glick dan Fiske dalam studi berjudul “Hostile and Benevolent Sexism” pada 1997 juga memasukkan gagasan bahwa perempuan harus dihargai dan dilindungi oleh laki-laki sebagai salah satu contoh dari benevolent sexism

Masalah utamanya bukan terletak pada tindakan menghargai perempuan, melainkan ketika penghargaan tersebut dibangun di atas asumsi dasar bahwa perempuan adalah sosok yang rapuh, perlu dituntun, dan tak sepenuhnya berdiri sebagai subjek yang setara di hadapan pasangannya.

Kenapa Ingin Diratukan Bisa Melanggengkan Patriarki?

Keinginan untuk diratukan berpotensi melanggengkan patriarki ketika perempuan hanya menolak sistem tersebut pada bagian yang merugikan, namun tetap mempertahankan bagian yang memberikan hak istimewa (privilege) secara romantis. 

Sebagai contoh, seorang perempuan mungkin menolak saat diminta untuk patuh, tetapi di sisi lain tetap menuntut laki-laki untuk menjadi pengambil keputusan utama dan selalu menjadi penyelamat hidupnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa yang ditolak sebenarnya bukanlah struktur patriarkinya secara utuh, melainkan hanya bagian yang terasa tak nyaman.

Mengenai permasalahan ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) pernah menyatakan bahwa budaya patriarki merupakan salah satu kendala terbesar dalam mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia. 

Dalam kesempatan lain, KemenPPPA juga menekankan bahwa ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan berdampak langsung pada kesenjangan akses, tingkat partisipasi, kontrol, serta penerimaan manfaat dalam pembangunan. 

Hal ini menegaskan bahwa patriarki bukan sekadar persoalan siapa yang berhak bekerja atau bersekolah, melainkan juga mencakup siapa yang dianggap berhak memimpin, siapa yang harus mengikuti, siapa yang dinilai kuat, siapa yang harus ditanggung, serta siapa yang memegang kontrol lebih besar dalam sebuah hubungan personal.

Yang Terlihat Melindungi Bisa Berubah Jadi Mengontrol

Pada dasarnya, tak semua bentuk perlindungan dalam hubungan adalah hal yang salah karena dalam relasi yang sehat, sepasang kekasih memang sudah sepatutnya saling menjaga satu sama lain. 

Perempuan tentu boleh dibantu, dijemput, atau diberi hadiah, begitu pula laki-laki yang juga berhak untuk dirawat, didengar, dan didukung. Masalah baru akan muncul ketika tindakan perlindungan tersebut perlahan-lahan berubah menjadi sebuah kontrol yang membatasi ruang gerak perempuan.

Perubahan ini sering kali terjadi secara halus, dimulai dari kekhawatiran tentang jam pulang malam yang kemudian berkembang menjadi larangan pergi tanpa didampingi oleh pasangan. Pola pengondisian ini diperkuat oleh hasil penelitian Alba dkk., pada 2024 yang berjudul “Women’s Experiences of Benevolent Sexism in Intimate Relationships With Men Are Associated With Costs and Benefits for Personal and Relationship Wellbeing”.

Penelitian tersebut menemukan bahwa protective paternalism, yaitu sebuah pola di mana laki-laki merasa wajib melindungi dan menyediakan seluruh kebutuhan perempuan, berkaitan erat dengan munculnya perasaan bahwa pasangan sedang merendahkan secara halus dan membuat perempuan merasa kurang mampu. 

Selain itu, pola hubungan seperti ini juga berhubungan langsung dengan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi serta penurunan kepuasan dalam menjalani hubungan. Hal ini menjadi catatan penting bagi perempuan muda karena perhatian yang awalnya terasa sangat manis bisa berubah menjadi pola yang membuat eksistensi perempuan semakin mengecil dalam hubungannya sendiri.

Relasi Sehat Bukan tentang Siapa Yang Jadi Ratu

Hubungan yang sehat dan dewasa pada dasarnya tak perlu menempatkan salah satu pihak sebagai ratu dan pihak lainnya sebagai pelayan yang harus terus-menerus membuktikan diri. 

Relasi yang ideal adalah relasi yang berjalan secara dua arah atau saling, seperti saling mendengar, saling menjaga, saling berbagi beban finansial sesuai kemampuan, saling mengambil keputusan penting, serta saling memberikan ruang untuk bertumbuh bersama.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri secara global telah menyebutkan bahwa kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi manusia yang sangat penting demi terciptanya masyarakat yang damai, perwujudan potensi manusia yang utuh, serta keberlanjutan pembangunan. 

Dalam konteks hubungan personal, prinsip dasar ini dapat diterjemahkan menjadi sebuah relasi yang tak menempatkan salah satu pihak berada di posisi yang lebih tinggi hanya berdasarkan faktor gender semata. 

Oleh karena itu, pertanyaan utama yang perlu diajukan dalam sebuah hubungan bukanlah apakah pasangan telah meratukanmu, melainkan apakah ia telah menghargaimu sebagai manusia yang setara.

Kesadaran ini menjadi langkah yang sangat krusial bagi perempuan muda. Menjadi sadar bukan berarti menyalahkan diri sendiri, melainkan sebuah bentuk rasa sayang dan proteksi terhadap keutuhan diri. 

Konsep diratukan memang terasa sangat menggoda karena banyak perempuan tumbuh dalam budaya yang menuntut mereka untuk selalu kuat, namun di saat yang sama diajarkan bahwa validasi tertinggi adalah ketika ada laki-laki yang menanggung hidup mereka.

Meskipun diratukan mampu memberikan perasaan istimewa, namun disetarakan adalah hal yang membuat perempuan tetap utuh sebagai individu. 

Saat disetarakan, perempuan tak hanya diberikan hadiah materi, tetapi juga didengar opininya, dipercaya kapasitasnya, dihargai isi pikirannya, serta dilibatkan dalam diskusi masa depan secara jujur tanpa harus bergantung pada kuasa laki-laki. 

Cinta yang sehat adalah cinta yang membebaskan dua orang untuk sama-sama menjadi dewasa, bertanggung jawab, dan merdeka menjadi manusia seutuhnya.