periskop.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap praktik pengelolaan ekonomi lama yang dinilai mengorbankan kesejahteraan rakyat.
Ia menyoroti sistem masa lalu yang terus mengekspor sumber daya alam secara mentah. Imbasnya, nilai tambah dari kekayaan tersebut justru lebih banyak dinikmati oleh negara lain.
"Terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri," tegasnya saat memberikan amanat pada Peringatan Hari Lahir Pancasila di Jakarta pada Senin (1/6).
Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar berbagai komoditas strategis dunia. Ia menyebut negara ini memiliki cadangan melimpah untuk komoditas nikel, tembaga, timah, hingga emas.
Prabowo berpandangan kekayaan alam bernilai tinggi tersebut seharusnya bisa dikelola secara mandiri di dalam negeri. Pengelolaan yang tepat akan memberikan dampak langsung bagi kemakmuran masyarakat lokal.
"Terlalu lama sebagian keuntungan dari sumber daya alam mengalir ke luar negeri dan tidak tinggal di ibu pertiwi," lanjutnya.
Ia menyadari proses transformasi untuk memperbaiki sistem ekonomi ini tidak akan berjalan mulus. Berbagai tantangan berat dipastikan menghadang langkah perbaikan pemerintah ke depan.
Prabowo memprediksi perlawanan akan datang dari kelompok koruptor, penyelundup, maupun pelaku ekonomi ilegal. Ia menilai mereka selama ini sangat diuntungkan oleh kelemahan sistem lama tersebut.
"Kita harus berani ambil keputusan yang benar walaupun sulit," pungkasnya.
Kritik terhadap sistem ekonomi masa lalu ini disampaikan dalam peringatan 81 tahun hari lahirnya Pancasila. Peringatan tersebut menjadi momentum deklarasi transformasi bangsa.
Pemerintah kini fokus mendorong hilirisasi industri dan menghentikan kebiasaan ekspor bahan mentah. Langkah strategis ini bertujuan mewujudkan cita-cita ekonomi Pancasila yang merata bagi seluruh masyarakat.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar