periskop.id – Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal meminta Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia segera memperkuat koordinasi guna menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Langkah sinergi kebijakan fiskal serta moneter itu dinilai krusial demi menjaga stabilitas ekonomi nasional dari tekanan pasar keuangan global.
“DPR merekomendasikan kepada pemerintah terutama Kementerian Keuangan untuk segera melakukan konsolidasi fiskal dan moneter dengan Bank Indonesia,” kata Cucun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6).
Pemerintah bersama BI dinilai mempunyai pengalaman panjang mengelola gejolak nilai tukar lewat beragam instrumen kebijakan.
Menurutnya, langkah antisipatif harus berjalan cepat agar penurunan nilai mata uang tidak meluas ke sektor ekonomi lain.
Bank Indonesia memiliki sejumlah instrumen operasional penentu stabilitas mata uang. Otoritas moneter ini biasa bergerak lewat operasi pasar dan intervensi langsung.
Namun, efektivitas instrumen moneter tersebut tetap membutuhkan sokongan kuat kebijakan fiskal pemerintah. Kedua lini harus berjalan beriringan secara harmonis.
“Kita sudah memahami dari tahun ke tahun bagaimana intervensi Bank Indonesia melakukan operasi moneter ketika terjadi fluktuasi rupiah. Yang penting sekarang konsolidasi fiskal dan moneter itu segera dilakukan,” katanya.
Legislator Fraksi PKB ini melihat momentum pengesahan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) sebagai modal berharga. Regulasi baru tersebut memfasilitasi banyak skema mutakhir dalam mengontrol dinamika pasar.
Aturan hukum ini diyakini memberi ruang gerak lebih luas bagi otoritas keuangan. Pemerintah dapat melahirkan berbagai kreasi kebijakan penahan laju depresiasi rupiah.
“Undang-Undang P2SK sudah diputus. Itu bisa menjadi dasar untuk melakukan berbagai skema dan kreasi dalam menahan laju pergerakan nilai tukar ini,” ujarnya.
Pemerintah tidak boleh membiarkan pasar bergerak liar tanpa kepastian arah. Kejelasan sikap serta kekompakan instansi menjadi kunci utama menjaga kepercayaan pelaku usaha.
Kepercayaan investor global juga sangat bergantung pada ketegasan kebijakan domestik. Oleh karena itu, kepastian regulasi sangat dinantikan pasar saat ini.
BI dapat memanfaatkan cadangan devisa untuk melakukan intervensi pasar jika situasi mendesak. Otoritas moneter memiliki kewenangan penuh eksekusi kebijakan tersebut.
Kombinasi kebijakan yang presisi diyakini mampu mengembalikan kekuatan mata uang garuda. Stabilitas nilai tukar optimis bisa diraih kembali.
“Kalau konsolidasi sudah dilakukan, biasanya BI yang melakukan intervensi. Kalau cadangan devisanya masih kuat, tentu itu bisa dilakukan untuk menjaga stabilitas,” paparnya.
Presiden Prabowo Subianto diharapkan ikut mendorong percepatan komunikasi lintas sektoral ini. Dorongan kepala negara akan membuat respons pemerintah lebih cepat dan taktis.
Efektivitas penanganan krisis ekonomi sangat bergantung pada kecepatan koordinasi awal. Ego sektoral antarlembaga harus dikesampingkan demi kepentingan nasional.
“Sekarang yang harus dilakukan segera adalah konsolidasi. Mau siapa yang memulai, Menteri Keuangan atau Bank Indonesia, yang penting langkah itu segera dilakukan untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah,” tegas Cucun.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar