periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi isu pelemahan daya beli masyarakat yang belakangan mencuat, menyusul laporan penurunan penjualan di sejumlah warung makan atau warteg.
Purbaya meminta publik berhati-hati dalam menyimpulkan kondisi daya beli masyarakat hanya berdasarkan temuan di sejumlah warung tegal (warteg). Menurutnya, kondisi beberapa warteg yang mengalami penurunan pembeli belum tentu mencerminkan keadaan perekonomian secara keseluruhan.
Purbaya menilai banyak faktor yang dapat memengaruhi kinerja sebuah warteg, mulai dari persaingan usaha hingga perpindahan konsumen ke lokasi lain. Karena itu, ia menegaskan pentingnya melihat data yang lebih luas dan representatif sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi daya beli masyarakat.
"Hal itu mungkin saja terjadi, tapi sampelnya berapa warteg yang Anda lihat?” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Jumat (5/6).
Ia menilai, temuan sejumlah warteg yang mengalami penurunan penjualan tidak bisa langsung digeneralisasi. Menurutnya, bisa saja ada beberapa warteg yang kondisinya kurang baik, namun hal itu disebabkan oleh persaingan usaha, di mana konsumen berpindah ke tempat yang dinilai lebih baik.
“Itu yang harus kita hati-hati. Saya akan investigasi apakah benar seperti itu, karena saya baru dengar sekarang. Mungkin juga hanya warteg di tempat Anda saja," kata Purbaya.
Meski demikian, ia mengaku akan menindaklanjuti informasi tersebut untuk memastikan apakah memang terdapat indikasi perlambatan konsumsi masyarakat di lapangan. Jika ditemukan tanda-tanda pelemahan daya beli, pemerintah siap mempertimbangkan langkah stimulus tambahan guna menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Nanti saya cek lagi, tapi harus hati-hati ya kalau asosiasi kan namanya juga pedagang, ingin sesuatu, kita harus hati-hati,” tambahnya.
Ia menilai, meski ada klaim dari asosiasi, sejumlah indikator ekonomi justru menunjukkan kondisi yang masih solid.
Menurutnya, data agregat memperlihatkan pertumbuhan yang kuat, termasuk dari sisi belanja dan indeks ritel seperti yang tercermin dari data perbankan. Ia juga menyebut akan melakukan investigasi lebih lanjut dan membuka kemungkinan penambahan stimulus jika memang diperlukan untuk menjaga perekonomian.
Menurut Purbaya, sejumlah indikator makroekonomi hingga saat ini masih menunjukkan tren yang positif. Aktivitas belanja masyarakat dan konsumsi rumah tangga, kata dia, masih tumbuh dengan baik berdasarkan berbagai data yang dimiliki pemerintah maupun sektor perbankan.
Ia juga mencontohkan bahwa kondisi di lapangan tidak selalu seragam. Oleh karena itu, pemerintah mengandalkan data resmi yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi perekonomian nasional.
"Hati-hati melihat data satu tempat belum tentu mengamarkan semuanya, makanya kita punya BPS, Badan Pusat Statistik untuk menangkap data-data seperti itu sehingga melihat pertumbuhan ekonomi secara agregat atau secara lebih akurat," tutupnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar