periskop.id - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,50% yang diikuti lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dinilai semakin menekan kondisi ekonomi kelas menengah Indonesia.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai, kelompok kelas menengah kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari berbagai kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah dan otoritas moneter.
"Bagi sebagian pengambil kebijakan, angka ini mungkin hanya deretan statistik di layar rapat. Akan tetapi bagi kelas menengah, itu adalah cicilan rumah yang makin mahal, cicilan kendaraan yang makin berat, biaya antar jemput anak yang naik, ongkos bekerja yang membengkak, dan tabungan yang makin cepat terkuras," kata Achmad dalam keterangan yang diterima, Jakarta, Rabu (10/9).
Menurutnya, bagi kelas menengah, kenaikan suku bunga dan harga BBM nonsubsidi bukan sekadar angka statistik. Dampaknya langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari melalui meningkatnya beban cicilan, biaya transportasi, hingga pengeluaran rumah tangga.
Achmad menilai selama ini kelas menengah kerap menjadi penyangga berbagai kebijakan ekonomi. Ketika pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, suku bunga dinaikkan. Sementara saat harga energi disesuaikan, kelompok pengguna BBM nonsubsidi yang mayoritas berasal dari kelas menengah harus menanggung dampaknya.
"Indonesia tidak bisa terus meratapi turunnya kelas menengah sambil membiarkan kebijakan ekonomi bekerja seperti mesin pemeras daya beli. Kelas menengah bukan sekadar kelompok pendapatan," tegasnya.
Ia mengingatkan, kelas menengah memiliki peran strategis sebagai motor konsumsi domestik, pembayar pajak, penyerap kredit perbankan, serta penggerak aktivitas ekonomi nasional. Karena itu, tekanan terhadap kelompok ini berpotensi berdampak pada perekonomian secara lebih luas.
"Mereka adalah fondasi pasar domestik, pembayar pajak, penyerap kredit perbankan, pengguna transportasi, pembeli rumah, pembayar pendidikan, dan penggerak konsumsi. Jika kelas ini rapuh, ekonomi nasional akan kehilangan penyangga utamanya," terang Achmad.
Ia menambahkan, kombinasi kenaikan suku bunga dan harga Pertamax menciptakan tekanan ganda terhadap daya beli masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Pada akhirnya, yang ditakutkan bukan hanya jembatan itu runtuh, tetapi seluruh arus ekonomi ikut tersendat," tutup Achmad.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar