Periskop.id - PT Freeport Indonesia menargetkan tambang bawah tanah Kucing Liar di Mimika, Papua Tengah, mulai beroperasi pada 2029. Target ini mundur satu tahun dari rencana awal yang sempat dipatok pada 2028.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan, tambang Kucing Liar nantinya bakal menggantikan tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang produksinya terus menurun.
"Tahun 2029 juga direncanakan bahwa tambang yang sedang kami kembangkan sekarang, yaitu tambang Kucing Liar, akan mulai bisa ditambang," ujar Tony dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII di DPR RI, Jakarta, Selasa (14/7).
Berdasarkan laman resmi PT Freeport Indonesia, tambang bawah tanah Kucing Liar diperkirakan menghasilkan lebih dari 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas sepanjang periode 2029 hingga akhir 2041.
Pada tingkat operasi penuh, produksi tahunan dari tambang tersebut diperkirakan mencapai sekitar 560 juta pon tembaga dan 520 ribu ons emas per tahun.
Mundurnya jadwal operasi Kucing Liar dari 2028 ke 2029 dipicu insiden longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025. Tony mengungkapkan kejadian itu dalam RDP sebelumnya sebagai penyebab utama penundaan.
Freeport Indonesia sendiri sudah memulai kegiatan pengembangan tambang jangka panjang untuk Kucing Liar sejak Oktober 2021. Perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Freeport setelah 2041 ditargetkan bisa memperpanjang umur proyek tersebut.
Nota kesepahaman (MoU) soal perpanjangan IUPK PTFI diteken oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani, President & CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk, dan Tony Wenas di Gedung U.S. Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2).
Lewat MoU tersebut, pemerintah, FCX, dan PTFI menyepakati enam poin. IUPK Freeport akan diubah untuk memberikan perpanjangan hak operasi selama umur cadangan, sementara PTFI berkomitmen meningkatkan dukungan bagi masyarakat Papua lewat pendanaan rumah sakit baru dan dua fasilitas pendidikan medis.
PTFI juga akan menambah belanja eksplorasi serta mempercepat studi untuk mengidentifikasi sumber daya jangka panjang dan peluang ekspansi. Hilirisasi di dalam negeri tetap jadi prioritas lewat penjualan domestik tembaga olahan, logam mulia, asam sulfat, dan produk turunan lainnya, dengan fleksibilitas ekspor tembaga olahan ke Amerika Serikat sesuai mekanisme pasar.
Pada 2041, FCX akan mengalihkan 12% saham kepemilikannya di PTFI kepada pemerintah tanpa biaya, dengan ketentuan pihak penerima mengganti biaya proporsional sesuai nilai buku investasi yang bermanfaat setelah 2041. FCX sendiri akan mempertahankan 48,76% saham hingga 2041, lalu turun ke sekitar 37% mulai 2042.
"Sehingga kestabilan atau kelangsungan dari penambangan akan bisa dilanjutkan," kata Tony.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar