Periskop.id - Bank Indonesia memproyeksikan kinerja penjualan eceran nasional melemah pada Juni 2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) diperkirakan turun ke angka 221,6, dari 223,4 pada bulan sebelumnya.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menerangkan, penurunan itu tidak lantas mencerminkan kondisi yang mengkhawatirkan. Kinerja penjualan eceran dinilainya masih terjaga, ditopang pertumbuhan positif sejumlah kelompok barang secara tahunan.

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh mulainya periode libur sekolah pada akhir Juni 2026," ujar Denny dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7).

Dua kelompok barang mencatat pertumbuhan tahunan yang cukup kuat. Kelompok Suku Cadang dan Aksesori tumbuh 11,0% year on year (YoY) dengan indeks 145,5, sementara Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya naik 1,8% YoY dengan indeks 83,8.

Di sisi lain, beberapa kelompok justru diperkirakan masuk zona kontraksi secara tahunan. Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi terkontraksi 8,5% YoY dengan indeks 56,4, sedangkan Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor terkontraksi 7,8% YoY dengan indeks 103,5.

Denny menyebutkan, kedua kelompok tersebut sebelumnya masih mencatat pertumbuhan tipis. Pada periode sebelumnya, Barang Budaya dan Rekreasi tumbuh 0,2% YoY, dan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor tumbuh 0,3% YoY.

Secara bulanan, penjualan eceran Juni 2026 diproyeksi terkoreksi 0,8% month to month (mtm). Angka itu lebih baik dibanding periode sebelumnya yang turun 1,5% mtm.

Perbaikan kinerja bulanan itu ditopang oleh kenaikan penjualan Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya sebesar 1,9% mtm dan Subkelompok Sandang 4,7% mtm, seiring masuknya musim liburan sekolah. Sementara Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau terkontraksi 0,7% mtm, meski membaik dari periode sebelumnya.

Dari sisi kota, pertumbuhan tahunan tertinggi tercatat di Manado dengan indeks 177,1, tumbuh 15,1% YoY, disusul Semarang termasuk Purwokerto dengan indeks 74,1 yang tumbuh 10,7% YoY, dan Jakarta dengan indeks 52,7 tumbuh 8,9% YoY.

Secara bulanan, Surabaya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,6% mtm, diikuti Semarang termasuk Purwokerto 1,3% mtm, Medan 0,9% mtm, dan Denpasar 0,4% mtm. Sementara itu, Bandung masih tertekan paling dalam dengan kontraksi 18,7% mtm, disusul Jakarta 3,6% mtm, dan Manado 2,9% mtm.