Periskop.id - Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook Stabil.

Keputusan itu menegaskan Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade di tengah tekanan ekonomi global.

Afirmasi tersebut diumumkan melalui publikasi Research Update bertajuk Indonesia Ratings Affirmed At 'BBB/A-2'; Outlook Stable.

Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, keputusan tersebut mencerminkan kepercayaan komunitas internasional terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

"Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook Stabil merupakan pengakuan atas konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Pemerintah. Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5%, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3% PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid," ujar Menko Airlangga, Senin (13/07).

Dalam laporannya, S&P menilai peringkat Indonesia didukung prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Menurut lembaga tersebut, kebijakan makroekonomi yang prudent serta beban utang eksternal neto dan utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara sekelas turut menopang peringkat tersebut.

S&P juga memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 5% per tahun dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pertumbuhan riil diperkirakan mencapai 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% selama periode 2026–2029.

Menurut laporan S&P, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6% (yoy) pada Triwulan I-2026 menjadi salah satu faktor pendukung. Kinerja tersebut disebut didorong oleh peningkatan belanja pemerintah serta percepatan pencairan anggaran.

Selain itu, S&P memperkirakan PDB per kapita Indonesia berada di kisaran US$5.200 pada 2026. Proyeksi tersebut dinilai sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga.

S&P juga menyebut peluang kenaikan peringkat tetap terbuka apabila indikator fiskal dan eksternal mengalami penguatan. Menurut lembaga tersebut, kondisi itu dapat dicapai melalui penyempitan defisit anggaran mendekati 2% PDB, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.

Airlangga mengatakan pemerintah akan terus meningkatkan kualitas dan prediktabilitas pelaksanaan kebijakan untuk menjaga kepercayaan pasar.

Upaya tersebut, menurutnya, dilakukan bersamaan dengan penguatan transformasi ekonomi melalui hilirisasi, tata kelola devisa hasil ekspor, dan peningkatan produktivitas.

"Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi, penguatan tata kelola devisa hasil ekspor, dan peningkatan produktivitas. Konsistensi dan prediktabilitas kebijakan akan menjadi kunci untuk mendorong peringkat Indonesia naik ke level yang lebih tinggi," pungkas Menko Airlangga.