Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz menyusul kembali meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Hal tersebut terjadi lantaran adanya serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah titik pertahanan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
"Ya kan kita monitor saja, kan setiap minggu up and down," kata Airlangga kepada media di Jakarta, Senin (13/7).
Menurutnya, dinamika di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak dunia, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama distribusi energi global.
"Harga minyak tergantung selat," jelasnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pemerintah menyiapkan insentif tambahan apabila ketegangan kembali mendorong kenaikan harga minyak, Airlangga tidak memberikan penjelasan lebih lanjut dan hanya merespons dengan isyarat jempol.
Sebagai informasi, militer Amerika Serikat menggempur sekitar 90 titik pertahanan Iran pada Rabu (8/7), dalam salah satu gelombang serangan terbesar ke negara tersebut. Pusat Komando AS (CENTCOM) mengumumkan operasi itu sehari kemudian, pada Kamis (9/7).
Serangan difokuskan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengancam kapal-kapal komersial dan pelaut sipil di Selat Hormuz. Sejumlah infrastruktur vital menjadi sasaran, mulai dari sistem pertahanan udara, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, hingga aset angkatan laut serta logistik militer di sepanjang pesisir Iran.
"Pasukan AS menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengawasan pantai, lokasi penyimpanan rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta infrastruktur logistik militer di sepanjang pesisir Iran," demikian pernyataan CENTCOM melalui akun X resminya, Kamis (9/7).
Berdasarkan laporan Al Jazeera, serangan Rabu itu merupakan kelanjutan dari operasi ofensif yang sudah dilancarkan CENTCOM pada malam sebelumnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar