periskop.id - Periode mudik Lebaran yang membuat Jakarta cenderung sepi ternyata membawa tantangan tersendiri bagi penyedia jasa kelistrikan. PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya memproyeksikan adanya penurunan beban puncak listrik yang sangat drastis, mencapai 2.000 Megawatt (MW) selama periode Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
General Manager PLN UID Jakarta Raya, Andy Adchaminoerdin, menjelaskan bahwa konsumsi listrik Jakarta akan mengalami penurunan dibandingkan hari biasa. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang meninggalkan ibu kota menuju kampung halaman.
“Beban puncak Jakarta Raya malah turun, bukan naik. Saat ini beban puncak rata-rata lebih dari 5.000 MW. Namun pada saat Lebaran nanti, puncaknya bisa turun sekitar 2.000-an,” kata Andy di Gedung PLN, Jumat (13/3).
Meskipun konsumsi listrik merosot, PLN justru meningkatkan status kewaspadaan. Menurut Andy, kondisi beban rendah menuntut kesiagaan ekstra. Sebab, sistem kelistrikan yang biasanya terbiasa dengan beban tinggi harus menyesuaikan diri dengan perubahan drastis konsumsi masyarakat.
“Justru pada saat beban rendah ini kami lebih khawatir dan lebih siaga. Karena beban rendah, sementara selama ini kami terbiasa dengan beban tinggi. Tiba-tiba rendah, jadi kami siagakan penuh. Ada 17 unit yang kami siapkan dan tersebar,” jelasnya.
Untuk menjaga keandalan tersebut, PLN menyiagakan posko di kantor UID Jakarta Raya serta unit-unit lainnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Selain mengamankan pasokan di area perumahan yang ditinggal mudik, PLN juga memfokuskan layanan pada masyarakat yang melakukan perjalanan menggunakan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Sejumlah titik strategis telah disiapkan sebagai posko siaga SPKLU.
“Di beberapa titik SPKLU yang kemungkinan besar dilalui masyarakat, seperti di Gambir, Rest Area KM 10 dan KM 6, serta arah Bintaro, kami siapkan posko siaga SPKLU,” ungkap Andy.
Andy pun mengimbau pengguna mobil listrik agar tidak perlu merasa khawatir selama melakukan perjalanan mudik. PLN memastikan layanan bantuan selalu tersedia, baik melalui kanal komunikasi resmi maupun petugas di lapangan.
“Jadi kalau masyarakat menggunakan EV, tidak perlu khawatir. Bisa telepon ke hotline atau datang ke posko yang siaga di lokasi,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar