Periskop.id - Bareskrim Polri mulai menyelidiki penyebab pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat (22/5). Investigasi dilakukan setelah gangguan pada sistem transmisi listrik menyebabkan jutaan pelanggan PLN terdampak dan aktivitas masyarakat sempat lumpuh di berbagai daerah.
Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri bahkan telah menerjunkan tim langsung ke lokasi putusnya jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muara Jambi, Minggu.
"Tim polisi menyelidiki penyebab blackout yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera," kata Direktur Tipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol. Moh. Irhamni dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (24/5).
Penyelidikan dilakukan bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri dan PT PLN (Persero). Polisi membawa barang bukti berupa konduktor atau kabel penghantar listrik yang putus untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.
"Tim melakukan pengecekan ke lokasi hari ini. Bareng bukti berupa konduktor yang putus dibawa ke Puslabfor Bareskrim dan Litbang PLN untuk diperiksa lebih lanjut," ujar Irhamni.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menyebut belum menemukan indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan manusia dalam insiden tersebut. Dugaan sementara masih mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem yang memicu gangguan transmisi.
"Sejauh ini belum ditemukan indikasi kesengajaan manusia dalam putusnya konduktor itu," ungkapnya.
Blackout besar itu terjadi sejak Jumat malam sekitar pukul 18.44 WIB dan berdampak luas terhadap sistem kelistrikan Sumatera. PLN sebelumnya menyebut gangguan awal diduga berasal dari jaringan transmisi 275 kV Muaro Bungo–Sungai Rumbai di Jambi yang mengalami masalah saat cuaca buruk melanda kawasan tersebut.
Gangguan pada jalur transmisi utama itu kemudian memicu efek berantai pada sistem interkoneksi listrik Sumatera hingga menyebabkan sejumlah pembangkit ikut terdampak.
Sistem Kelistrikan
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan tersebut dan memastikan seluruh personel terus bekerja untuk mempercepat pemulihan sistem.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta PLN memperkuat sistem kelistrikan backbone Sumatera guna mencegah gangguan serupa terulang di masa mendatang.
Penguatan itu mencakup pembangunan jaringan transmisi 500 kV dan 275 kV, peningkatan keandalan subsistem di tiap provinsi, hingga penyiapan pembangkit cadangan untuk mempercepat proses pemulihan saat terjadi gangguan.
Hingga Sabtu (23/5) malam pukul 19.00 WIB, PLN mencatat proses pemulihan terus berjalan. Dari total 13,1 juta pelanggan terdampak, lebih dari 8,5 juta pelanggan telah kembali menikmati aliran listrik.
Selain itu, beban sistem yang berhasil dipulihkan mencapai 3.431,21 megawatt (MW) dari total 5.334 MW yang sebelumnya terganggu. Sebanyak 176 gardu induk terdampak juga dilaporkan telah kembali beroperasi.
Peristiwa blackout Sumatera menjadi salah satu gangguan sistem kelistrikan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah daerah sempat mengalami lumpuhnya aktivitas ekonomi, gangguan layanan transportasi, hingga terganggunya jaringan komunikasi akibat padamnya listrik secara serentak.
Berdasarkan data Kementerian ESDM dan PLN, kebutuhan listrik di Sumatera terus meningkat seiring pertumbuhan kawasan industri, pertambangan, dan ekonomi digital. Karena itu, penguatan jaringan transmisi antardaerah dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas pasokan listrik di pulau tersebut.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar