Periskop.id - Harga minyak mentah dunia kembali tergerus pada awal perdagangan Kamis (2/7/2026). Minyak Brent turun ke US$70,84 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah ke US$67,75 per barel, melanjutkan tren penurunan ke level terendah dalam empat bulan.

Tekanan muncul setelah Qatar mengumumkan adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat. Perundingan yang berakhir pada Rabu tersebut berfokus pada kondisi Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang sebelum eskalasi konflik menangani sekitar seperlima pasokan minyak global.

Berdasarkan laporan Reuters, perunding dari kedua negara menghabiskan dua hari di Doha untuk membahas kelancaran lalu lintas maritim di selat tersebut, sekaligus pencairan aset Iran yang dibekukan.

Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan mulai membaik secara bertahap. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan aliran minyak melalui jalur tersebut telah kembali ke level sebelum konflik pecah, meski tanpa merinci angka pastinya.

Meski demikian, pemulihan belum sepenuhnya stabil. Kedua negara sempat saling menyerang pada akhir pekan lalu, dipicu serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo. Setelah insiden itu, lalu lintas kapal kembali pulih secara bertahap.

Menurut dua sumber senior yang dikutip Reuters, Iran bertekad memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya di Selat Hormuz, termasuk jika harus ditempuh melalui kekerasan. Teheran juga berencana memberlakukan tarif atas pengiriman yang melintas mulai pertengahan Agustus, setelah masa bebas bea dalam perjanjian awal berakhir.

Pemulihan akses di selat tersebut justru memperbesar tekanan terhadap harga minyak. Haitong Futures mencatat bahwa persaingan memperebutkan pangsa pasar semakin menekan harga, seiring kembalinya pasokan ke pasar dan meningkatnya ekspektasi kelebihan suplai.

Dari sisi produksi, tekanan berpotensi bertambah. Sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebutkan bahwa negara-negara OPEC+ kemungkinan akan menyepakati kenaikan target produksi tambahan mulai Agustus dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu.

Kenaikan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 188.000 barel per hari untuk Agustus, setara dengan tambahan produksi yang telah diberlakukan pada Juni dan Juli.

Sementara itu, data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan cadangan minyak mentah AS turun 3,8 juta barel pada pekan lalu menjadi 408,4 juta barel, level terendah sejak September 2018. Namun, penurunan ini lebih kecil dari perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan penyusutan sebesar 4,5 juta barel.