‎Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan implementasi biodiesel B50 akan menghemat devisa negara hingga Rp177 triliun. Menurutnya, penggunaan campuran biodiesel tersebut membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

‎Airlangga mengatakan peluncuran B50 merupakan salah satu langkah pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik dan disrupsi teknologi.

‎Bahkan Airlangga bilang, kebijakan tersebut juga diperkirakan berkontribusi terhadap target net zero emission dengan menurunkan emisi sekitar 44 juta ton setara karbon dioksida (CO2).

‎"Kemarin Bapak Presiden meluncurkan yang namanya B-50 dan B-50 itu menunjukkan bahwa Indonesia bisa punya kekuatan sendiri karena dengan B-50 solar itu kita tidak impor lagi dan kita menghemat devisa 177 triliun dan berkontribusi terhadap net zero emission 44 juta ton CO2 setara," kata Airlangga kepada media Jakarta, Jumat (10/7).

‎Ia menjelaskan, di tengah konflik geopolitik yang masih berlangsung, termasuk di Ukraina dan kawasan Selat Hormuz, pemerintah memilih memperkuat fondasi ekonomi melalui penguatan rantai pasok (supply chain), serta mempercepat kedaulatan pangan dan kedaulatan energi.

‎"Jadi, di tengah ketidakpastian, terutama selain terkait dengan konflik geopolitik yang belum selesai, baik di Ukraine maupun di Selat Hormuz, ditambah lagi ketidakpastian dengan teknologi disruption seperti artificial intelligence, Indonesia harus memperkuat fondasi ekonomi, terutama terkait dengan supply chain," kata dia.

‎Selain B50, pemerintah juga mulai menjalankan program pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt. Program tersebut akan didukung pengembangan industri hilir baterai kendaraan listrik dan battery energy storage system (BESS), dengan investasi yang berlokasi di Kendal, Jawa Tengah, serta Jawa Timur.

‎Di sektor teknologi, pemerintah turut mempercepat pengembangan industri semikonduktor nasional. Airlangga mengatakan Indonesia telah menggandeng perusahaan desain chip global Arm untuk melatih sekitar 15.000 teknisi dan insinyur dalam ekosistem desain semikonduktor.

‎"Dan Indonesia sendiri untuk pengembangan semikonduktor sudah mengajak mitra yang namanya Arm. Arm itu menguasai hampir lebih dari 90% daripada pengembangan chip design. Dan ini didorong untuk melakukan training 15.000 teknisi maupun engineer dalam Arm ekosistem," Airlangga mengakhiri.