Periskop.id - IHSG dibuka di zona hijau pada Jumat (10/7) pagi. Berdasarkan data RTI pukul 09.05 WIB, indeks bertengger di level 5.931 atau menguat 19 poin setara 0,33%.

Pada sesi pembukaan, IHSG sempat menyentuh level 5.936. Sepanjang pagi ini, indeks bergerak dalam rentang 5.929 hingga tertinggi 5.949.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp671,35 miliar, melibatkan 999 juta lembar saham yang berpindah tangan sebanyak 286.304 kali.

Dari sisi pergerakan saham, 328 saham tercatat naik. Sebanyak 129 saham melemah, sementara 199 saham lainnya bergerak stagnan.

Secara mingguan, IHSG tumbuh 3,23%. Penguatan juga terjadi dalam rentang bulanan, dengan kenaikan 0,47%.

Namun dalam jangka lebih panjang, tekanan pada indeks masih terasa berat. IHSG terkoreksi 16,38% secara tiga bulanan dan anjlok 31,21% dalam enam bulan terakhir. Secara tahunan, indeks masih berada di wilayah negatif dengan pelemahan 16,64%.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 5,912.44 atau naik 0,67% pada perdagangan Kamis (9/7), setelah sebelumnya sempat bergerak melemah hingga level 5,839.

Secara teknikal, penguatan IHSG tertahan di MA5 dengan Stochastic RSI yang berpotensi mengalami Death Cross. Namun histogram MACD masih bertahan di area positif.

“Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.800-6.000,” ulas tim riset Phintraco Sekuritas, Jumat (10/7).

Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik dicermati pada perdagangan hari ini, antara lain BMRI, BRPT, DEWA, ESSA dan TUGU.

Data penjualan sepeda motor tumbuh 1.1% YoY menjadi 515,136 unit di Juni 2026 (9/7), setelah turun 5.1% YoY di Mei 2026, meskipun terjadi kenaikan inflasi dan BI Rate. Secara bulanan, penjualan sepeda motor tumbuh 7.5% MoM di Juni dari penurunan 8% MoM di Mei 2026.

Namun penjualan sepeda motor melemah 0.3% YoY mencapai 3.13 juta unit pada 1H26, sekitar 46.7%-48.9% dari target AISI hingga akhir tahun ini yang sebesar 6.4 juta hingga 6.7 juta unit. Selanjutnya investor akan menantikan data penjualan mobil bulan Juni 2026 (10/7).

Sementara itu penjualan ritel turun 3.9% di Mei 2026, setelah turun 3.7% YoY di April 2026 (9/7).  Pelemahan  ini merupakan penurunan selama dua bulan berturut-turut dan koreksi tahunan terdalam sejak Mei 2023. Hal ini mengindikasikan melemahnya belanja konsumen di tengah meningkatnya inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar non subsidi dan harga makanan.

Penurunan penjualan terjadi pada produk makanan, minuman dan tembakau, pakaian, peralatan rumah tangga, serta penjualan peralatan informasi dan komunikasi. Secara bulanan, penjualan ritel turun 1.5% MoM di Mei 2026, setelah mengalami penurunan tajam sebesar 11.6% MoM di April 2026.