Periskop.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mulai menyiapkan landasan hukum untuk menyurvei potensi hidrogen alami atau white hydrogen di Indonesia. Tanjung Api, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu lokasi prioritas setelah survei awal menemukan rembesan hidrogen di kawasan tersebut.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan informasi mengenai potensi Tanjung Api kembali menguat setelah disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie.
"Jadi beliau (Wamendiktisaintek) memberikan insight yang sangat bagus sekali untuk white hydrogen, potensinya ada di Tanjung Api (Sulawesi Tengah)," ujar Eniya ketika ditemui di Jakarta, Rabu (22/7).
Kementerian ESDM kini menginisiasi rancangan keputusan menteri sebagai dasar pelaksanaan survei geologi. Penyusunannya melibatkan Direktorat Jenderal EBTKE, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, serta Badan Geologi.
"Jadi itu bersamaan juga dengan kita di Kementerian ESDM, saya dengan Pak Dirjen Migas sedang menginisiasi rancangan Kepmen untuk pelaksanaan survei," katanya.
Hidrogen Muncul Alami dari Batuan
Berbeda dari hidrogen hijau yang dibuat melalui elektrolisis menggunakan listrik terbarukan, white hydrogen terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi.
Salah satu proses pembentukannya adalah serpentinisasi, yakni reaksi antara air dan batuan kaya besi pada suhu serta tekanan tertentu. Proses lain dapat berupa radiolisis, ketika radiasi alami memecah molekul air dan menghasilkan hidrogen.
Sulawesi dinilai prospektif karena memiliki sebaran batuan ultramafik dan ofiolit yang luas. Badan Geologi menyebut batuan serupa juga tersebar di Kalimantan Selatan, Halmahera, dan Papua.
"Memang dari beberapa tahun lalu sudah ada periset yang dari Rusia itu datang ke Indonesia untuk melihat, sebetulnya di Indonesia banyak loh potensinya, cuma gak pernah diukur saja," katanya.
Eniya menjelaskan hidrogen kerap tidak dicatat dalam kegiatan eksplorasi gas pada masa lalu karena bukan parameter utama yang dicari.
"Jadi pada saat kita mendapatkan gas, yang unsur hidrogennya tidak pernah diukur. Ini tadi Prof Stella memberikan pencerahan, oh ini lokasinya di sini, dan potensinya banyak sekali di Sulawesi," jelasnya.
Kondisi tersebut sejalan dengan penjelasan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS. Eksplorasi energi bawah tanah sebelumnya lebih banyak membidik minyak dan gas bumi sehingga hidrogen sering tidak diukur. Wilayah pembentukan hidrogen juga tidak selalu sama dengan sistem geologi tempat minyak ditemukan.
Survei Awal Temukan Rembesan di Dua Lokasi
Badan Geologi telah melakukan survei pendahuluan di Tanjung Api, Kabupaten Tojo Una-Una, dan One Pute Jaya di kawasan Morowali pada 2023.
Laporan Badan Geologi pada 2024 menyebut manifestasi gas di sekitar api abadi Tanjung Api mengandung hidrogen sekitar 20–35%. Kandungan hidrogen pada mata air panas One Pute tercatat sekitar 8,5% dalam pengukuran awal tersebut.
Gas diperkirakan terbentuk melalui serpentinisasi di bawah permukaan, kemudian bermigrasi menuju permukaan melalui jalur patahan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BRIN pada 2025 juga menemukan rembesan hidrogen Tanjung Api berada di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi hingga sangat tinggi dan berkorelasi dengan keberadaan patahan aktif.
Temuan tersebut belum berarti Sulawesi telah memiliki cadangan hidrogen yang dapat langsung ditambang. Survei lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui sumber gas, ukuran akumulasi, kedalaman, tingkat kemurnian, kestabilan aliran, dan kelayakan ekonominya.
Badan Geologi pun menegaskan hasil di Tanjung Api dan One Pute masih merupakan survei awal, sehingga peluang pemanfaatannya belum dapat disimpulkan sebelum penyelidikan lebih lanjut dilakukan.
Potensi Masuk Peta Jalan Hidrogen Nasional
Cekungan Tanjung Api telah dicantumkan dalam Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional sebagai salah satu wilayah yang memiliki indikasi hidrogen alami. Dokumen tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun ekosistem hidrogen untuk industri, transportasi, pembangkit listrik, dan penyimpanan energi.
Eniya mengatakan pengembangan sumber tersebut berpotensi mendukung sistem energi Sulawesi apabila hasil eksplorasi menunjukkan kandungan yang layak secara teknis dan ekonomi.
"Itu potensi kelistrikan di Sulawesi akan bisa termaksimalkan nanti dari sumber yang kita punya sendiri," ujarnya.
Meski demikian, penggunaan hidrogen untuk pembangkit masih membutuhkan fasilitas pemurnian, penyimpanan, pengangkutan, dan pembangkit yang sesuai. Aspek keselamatan juga harus diperhatikan karena hidrogen sangat ringan, mudah bocor, dan mudah terbakar.
Pemerintah karena itu akan melibatkan berbagai lembaga untuk memperkuat riset dan pemetaan.
"Baru rancangan untuk yang khusus survei geologi. Jadi Ditjen Migas, EBTKE sama Badan Geologi, terus mungkin nanti kita arrange lagi dengan Kemendiktisaintek," kata Eniya.
Eksplorasi Dunia Masih Tahap Awal
Perhatian terhadap hidrogen alami meningkat secara global setelah ditemukan akumulasi yang dapat mengalir di Mali dan Albania. Namun, potensi sumber daya pada sebagian besar lokasi belum terbukti dapat diproduksi secara komersial.
Badan Energi Internasional atau IEA mencatat proyek eksplorasi hidrogen alami telah berlangsung di hampir 30 negara. Sebagian besar masih berada pada tahap survei permukaan dan bawah tanah, sedangkan baru satu sumur di Mali yang telah beroperasi.
IEA memperkirakan produksi awal dari proyek-proyek baru mungkin muncul pada dekade 2030-an. Pemanfaatan dalam skala besar dinilai belum mungkin terjadi sebelum dekade 2040-an karena masih terdapat risiko eksplorasi, ketidakpastian regulasi, serta kebutuhan untuk membuktikan teknologi dan kestabilan reservoir.
Kepala Kelompok Kerja Migas Konvensional Pusat Survei Geologi Edy Slameto sebelumnya mengatakan penemuan hidrogen alami di berbagai negara telah mengubah pandangan bahwa gas tersebut tidak dapat terakumulasi di bawah tanah.
"Selama ini hidrogen dianggap tidak dapat terakumulasi di alam, namun penemuan akumulasi hidrogen alami di Mali menunjukkan bahwa anggapan tersebut perlu ditinjau kembali," ujar Edy.
"Identifikasi sistem hidrogen alami di Cekungan Ampana, Sulawesi Tengah, merupakan bukti konkret bahwa kita memiliki peluang besar untuk mengembangkan hidrogen alami sebagai sumber energi bersih," lanjutnya.
Rencana survei Kementerian ESDM menjadi tahap awal untuk mengubah indikasi geologi menjadi data sumber daya yang terukur. Sebelum dapat dimanfaatkan, pemerintah masih harus membuktikan bahwa hidrogen di Sulawesi tersedia dalam jumlah cukup, dapat diproduksi secara stabil, aman, dan memiliki biaya yang lebih kompetitif dibandingkan sumber energi lain.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar