periskop.id - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) meminta awak media dan masyarakat untuk menghormati privasi serta martabat aktivis Andri Yunus yang saat ini tengah berjuang pulih dari serangan air keras. KontraS mendesak agar dokumentasi visual yang memperlihatkan kondisi luka bakar korban di ruang IGD segera diturunkan (take down) dan tidak disebarluaskan kembali.
Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, menekankan pentingnya penerapan prinsip do no harm dalam pemberitaan mengenai korban penyerangan. Menurutnya, foto-foto vulgar yang beredar di publik saat ini merupakan dokumentasi tidak resmi dan disebarkan tanpa persetujuan (consent) pihak keluarga maupun korban.
“Itu adalah foto tidak resmi tanpa consent dan juga melanggar prinsip do no harm. Jadi kami ingin foto-foto tersebut jika sudah ada diturunkan dan tidak disebarluaskan lagi karena saat ini kondisi Andri juga masih dalam pemulihan,” kata Jane di Komnas HAM, Selasa (31/3).
Jane mengklarifikasi bahwa dokumentasi yang memperlihatkan kondisi kritis Andri tersebut diduga berasal dari pihak kepolisian atau pihak lain, bukan dari pendamping maupun keluarga. Ia menegaskan pihaknya sangat menghargai jika media memilih menggunakan foto yang lebih layak saat memberitakan kasus ini.
“Kami sangat menghargai upaya teman-teman media ketika memberitakan dengan menggunakan foto-foto Andri saat sehat,” ungkap Jane.
Terkait kondisi kesehatan terkini, Jane mengungkapkan Andri masih terbaring di High Care Unit (HCU) RSCM. Korban serangan air keras tersebut memerlukan perawatan intensif jangka panjang dan berkala, terutama pada jaringan kulit dan penglihatan.
“Yang tengah ditangani adalah bedah mata maupun bedah kulit. Jadi memang Andri Yunus akan menjalani perawatan intensif ini tidak hanya sekali, tetapi secara berkala,” jelas Jane.
Dalam sepekan terakhir, Andri diketahui telah menjalani dua kali tindakan operasi. Saat ini, tim medis masih melakukan observasi ketat untuk menentukan langkah perawatan selanjutnya.
“Dalam satu minggu kemarin sudah ada dua kali tindakan operasi dan minggu ini sedang dilakukan observasi. Jadi kami mohon doanya,” ujar Jane.
Peristiwa penyiraman air keras yang menimpa Andri Yunus terjadi pada Kamis malam (12/3/2026) sekitar pukul 23.37 WIB di kawasan Jalan Salemba I - Talang, Jakarta Pusat. Saat itu, Andri yang baru saja menyelesaikan perekaman siniar (podcast) di Kantor YLBHI, dihampiri oleh dua orang laki-laki misterius yang berboncengan motor matic melawan arah. Akibat serangan tersebut, Andri menderita luka bakar hingga 20% di area tangan, wajah, dada, hingga mata.
KontraS mencatat tidak ada barang milik korban yang hilang dalam insiden tersebut sehingga serangan ini diduga kuat merupakan upaya sistematis untuk membungkam suara kritis pembela HAM.
Tinggalkan Komentar
Komentar