periskop.id - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengancam mencabut izin usaha importir kedelai yang berani menaikkan harga secara semena-mena. Langkah tegas itu diambil demi melindungi keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe di seluruh Indonesia.

Amran menegaskan, pemerintah juga tidak akan lagi menerbitkan rekomendasi izin impor bagi pengusaha yang melanggar ketentuan harga. Menurutnya, kestabilan harga kedelai impor adalah syarat mutlak agar rantai produksi tahu dan tempe tidak terganggu.

Advertisement

"Kalau menaikkan, izinnya aku cabut dan aku tidak beri izin rekomendasi lagi, karena ada rekomendasinya di pertanian," ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Amran juga mengingatkan para importir bahwa bisnis kedelai telah menguntungkan mereka dalam waktu yang sangat lama. Karena itu, ia menilai tidak ada alasan bagi importir untuk membebankan kenaikan harga kepada kalangan perajin.

"Yang impor khususnya kedelai, kami minta pada pengusaha, tolong jangan menaikkan harga semena-mena. Kenapa? Anda sudah untung puluhan tahun," tegasnya.

Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), rata-rata harga kedelai di tingkat perajin secara nasional per 8 Juni berada di level Rp11.126 per kg. Di wilayah Jawa, harganya sedikit lebih rendah, yakni rata-rata Rp10.868 per kg, meski ada yang menyentuh Rp11.100 per kg.

Pemerintah telah menetapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai sebagai batas atas yang wajib dipatuhi. Di tingkat importir, plafonnya maksimal Rp11.500 per kg, sementara di tingkat perajin tidak boleh melampaui Rp12.000 per kg. Harga kedelai saat ini masih berada dalam koridor tersebut.

Dalam rapat pembahasan kedelai yang digelar Bapanas pada Senin (8/6), Gakoptindo menyampaikan kenaikan harga kedelai impor masih relatif aman. Rentang kenaikan saat itu tercatat lebih rendah dibandingkan kondisi harga kedelai pada 2022, dengan harga di tingkat perajin masih berkisar Rp10.000 hingga Rp11.000 per kg.

Para perajin tahu dan tempe juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya produksi lain, seperti harga plastik dan minyak goreng yang ikut terkerek. Hal tersebut menambah beban biaya yang sudah dirasakan oleh kalangan perajin.

Soal ketersediaan stok, asosiasi importir memastikan pasokan kedelai per Juni 2026 mencapai 450 ribu ton dan disebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Para importir juga berkomitmen menjaga kenaikan harga tetap kondusif demi stabilisasi pasokan dan harga kedelai secara nasional.

Amran memastikan pemerintah siap menelusuri jalur distribusi hingga ke tingkat importir bila perajin tahu dan tempe melaporkan dampak signifikan dari kenaikan harga. "Sekali lagi, kami akan telusuri kalau terdampak pada perajin, pada produsen tahu dan seterusnya. Jangan menaikkan harga semena-mena," pungkasnya.