Periskop.id - Iran menegaskan, perundingan dengan Amerika Serikat (AS) hanya akan terjadi jika Teheran menyatakan kehendaknya dan Washington sepenuhnya menghapus niat, untuk bertindak melawan rakyat Iran.
"Perundingan hanya akan terjadi jika itu adalah kehendak kami dan jika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihilangkan," kata juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, Rabu (25/3), seperti dikutip kantor berita Tasnim.
"Hingga itu menjadi kehendak kami, tidak ada yang akan kembali normal. Ini hanya akan terjadi ketika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihapus dari pikiran kotor kalian," ujarnya.
"Kata pertama dan terakhir kami — sejak hari pertama — adalah kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan pihak seperti kalian. Tidak sekarang dan tidak akan pernah," tambahnya.
Sementara itu, laporan The New York Times pada Selasa, yang mengutip pejabat anonim, menyebutkan Washington telah menyampaikan rencana 15 poin kepada Teheran untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah, di tengah meningkatnya dampak terhadap ekonomi AS.
Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil. Iran kemudian meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan target militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengeklaim "serangan pendahuluan" itu diperlukan untuk melawan ancaman dari program nuklir Iran. Tetapi kemudian mereka mengatakan, tujuannya adalah untuk mengubah rezim yang berkuasa di Iran.
Klaim Negosiasi Dibantah
Sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan, dirinya telah memerintahkan penundaan semua serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi selama lima hari ke depan. Hal tersebut, lanjut Tump, adalah karena dialog dengan Teheran selama dua hari belakangan berlangsung "sangat baik dan produktif".
Namun, Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah pihaknya sedang berunding dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai "berita palsu" untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial.
"Tidak ada negosiasi yang berjalan dengan Amerika Serikat. Laporan berita palsu tersebut dimaksudkan untuk memanipulasi pasar finansial dan minyak serta untuk melarikan diri dari kekacauan yang menjebak AS dan Israel," kata Ghalibaf melalui sosial media X, Senin.
Ghalibaf menambahkan, rakyat Iran menuntut hukuman yang "penuh dan menimbulkan penyesalan" bagi para aggressor. Sementara semua pejabat berdiri teguh mendukung pemimpin negara dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai.
Iran sendiri menyatakan, tidak mempercayai Amerika Serikat kepada sejumlah negara mediator yang mencoba memediasi, berdasarkan pengalaman sebelumnya, lapor portal Axios mengutip sumber terkait.
Menurut laporan tersebut, perundingan antara AS dan Iran telah dua kali gagal. Pada Juni, Israel dengan dukungan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran menjelang putaran pembicaraan, sementara pada Februari, AS dan Israel melancarkan operasi setelah tercapai kesepakatan awal terkait isu nuklir.
“Kami tidak ingin tertipu lagi,” kata salah satu sumber seperti dikutip Axios.
Iran juga disebut telah menyampaikan kepada otoritas Pakistan, Mesir, dan Turki, bahwa peningkatan kehadiran militer AS di kawasan semakin memperkuat kekhawatiran Teheran soal tawaran perundingan damai dari Trump mungkin hanya strategi.
Tinggalkan Komentar
Komentar