Periskop.id - Kepala Ekonom Global Oxford Economics Ryan Sweet memperingatkan bahwa keberlangsungan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi risiko terbesar yang membayangi pasar global. Sejak nota kesepahaman kedua negara ditandatangani, harga minyak dunia sudah tergerus lebih dari 20%.

Sweet menegaskan, arah pergerakan pasar di paruh kedua 2026 sangat ditentukan oleh apakah perdamaian AS-Iran benar-benar bisa bertahan jangka panjang. Pasar saham global sendiri justru menguat seiring penurunan harga energi tersebut.

"Kesepakatan damai yang bertahan akan menghasilkan serangkaian kondisi yang lebih longgar, mulai dari turunnya inflasi energi, ruang yang lebih besar bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan, kondisi pasar keuangan yang lebih longgar, hingga memberikan kelegaan bagi negara-negara berkembang," tutur Sweet seperti dilansir Yahoo Finance, Selasa (7/7).

Namun, Sweet juga mengingatkan bahwa kesepakatan tanpa tindak lanjut menuju perdamaian yang lebih permanen justru berpotensi menciptakan gejolak yang sulit dikendalikan.

"Kesepakatan tanpa adanya perjanjian damai lanjutan akan bersifat sangat fluktuatif dan mustahil dipertahankan," lanjutnya.

Berdasarkan laporan Yahoo Finance, kontrak berjangka minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$72 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertengger di bawah US$69 per barel. Penurunan harga energi itu turut memacu optimisme investor di pasar keuangan global.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga terus meningkat sejak nota kesepahaman ditandatangani. Data perusahaan intelijen Kpler mencatat, sebanyak 108 kapal berhasil melintas di jalur masuk dan keluar Selat Hormuz selama libur Hari Kemerdekaan AS pada akhir pekan 4 Juli.

Oxford Economics mengidentifikasi sejumlah risiko lain yang akan membayangi pasar di sisa tahun ini. Di antaranya adalah kebijakan perdagangan, rantai pasok industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keputusan bank sentral, stimulus ekonomi China, serta pemilu sela di AS.

Sweet menilai hampir seluruh risiko itu saling berkaitan dan bermuara pada situasi di Timur Tengah. Jika kesepakatan damai gagal dipertahankan, kenaikan harga energi berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga. Kondisi itu juga bisa menekan negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi serta mendongkrak biaya produksi industri teknologi, termasuk pemasok komponen AI.

Di sisi lain, Sweet menyebut ada faktor positif yang dapat menopang pasar. Investasi di sektor AI yang lebih kuat dari perkiraan, belanja infrastruktur untuk pembangunan pusat data, sektor utilitas, serta persiapan Olimpiade dinilai mampu memberikan dorongan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Risiko gagalnya kesepakatan bukan sekadar skenario hipotetis. Konflik di Lebanon, serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, dan potensi serangan udara baru dari AS sebelumnya pernah menggagalkan pembicaraan damai meski nota kesepahaman sudah ditandatangani.

"Semua risiko ini saling berhubungan. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana perkembangan kesepakatan damai di Timur Tengah," pungkas Sweet.