Periskop.id - Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan, membalas kematian ayahnya merupakan tuntutan bangsa yang pasti harus dilakukan. Pernyataan tersebut disampaikan lewat pesan tertulis di akun Telegram miliknya.
Mojtaba mengeluarkan pernyataan itu bertepatan dengan upacara pemakaman sang ayah, mantan pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ayatollah Khamenei gugur dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, beberapa bulan sebelum upacara pemakamannya digelar.
"Kami berjanji untuk membalas darah pemimpin yang gugur dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh kriminal dan tercela itu," kata Khamenei dalam pesan yang dirilis melalui akun Telegram-nya, seperti dilansir Reuters, Sabtu (11/7).
Jenazah Ayatollah Khamenei sendiri telah dimakamkan pada Jumat (10/7) dini hari waktu setempat. Lokasi pemakaman berada di Makam Imam Reza, situs suci Syiah paling dihormati di Iran yang terletak di kota kelahirannya, Mashhad, kompleks keagamaan yang dikenal dengan kubah emas besar dan menara berlapis emas.
Upacara pemakaman berlangsung tertutup. Namun prosesi tersebut didahului seminggu masa berkabung nasional dan rangkaian arak-arakan publik besar-besaran yang menyedot lebih dari 15 juta pelayat, bahkan menurut perkiraan pihak Iran jumlahnya mencapai sekitar 43 juta orang.
Kementerian Intelijen Iran memuji ramainya pelayat yang hadir dalam prosesi di Iran dan Irak tersebut. Kementerian menyebutnya sebagai janji baru terhadap cita-cita bangsa sekaligus terhadap Poros Perlawanan.
Dalam pernyataan yang sama, kementerian tersebut menyampaikan terima kasih kepada rakyat Iran dan Irak, otoritas agama, pemerintah negara sahabat, hingga delegasi dari berbagai penjuru dunia Islam atas partisipasi mereka. Pelayat dari Lebanon, Pakistan, Afghanistan, Azerbaijan, Turki, Kashmir, India, dan Bahrain turut disebut sebagai bentuk solidaritas abadi terhadap Iran.
"Pemakaman bersejarah tersebut mencerminkan kesetiaan dan kesadaran bangsa Islam dan memperbarui komitmennya terhadap cita-cita Islam," bunyi pernyataan resmi Kementerian Intelijen Iran, seperti dilansir Press TV, Sabtu (11/7).
Kementerian juga memuji prosesi yang diselenggarakan oleh suku-suku Irak dan lembaga keagamaan setempat. Menurut kementerian, hal itu menyoroti ikatan abadi antara rakyat Iran dan Irak sekaligus memperkuat apa yang mereka sebut sebagai jalan perlawanan.
"Kita memperbarui perjanjian darah dan perjuangan kita dengan Pemimpin Revolusi Islam dan akan tetap berada di garis depan pertempuran melawan Amerika Serikat yang kriminal dan rezim Zionis pembunuh anak-anak," imbuh pernyataan itu.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar