Periskop.id - Militer Ukraina mengklaim menghantam 21 kapal tanker Rusia dalam serangan drone semalam di Laut Azov. Selain tanker, empat kapal tunda, dua kapal kargo, dan satu kapal keruk turut jadi sasaran.
Serangan itu disebut Ukraina sebagai bagian dari operasi memutus jalur logistik laut menuju wilayah pendudukan Rusia, termasuk Krimea. Komandan Pasukan Drone Ukraina Robert Brovdi, yang dikenal dengan nama Magyar, menyebutkan sedikitnya 36 kapal telah dihantam dan terbakar di Laut Azov hanya dalam empat hari.
"Armada Laut Hitam Rusia kini menutup diri di Novorossiysk," tulis Mikhail Zvinchuk dalam kanal Telegram Rybar, dikutip BBC, Sabtu (11/7).
Menurut militer Ukraina, sebagian besar kapal yang diserang merupakan bagian dari "shadow fleet" atau armada bayangan Rusia, yaitu kumpulan tanker komersial yang biasa dipakai mengangkut minyak. Jumlah pasti kapal yang terdampak belum bisa diverifikasi secara independen, dan BBC mencatat sejumlah kapal kemungkinan diserang lebih dari sekali.
Gubernur wilayah Rostov Yuri Slyusar menyebutkan dua tanker kosong diserang di Teluk Taganrog pada Rabu. Kedua kapal itu dilaporkan masih terbakar hingga Kamis meski tak bermuatan.
Brovdi menambahkan, dua tanker lain yang diserang awal pekan membawa sekitar 7.000 ton bahan bakar dari Taganrog menuju Krimea. Citra satelit turut memperlihatkan kepulan asap dari sebuah kapal berjarak sekitar 4,2 kilometer dari pesisir Krimea, dengan data NASA mencatat kebakaran di lokasi itu berlangsung sejak 6 Juli.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai strategi drone Ukraina sebagai bentuk eskalasi saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam KTT NATO di Ankara, Selasa.
"Tetapi ini juga merupakan eskalasi yang dapat membantu mengarah pada sebuah penyelesaian," kata Trump dalam pertemuan tersebut.
Zelensky sendiri menilai serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan balasan atas serangan Moskow ke Ukraina. Ia menegaskan, warga Rusia harus "merasa bahwa negara merekalah yang sedang melancarkan perang".
Gangguan logistik ini disebut memperparah krisis bahan bakar yang sudah membelit Rusia. BBC melaporkan lebih dari 90% wilayah Rusia kini mengalami pembatasan atau kekurangan bahan bakar, sementara pemerintah Rusia telah melarang ekspor solar.
Antrean kendaraan mulai terlihat di sejumlah SPBU kota besar Rusia, sedangkan otoritas bentukan Rusia di Krimea menghadapi gangguan pasokan listrik dan transportasi. Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya memperkirakan kebutuhan bahan bakar Krimea mencapai sekitar 70.000 ton per bulan dan berjanji menjaga pasokan lewat jalur darat maupun laut.
Serangan terhadap kapal tanker ini berjalan bersamaan dengan gempuran Ukraina terhadap kilang minyak Rusia yang disebut memicu kelangkaan BBM di berbagai wilayah, termasuk Moskow dan St. Petersburg. Setelah sebelumnya mengganggu jalur logistik darat, militer Ukraina kini turut menekan jalur pasokan lewat laut menuju Krimea.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar