Periskop.id - Operator pelabuhan DP World tengah menyiapkan pembangunan pelabuhan baru sekaligus terminal peti kemas di pantai timur Uni Emirat Arab (UEA). Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan Dubai pada Pelabuhan Jebel Ali dan menghindari risiko gangguan di Selat Hormuz.

Perusahaan tersebut disebut bakal menggelontorkan investasi awal senilai ratusan juta dolar AS untuk proyek ini. Nilai investasi itu berpotensi bertambah, tergantung kebutuhan kapasitas tambahan yang muncul belakangan.

"Kami memang memiliki rencana sendiri, dan kami sangat aktif dalam melihat peluang di pantai timur sejauh menyangkut DP World. Ini merupakan langkah pertahanan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata pejabat senior DP World, dikutip dari Financial Times, Selasa (14/7).

Rancangan kesepakatan atau term sheet proyek ini masih dibahas bersama pejabat pemerintah UEA. Struktur proyek dan skema pembiayaannya, menurut pejabat senior perusahaan, masih dalam tahap finalisasi, meski fasilitas baru itu diperkirakan rampung dalam waktu sekitar satu setengah tahun.

DP World belum mau membeberkan rincian proyek di pantai timur tersebut. Perusahaan hanya menyatakan sejumlah rencana diversifikasi tengah disiapkan untuk mengantisipasi gangguan yang mungkin terjadi ke depan.

Selama lebih dari dua dekade terakhir, DP World dikenal sebagai salah satu entitas UEA paling agresif berekspansi ke luar negeri lewat jaringan pelabuhan dan logistik di berbagai belahan dunia. Kendati begitu, Pelabuhan Jebel Ali tetap menjadi aset paling berharga, baik bagi perusahaan maupun Pemerintah Dubai.

Rencana memindahkan sebagian kapasitas pelabuhan ke luar Dubai jadi perubahan besar bagi emirat yang selama ini tumbuh sebagai pusat perdagangan dan keuangan global itu. Pertumbuhan pesat Jebel Ali selama ini menjadi salah satu fondasi utama posisi Dubai tersebut.

Langkah DP World rupanya sejalan dengan inisiatif pemerintah UEA yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan ekonomi menghadapi potensi konflik lanjutan dengan Iran, termasuk lewat pengurangan ketergantungan pada Selat Hormuz. Jalur pelayaran itu belakangan kerap terganggu serangan drone dan rudal Iran usai serangan Amerika Serikat dan Israel.

Aktivitas di Jebel Ali, pelabuhan peti kemas terbesar UEA, sempat anjlok 90% hingga 95% setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel. Proyek baru di pantai timur ini akan memperkuat kehadiran DP World di Teluk Oman, sehingga peti kemas bisa masuk dan keluar UEA tanpa melewati selat tersebut sebelum diangkut lewat jalur darat menuju Dubai, Abu Dhabi, dan negara Teluk lainnya.

Meski begitu, para pejabat negara Teluk menegaskan pergeseran aktivitas ke wilayah timur bukan berarti Jebel Ali bakal sepenuhnya digantikan. Kompleks yang dibangun dan diperluas selama beberapa dekade itu mencakup kawasan ekonomi bebas, gudang, hingga fasilitas industri berat.

"Jebel Ali akan tetap menjadi Jebel Ali. Pelabuhan ini tidak akan pernah diperkecil," jelas seorang pejabat senior perusahaan.

Perang dengan Iran mendorong pemerintah dan perusahaan di kawasan itu mengevaluasi ulang infrastruktur serta koridor ekonomi yang selama ini dibangun dengan asumsi lalu lintas Selat Hormuz akan selalu lancar. Sebelum perang, lalu lintas kapal yang melintasi selat itu mencapai sekitar 135 kapal per hari, namun jumlahnya hanya naik tipis ke sekitar 40 kapal per hari usai jalur tersebut dibuka sementara pasca gencatan senjata AS-Iran.

Kerapuhan proses diplomasi itu kian terlihat setelah aksi saling serang meningkat dalam sepekan terakhir, termasuk serangan Iran terhadap kapal-kapal di jalur sempit tersebut. Eskalasi terbaru bahkan membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali turun drastis, hampir terhenti.

Sejak perang pecah akhir Februari, Iran telah meluncurkan hampir 3.000 drone dan rudal ke wilayah UEA, jumlah terbanyak dibandingkan negara lain mana pun. Pada tahap awal konflik, kebakaran bahkan sempat terjadi di Jebel Ali akibat puing-puing hasil pencegatan rudal, menurut otoritas setempat.

Konflik ini menambah tantangan bagi DP World, yang beberapa pekan sebelum perang pecah juga mengganti ketua sekaligus CEO lamanya, Sultan Ahmed bin Sulayem. Pergantian itu terjadi lantaran keterkaitannya dengan pelaku kejahatan seksual anak, Jeffrey Epstein.