Periskop.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan konflik bersenjata negaranya dengan Amerika Serikat telah memasuki fase baru yang krusial. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan blokade maritim yang diumumkan kelompok Houthi terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut seiring serangan udara balasan pasukan AS dan ancaman perluasan konflik di kawasan Teluk. Menurutnya, situasi saat ini sudah bergeser jauh dari sekadar ketegangan biasa.
"Kenyataannya adalah hari ini Republik Islam Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh," tegas Pezeshkian, dikutip dari CNA, Selasa (21/7).
Houthi, kelompok pemberontak Yaman yang menjadi sekutu Teheran, mengumumkan blokade maritim terhadap pelabuhan Arab Saudi. Langkah ini berisiko melumpuhkan ekspor minyak Riyadh lewat pelabuhan Yanbu di Laut Merah, jalur yang selama ini jadi alternatif Arab Saudi untuk menghindari blokade Selat Hormuz.
Otoritas Arab Saudi mengecam ancaman tersebut dan menyebut Houthi sebagai "milisi teroris". Pemerintah Riyadh menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung pemerintah resmi Yaman di tengah tekanan blokade itu.
Di sisi militer, korban terus berjatuhan dari pihak AS. Konflik yang kembali pecah setelah gencatan senjata darurat Juni lalu runtuh telah menewaskan 17 tentara Amerika Serikat.
Pentagon, Senin lalu, juga mengonfirmasi hampir 100 personel militer AS lainnya mengalami luka-luka sejak 7 Juli. Mayoritas cedera berupa gegar otak ringan akibat serangan drone dan rudal.
Komando Pusat AS (Centcom) melancarkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran untuk melumpuhkan kemampuan Teheran membidik aset komersial di Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah sasaran militer serta infrastruktur di Bahrain, Yordania, Kuwait, hingga Suriah.
Militer Yordania mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya berhasil menjatuhkan tiga rudal Iran yang mengarah ke wilayah kerajaan itu. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan dilaporkan dari insiden tersebut. Kuwait dan Bahrain turut melaporkan serangan susulan dari Teheran.
Situasi di Selat Hormuz makin mengkhawatirkan setelah para pelaut terpaksa meninggalkan sebuah kapal yang terbakar akibat serangan di jalur perairan itu. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan kejadian tersebut, sementara IRGC mengklaim dua kapal tanker minyak meledak dan terhenti saat melintasi selat, disusul insiden kapal lain yang dihantam proyektil di dekat perairan Uni Emirat Arab.
Ketegangan di jalur navigasi vital itu sempat mendongkrak harga minyak mentah dunia ke level tertinggi dalam sebulan terakhir. Selat Hormuz dalam kondisi normal menyalurkan sekitar sepertujuh pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di jalur ini berdampak luas ke pasar energi global.
Meski aksi saling gempur terus meluas di berbagai front, jalur diplomasi antara Iran dan AS diklaim belum sepenuhnya tertutup. Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni bertolak ke Islamabad, Senin lalu, untuk menggelar pembicaraan dengan pemerintah Pakistan yang kembali berperan sebagai mediator konflik.
"Gagasan-gagasan telah disampaikan kepada kami oleh mediator tertentu," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi saluran komunikasi tidak langsung dengan AS masih berjalan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar