Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama pengelola Kawasan Kota Tua menyiapkan revitalisasi besar untuk menjadikan Kota Tua sebagai destinasi wisata sejarah berkelas global. Rencana itu mencakup pengembangan trem listrik, penerapan kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone (LEZ), serta integrasi transportasi massal melalui MRT, Transjakarta, KRL, dan Stasiun Jakarta Kota.

Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra mengatakan, konsep revitalisasi tidak hanya berfokus pada penataan fisik kawasan. Pemerintah juga ingin mengatur mobilitas pengunjung agar Kota Tua lebih nyaman, ramah lingkungan, dan sesuai dengan karakter kawasan cagar budaya.

Advertisement

"Salah satunya kita akan membangun juga LEZ atau Low Emission Zone. Jadi kita akan membatasi kendaraan nanti ketika sudah jadi semuanya," kata Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra saat ditemui di Kota Tua, Jakarta, Minggu (14/6). 

Denny menjelaskan, pembatasan kendaraan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas kawasan. Kota Tua merupakan kawasan wisata heritage dengan bangunan bersejarah, ruang publik, museum, serta aktivitas ekonomi kreatif yang membutuhkan lingkungan lebih tertib dan nyaman bagi pejalan kaki.

Konsep LEZ juga sejalan dengan arah penataan Kota Tua sebagai kawasan rendah emisi. Dengan pembatasan kendaraan, kawasan diharapkan lebih ramah bagi wisatawan, pejalan kaki, pesepeda, pengguna transportasi umum, serta aktivitas budaya dan komunitas.

Selain LEZ, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan rencana menghidupkan kembali moda trem yang pernah menjadi bagian dari sejarah transportasi Jakarta. Namun, trem yang direncanakan bukan trem lama berbahan bakar konvensional, melainkan trem berbasis tenaga listrik.

"Trem yang lamanya jalurnya saja, dan sudah menggunakan tenaga listrik nanti ke depan," ucapnya.

Menurut Denny, jalur trem listrik direncanakan melintasi kawasan wisata Kota Tua dan tersambung dengan sejumlah titik strategis, termasuk area dekat Sunda Kelapa. Meski begitu, detail lintasan dan desain akhir masih menunggu keputusan lebih lanjut dari pemerintah.

Rencana trem listrik tersebut menjadi menarik karena menggabungkan dua kepentingan sekaligus. Di satu sisi, trem menghidupkan kembali memori sejarah transportasi Jakarta. Di sisi lain, penggunaan tenaga listrik menunjukkan arah baru mobilitas perkotaan yang lebih bersih dan rendah emisi.

Denny menegaskan revitalisasi Kota Tua diarahkan untuk menggabungkan unsur sejarah, pariwisata, dan transportasi ramah lingkungan. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bangunan tua, tetapi juga merasakan pengalaman mobilitas yang lebih terintegrasi.

"Pak Gubernur melihat bahwa itu menjadi moda transportasi awal, membangun sejarahnya kembali, dan memastikan revitalisasi Kota Tua di 2029 ini menjadi destinasi Jakarta, kota global," katanya.

Proyek MRT rute Lebak Bulus-Kota
Target 2029 menjadi penting karena Pemprov DKI Jakarta juga sedang mengejar penyelesaian proyek MRT rute Lebak Bulus-Kota. Kehadiran MRT hingga Stasiun Kota dipandang sebagai kunci untuk mengubah wajah Kota Tua sebagai kawasan wisata yang lebih mudah diakses.

Denny mengatakan pengelola Kota Tua mendorong wisatawan memanfaatkan konsep kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development. Artinya, kunjungan ke Kota Tua diharapkan semakin banyak dilakukan dengan transportasi publik, bukan kendaraan pribadi.

"Kami mendorong penggunaan TOD, transportasi ke sini ke mana pun. Tujuannya biar mudah dalam akses transportasi," ucap Denny.

Menurut Denny, Kota Tua selama ini sudah menjadi destinasi yang mudah dijangkau dengan transportasi umum, terutama KRL melalui Stasiun Jakarta Kota. Pengunjung tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga dari wilayah penyangga dan luar kota.

"Wisatawan dari Serang, Banten, menjadi salah satu kelompok yang kerap memanfaatkan kereta untuk berkunjung ke Kota Tua," serunya. 

Selain KRL, integrasi transportasi akan diperkuat dengan MRT dan Transjakarta. Denny menyebut pada 2029 kawasan Kota Tua akan memiliki keterhubungan yang lebih kuat melalui Stasiun Kota, jaringan MRT, serta layanan TransJakarta.

"2029 TransJakarta dan MRT itu akan terkoneksi melalui Stasiun Kota. Stasiun terkoneksi, MRT terkoneksi, TransJakarta terkoneksi," ujarnya.

Dengan integrasi tersebut, wisatawan dapat berpindah moda lebih mudah. Pengunjung dari selatan Jakarta dapat menggunakan MRT hingga Kota, sementara pengguna KRL dari wilayah Jabodetabek dapat turun di Stasiun Jakarta Kota. Transjakarta juga diharapkan menjadi penghubung lanjutan menuju titik-titik wisata di sekitar kawasan.

Pengembangan transportasi publik menjadi kunci karena Kota Tua selama ini menghadapi tantangan klasik destinasi wisata populer, yakni kepadatan kendaraan, parkir, dan kerumunan pengunjung pada akhir pekan atau musim liburan. Jika akses transportasi umum semakin baik, penggunaan kendaraan pribadi dapat ditekan.

Selain transportasi, revitalisasi Kota Tua juga mencakup peningkatan fasilitas kawasan. Pengelola menyiapkan program pemilahan sampah, perbaikan akses jalan, peningkatan keamanan, dan penguatan layanan informasi bagi pengunjung.

Langkah tersebut penting karena Kota Tua tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga ruang publik yang digunakan warga untuk beraktivitas, berfoto, menikmati museum, kuliner, komunitas, hingga agenda budaya. Kenyamanan dan keamanan pengunjung menjadi syarat agar kawasan ini benar-benar bisa naik kelas.

MRT sebagai Faktor Kunci 
Rencana revitalisasi Kota Tua juga sebelumnya telah disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia menyebut MRT sebagai faktor kunci untuk mengubah kawasan Kota Tua ketika jaringan MRT tersambung hingga kawasan tersebut pada 2029.

Game changer Kota Tua adalah MRT. Ketika MRT tersambung hingga Kota Tua pada 2029, kawasan ini akan berubah secara signifikan. Karena itu, konsep transit-oriented development (TOD) sudah kami siapkan sejak sekarang, termasuk kemudahan akses transportasi,” ujarnya.

Pramono juga menegaskan pentingnya menjaga kawasan cagar budaya Jakarta, termasuk Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok. Menurut dia, masa depan pariwisata Jakarta tidak hanya berada pada gedung-gedung modern, tetapi juga pada kawasan bersejarah yang menyimpan identitas kota.

“Warisan budaya di Kota Tua dan sejumlah kawasan cagar budaya harus tetap terawat dengan baik. Masa depan Jakarta ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu, karena keduanya akan menjadi daya tarik utama kota ini,” tuturnya.

Namun, rencana trem listrik tetap membutuhkan kajian mendalam. Dalam pernyataan sebelumnya, Pramono menyebut pembangunan trem di Kota Tua masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum diputuskan.

"Untuk trem Kota Tua, apa yang disampaikan Pak Wakil Gubernur tentunya perlu dikaji lebih dalam," kata Pramono di Jakarta Timur, Selasa.

Ia menjelaskan Pemprov DKI masih memprioritaskan penyelesaian MRT Lebak Bulus-Kota. Setelah jaringan transportasi massal utama tersambung, pengembangan moda pendukung seperti trem dan penguatan rute Transjakarta dapat membuat Kota Tua semakin hidup.

“Karena kalau itu sudah dilakukan nanti KRL-nya jalan, MRT-nya jalan, TransJabodetabek atau TransJakarta-nya jalan ke Kota Tua, saya yakin Kota Tua akan menjadi tempat baru yang akan dikunjungi warga masyarakat," papar Pramono.

"Terutama memang Kota Tua kita siapkan untuk menarik tourism," kata Pramono.

Dengan berbagai rencana tersebut, arah revitalisasi Kota Tua mulai terlihat jelas. Pemerintah ingin menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah yang tidak hanya mengandalkan bangunan tua, tetapi juga didukung sistem mobilitas modern, rendah emisi, dan ramah pejalan kaki.

Pendekatan ini relevan dengan posisi Jakarta yang sedang membangun citra sebagai kota global. Sebagai bekas pusat kota lama, Kota Tua menyimpan nilai sejarah yang kuat. Jika dikelola dengan transportasi publik, ruang pejalan kaki, pengurangan emisi, dan kegiatan budaya yang hidup, kawasan ini dapat menjadi wajah baru pariwisata Jakarta.

Tantangannya adalah memastikan revitalisasi tidak menghilangkan karakter asli kawasan. Penataan parkir, pedagang kaki lima, jalur transportasi, ruang publik, dan bangunan cagar budaya perlu dilakukan hati-hati agar modernisasi tidak merusak nilai sejarah Kota Tua.

Karena itu, integrasi transportasi harus berjalan bersama pelestarian. Trem listrik, LEZ, MRT, Transjakarta, dan KRL seharusnya menjadi alat untuk membuat kawasan lebih mudah diakses, bukan sekadar proyek infrastruktur. Pada akhirnya, tujuan terbesar revitalisasi adalah membuat Kota Tua lebih hidup, tertib, inklusif, dan nyaman bagi warga maupun wisatawan.

Jika rencana ini berjalan sesuai target, 2029 dapat menjadi titik balik bagi Kota Tua. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai ruang wisata sejarah berpotensi berubah menjadi kawasan heritage rendah emisi yang terhubung penuh dengan transportasi massal Jakarta.