periskop.id - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Berjangka, Ibrahim Assuabi, memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (29/5) berpotensi mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Pada perdagangan Kamis (28/5) pukul 09.01 WIB, nilai tukar rupiah tercatat menyentuh Rp17.878 per dolar AS atau melemah 57,50 poin.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan internal yang semakin menekan pasar keuangan domestik.
Dari faktor eksternal, ia menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah Amerika Serikat disebut melakukan serangan terhadap instalasi di wilayah Iran Selatan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu respons balasan dari Iran dan memperbesar eskalasi konflik di kawasan.
"Di sisi lain pun juga dalam rapat di Gedung Putih, Trump pun juga mengancam ya akan menyerang Oman juga sebagai negara negosiasi yang mendukung kebijakan perdamaian antara Iran dan Amerika,"kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (28/5).
Menurutnya, potensi konflik yang lebih luas dapat memicu gangguan di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia. Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong harga minyak mentah semakin tinggi.
Ibrahim menyebut harga minyak dunia saat ini sudah bergerak di atas US$92 per barel, bahkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) telah mendekati level US$96 per barel. Kenaikan harga minyak dinilai berdampak terhadap meningkatnya biaya logistik dan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat.
Ia menambahkan, meningkatnya tekanan inflasi di AS membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve kembali berubah. Sejumlah ekonom memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
"Nah oleh karena itu implasi kemungkinan besar akan terus mengalami kenaikan di Amerika bukan di Amerika saja tapi secara global ini pun juga akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Indikasi ini yang membuat dolar kembali terjadi give up. Ya pembukaan pasar tadi jam 6, ya 6 pagi dolar terjadi give up kenaikan yang cukup signifikan," terangnya.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi kondisi domestik. Ia menyoroti tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, perpindahan simpanan masyarakat ke valuta asing, hingga beban utang jatuh tempo pemerintah dan swasta.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung sejumlah program pemerintah yang dinilai menjadi perhatian pelaku pasar, seperti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.
Menurut Ibrahim, kekhawatiran terhadap tata kelola dan potensi pembengkakan anggaran membuat investor asing cenderung menarik modal dari pasar domestik, terutama menjelang periode libur panjang.
"Sekarang itu sudah sedikit dihentikan sebagian tetapi rupanya sekarang pasar tertuju terhadap kooperasi merah putih yang manajemennya amburadul ya yang kemungkinan besar ini akan merugikan negara sebesar total Rp45 triliun," tegasnya.
Ia menilai Bank Indonesia telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah, namun tekanan eksternal dan internal yang besar membuat ruang stabilisasi menjadi terbatas.
Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah masih berlanjut dengan potensi penurunan hingga sekitar 100 poin dan berpeluang menyentuh level Rp17.900 per dolar AS pada akhir perdagangan.
"Tetapi kita harus tahu bahwa kekuatan eksternal dan internal ini cukup besar ya wajar kalau seandainya rupiah mengalami pelemahan nah kita melihat bahwa dalam perdagangan di hari ini ya libur nasional kemungkinan besar 100 poin ya kemungkinan besar 100 poin rupiah akan melemah bisa saja dalam perdagangan di sampai sore ini rupiah akan dipelemah di 17.900,"tutupnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar