periskop.id - Kurs rupiah hari ini sempat menyentuh posisi terlemahnya di Rp18.229 per dolar AS sebelum akhirnya berbalik menguat. Pembalikan arah itu terjadi setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026).

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah sebenarnya sudah berlangsung sepanjang tahun 2026. Sejak awal tahun di posisi Rp16.683 per dolar AS, mata uang Garuda telah terdepresiasi hampir 10% akibat gejolak global yang terus meningkat.

Advertisement

Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk sentimen pasar terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk rupiah. Di tengah situasi itu, Bank Indonesia mengambil langkah kebijakan moneter yang lebih tegas untuk meredam tekanan.

Pergerakan Kurs Rupiah pada 9 Juni 2026

Data Google Finance mencatat rupiah berada di level Rp18.025 per dolar AS pada pukul 07.05 WIB.

Lima menit kemudian, tekanan kembali datang. Pukul 07.10 WIB, kurs rupiah melorot hingga menyentuh Rp18.229 per dolar AS, level terlemah sepanjang hari itu.

Setelah Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan di siang hari, rupiah mulai memperlihatkan pemulihan dan bergerak menjauh dari titik terlemahnya.

Mengapa BI Menaikkan Suku Bunga Jadi 5,50%?

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa kenaikan BI Rate kali ini merupakan bagian dari upaya lanjutan memperkuat stabilisasi nilai tukar di tengah gejolak global yang masih tinggi.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah," tutur Perry Warjiyo.

Kebijakan ini dengan demikian bukan sekadar respons reaktif terhadap pelemahan kurs. Ada dimensi antisipatif di dalamnya, yakni menjaga tekanan harga agar tidak meliar di tahun-tahun mendatang.

Dampak Kenaikan BI Rate terhadap Investasi Asing

Perry juga memaparkan bahwa kenaikan suku bunga acuan ini dirancang untuk mendongkrak daya tarik aset keuangan domestik di mata investor luar negeri.

Dengan imbal hasil yang lebih kompetitif, Bank Indonesia berharap aliran modal asing dalam bentuk investasi portofolio kembali mengalir masuk ke Indonesia, yang pada gilirannya turut menyokong stabilitas nilai tukar rupiah.

Pergerakan kurs rupiah hari ini mencerminkan betapa responsifnya pasar terhadap kebijakan moneter domestik. Langkah BI mengerek suku bunga memberikan sinyal positif jangka pendek, meski ketidakpastian global masih menjadi faktor yang perlu dipantau secara cermat ke depannya.