Periskop.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji teknologi bantalan rel berbasis karet komposit, untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan transportasi umum kereta api.

Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4) menyampaikan hal tersebut, sebagai respons atas kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek yang menabrak kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur, Senin (27/4).

"BRIN telah berkontribusi dalam desain dan riset sistem kereta api, termasuk pada kereta LRT dan kereta di jalur Makassar–Parepare, Sulawesi Selatan. Selain itu, riset juga dilakukan pada material seperti bantalan rel berbasis karet komposit untuk meningkatkan keselamatan dan umur pakai infrastruktur kereta api," tuturnya. 

Amarulla menambahkan, BRIN juga mengembangkan sistem keamanan lintasan kereta api, termasuk bagaimana sistem proteksi dapat terintegrasi secara otomatis dengan masinis.

Selain itu, BRIN juga mengkaji dampak medan magnet dari lokomotif terhadap kendaraan di sekitar lintasan. Medan magnet yang besar berasal dari sistem kelistrikan lokomotif, sehingga perlu dikaji metode netralisasi agar tidak mengganggu kendaraan lain.

"Kemudian, tidak hanya terkait teknologi atau sistem perkeretaapian, tetapi apakah betul mobil listrik misalnya, terpengaruh oleh medan magnet yang besar di kereta api, itu juga merupakan salah satu kajian dari BRIN karena pengaruh medan magnet yang besar ketika kereta api itu akan lewat," ucap Amarulla.

Medan Magnet

Ia menyebutkan, pentingnya riset mengenai netralisasi medan magnet yang ada di sekitar lintasan rel kereta api agar tidak mempengaruhi kendaraan yang lewat di sekitarnya.

"Jadi, medan magnet yang besar itu dihasilkan oleh kereta api yang mau lewat. Karena sumber di lokomotif itu besar sekali listriknya, magnetnya itu terhantar sampai ke kereta api di depannya. Ini mungkin perlu kita kaji atau riset bagaimana untuk netralisasi medan magnet di sekitaran lintasan kereta api itu supaya tidak mengganggu lalu lintas mobil yang akan lewat," bebernya. 

Berdasarkan data terbaru hingga pukul 08.45 WIB, kecelakaan kereta listrik dan kereta api di wilayah Stasiun Bekasi Timur mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka-luka. PT Kereta Api Indonesia (Persero) memastikan seluruh biaya pengobatan korban luka serta biaya pemakaman korban meninggal dunia akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak asuransi dan KAI.

Saat ini, para korban luka telah dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Bekasi, RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi, serta beberapa rumah sakit swasta di wilayah Bekasi.

Sebagai bentuk pelayanan darurat, KAI juga telah membuka Posko Tanggap Darurat dan Posko Informasi di Stasiun Bekasi Timur guna membantu keluarga korban mendapatkan informasi valid terkait kondisi penumpang dan penanganan barang-barang milik pelanggan.