periskop.id - Momen Hari Raya Iduladha sering kali diwarnai dengan pemandangan yang menyentuh hati: air mata yang menetes dari mata sapi atau kambing kurban sesaat sebelum disembelih.
Fenomena ini kerap memicu narasi emosional di masyarakat, seperti anggapan bahwa hewan tersebut merasa sedih, takut, atau bahkan pasrah karena tahu ajalnya sudah dekat.
Namun, bagaimana fakta sebenarnya? Mari kita bedah fenomena ini secara objektif, baik dari kacamata sains (ilmiah) maupun sudut pandang Islam.
1. Sudut Pandang Ilmiah: Respons Fisiologis, Bukan Emosional
Secara biologis, hewan mamalia memang memiliki kelenjar air mata (glandula lacrimalis) yang berfungsi memproduksi air mata.
Namun, para ahli zoologi dan dokter hewan menegaskan bahwa air mata pada sapi kurban bukan disebabkan oleh luapan emosi sedih atau menangis layaknya manusia.
Berikut adalah beberapa faktor ilmiah yang melatarbelakanginya:
Mekanisme Pembersihan Mata (Fisiologis)
Air mata pada sapi berfungsi untuk menjaga kelembapan bola mata dan membersihkan kotoran.
Saat proses distribusi dari peternakan ke tempat penampungan, sapi kerap terpapar debu, asap kendaraan, dan angin kencang.
Produksi air mata yang meningkat adalah respons alami tubuh untuk mengeluarkan partikel asing tersebut.
Paparan Gas Amonia
Tempat penampungan atau halaman masjid yang padat hewan kurban sering kali penuh dengan urat dan kotoran hewan.
Kotoran yang menumpuk ini menghasilkan gas amonia yang tinggi.
Gas amonia memiliki sifat iritatif yang kuat, sehingga memicu mata sapi menjadi perih dan merangsang keluarnya air mata secara berlebihan.
Respons Stres (Fisik)
Sapi adalah hewan yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Ketika dipindahkan ke tempat baru yang bising, dikerubungi banyak orang, dibaringkan secara paksa, atau diikat, sapi akan mengalami stres fisik yang tinggi.
Stres ini memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin, yang salah satu efek sampingnya adalah meningkatkan sekresi kelenjar air mata.
2. Sudut Pandang Islam: Ketundukan Makhluk dan Kewajiban Ihsan
Dalam syariat Islam, fenomena "menangisnya" hewan kurban dapat dipandang melalui dua dimensi: hakikat penciptaan hewan dan adab manusia terhadapnya.
Hakikat Ketundukan Hewan Kurban
Secara akidah, Islam mengajarkan bahwa seluruh makhluk di alam semesta, termasuk hewan, bertasbih dan tunduk kepada Allah SWT.
Hewan yang dijadikan kurban telah Allah tundukkan untuk kemaslahatan manusia, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 36:
“Unta-unta itu Kami jadikan untukmu sebagai bagian dari syiar agama Allah. Bagimu terdapat kebaikan padanya. Maka, sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya, sedangkan unta itu) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Lalu, apabila telah rebah (mati), makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkannya (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur.”
Sebagian ulama dan penafsir kontemporer melihat bahwa hewan kurban memiliki "kesadaran" tersendiri dalam memenuhi tugas penciptaannya.
Jika mereka tampak meranggas atau mengeluarkan air mata, hal itu bisa dipahami sebagai bentuk kepasrahan biologis dan spiritual mereka terhadap ketetapan Allah, bukan karena mereka menolak atau mendendam kepada manusia.
Perintah Berlaku Ihsan (Berbuat Baik) saat Menyembelih
Islam sangat melarang manusia menyiksa atau membuat hewan kurban stres berlebihan.
Jika air mata sapi keluar karena stres, maka Islam telah memberikan solusi preventif melalui hadis Rasulullah SAW:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَاقَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُواالذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
Innnallaha katabal ihsana 'ala kulli syai-in, fa idza qataltum fa ahsinul qitlah, wa idza dzabahtum fa ahsinudz dzibhata, wal yuhidda ahadukum syafratahu, wal yurih dzabihatahu.
Artinya: "Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya." (HR. Muslim).
Berdasarkan hadis ini, para ulama merumuskan Adab Menyembelih untuk meminimalkan stres (dan air mata) pada hewan:
Menajamkan pisau sedemikian rupa agar proses kematian berlangsung sangat cepat dan minim rasa sakit.
- Dilarang mengasah pisau di depan hewan yang akan disembelih, karena hal itu secara psikologis menakuti hewan tersebut.
- Dilarang menyembelih di hadapan hewan lain yang sedang mengantre, untuk mencegah kecemasan massal pada hewan.
- Merebahkan hewan dengan lembut dan tidak memperlakukannya secara kasar.
Kesimpulan
Fenomena sapi kurban yang terlihat menangis adalah perpaduan antara respons fisiologis nyata (menahan stres, iritasi debu, dan gas amonia) serta simbol ketundukan makhluk terhadap penciptanya.
Sebagai muslim yang bijak, melihat air mata sapi kurban seharusnya tidak sekadar menjadi tontonan emosional, melainkan menjadi pengingat (gandrung) untuk memperlakukan hewan kurban dengan penuh kasih sayang (ihsan) sesuai syariat, demi menghargai nyawa makhluk yang dikorbankan untuk ketakwaan kita. Wallahu a'lam bishawab.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar