Periskop.id - Rachmat Gobel bukan sekadar nama besar di dunia bisnis. Ia adalah sosok yang hidup di persimpangan tiga dunia: industri, diplomasi ekonomi, dan politik. Dari anak pewaris perusahaan elektronik yang pernah ditempa dari lantai pabrik, ia kemudian menjelma menjadi Menteri Perdagangan, Utusan Khusus Presiden untuk Jepang, Wakil Ketua DPR RI, hingga tokoh yang terus membawa nama Gorontalo dalam agenda pembangunan nasional.

Rachmat Gobel meninggal dunia pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB di Jakarta. Kabar wafatnya dikonfirmasi Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fauzi Amro. Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Supomo Nomor 55A, Jakarta Selatan, dan pemakaman direncanakan berlangsung di Gorontalo.

Anak Gorontalo dari Keluarga Industri

Rachmat Gobel lahir di Gorontalo pada 3 September 1962. Ia merupakan anak kelima dan putra pertama dari pasangan Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel. Nama Gobel sudah lebih dulu dikenal melalui kiprah sang ayah sebagai perintis industri elektronik nasional dan pendiri Kelompok Usaha Gobel.

Sejak kecil, Rachmat tidak dibesarkan hanya sebagai pewaris nama keluarga. Ia ditempa untuk memahami bisnis dari bawah. Dalam profil Fraksi NasDem disebutkan, sejak masih SMP ia bahkan pernah menjalani pekerjaan paling dasar di lingkungan perusahaan keluarga, termasuk menjadi tukang sapu pabrik. Dari sana ia belajar bahwa kepemimpinan bukan dimulai dari ruang direksi, melainkan dari memahami orang-orang yang bekerja di lantai produksi.

Pendidikan formalnya membawanya ke Jepang. Pada usia 24 tahun, Rachmat meraih gelar sarjana jurusan Perdagangan Internasional dari Chuo University, Tokyo. Setelah itu, ia menjalani praktik kerja di Matsushita Group dekat Osaka, perusahaan yang menjadi mitra penting keluarga Gobel dalam industri elektronik.

Tidak Langsung Duduk di Kursi Bos

Meski berasal dari keluarga pemilik perusahaan, Rachmat tidak langsung ditempatkan di posisi puncak. Ketika kembali ke Indonesia pada akhir 1980-an, ia justru memulai karier sebagai tenaga pelatih di pabrik baterai PT National Gobel. Setahun kemudian, ia naik ke jajaran menengah sebagai asisten presiden direktur. Perusahaan itu kini dikenal sebagai PT Panasonic Manufacturing Indonesia.

Perjalanan kariernya kemudian bergerak cepat. Ia dipercaya menjadi Direktur Perencanaan PT National Gobel pada 1991-1993, Wakil Direktur Utama pada 1993-2002, dan akhirnya menjabat Direktur Utama pada 1994. Masa 1988-1994 menjadi periode penting karena Rachmat belajar bisnis dari berbagai tingkatan, mulai dari produksi, perencanaan, hingga manajemen strategis.

Ujian besar datang saat krisis ekonomi 1997-1998. Ketika banyak konglomerasi tumbang, Gobel Group mampu bertahan. Situs resmi Gobel International menyebut Gobel Group di bawah kepemimpinan Rachmat termasuk kelompok usaha yang bertahan dan berkembang di tengah krisis. Salah satu langkah pentingnya adalah memperbarui kerja sama jangka panjang dengan Matsushita Electric Industrial pada 2000, yang menunjukkan tingginya kepercayaan antara dua mitra bisnis tersebut.

Filosofi: “Memanusiakan Manusia”

Dalam banyak cerita tentang Rachmat Gobel, ada satu benang merah yang sering muncul: ia melihat industri bukan semata soal mesin, produk, atau keuntungan, tetapi tentang manusia. Ia pernah merumuskan filosofi pembangunan sumber daya manusia dengan kalimat sederhana, “Kita harus memanusiakan manusia.”

Bagi Rachmat, kualitas produk akan mengikuti kualitas manusianya. Karena itu, ia menaruh perhatian besar pada pelatihan, disiplin kerja, dan pembangunan SDM. Cara pandang ini banyak dipengaruhi pengalaman Jepang, tempat ia belajar tentang etos kerja, ketelitian, dan loyalitas terhadap proses.

Filosofi itu pula yang membuatnya aktif di luar perusahaan. Ia tidak hanya mengelola bisnis keluarga, tetapi juga ikut membangun ekosistem industri melalui asosiasi, Kadin, hubungan Indonesia-Jepang, olahraga, dan berbagai yayasan.

Penghubung Indonesia-Jepang

Karier Rachmat sangat lekat dengan Jepang. Selain menempuh pendidikan di Chuo University dan bekerja di Matsushita, ia juga menjadi salah satu figur penting dalam hubungan bisnis Indonesia-Jepang. Ia pernah aktif dalam Komite Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Jepang di Kadin dan pada 2006 diangkat sebagai Presiden Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang.

Kiprah organisasinya luas. Ia pernah memimpin Gabungan Perusahaan Industri Elektronika atau Gabel pada 1998-2003 dan 2003-2009, serta Federasi Asosiasi-Asosiasi Industri Berbasis Elektronika dan Telematika atau F-Gabel pada 2010-2014. Di Kadin, ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis, mulai dari Ketua Bidang Industri, Logam, Mesin, Kimia, dan Elektronika, hingga Wakil Ketua Umum bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan.

Sederet organisasi lain juga pernah dipimpinnya atau menjadi ruang pengabdiannya, termasuk Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, PMI, Persada, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang, PB IPSI, Persilat, Yayasan Melati Sakura, dan Yayasan Matsushita-Gobel.

Dari Pengusaha ke Menteri Perdagangan

Pada 2014, Rachmat masuk ke gelanggang pemerintahan. Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Perdagangan dalam Kabinet Kerja. Ia menjabat sejak 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015. Rachmat saat itu masuk kabinet dari kalangan profesional non-partai.

Meski masa jabatannya tidak panjang, posisinya sebagai Menteri Perdagangan menandai transisi penting dalam hidupnya: dari pengusaha yang banyak bergerak di balik meja industri menjadi pejabat publik yang harus menghadapi urusan harga, distribusi, ekspor-impor, dan kepentingan konsumen.

Setelah tak lagi menjadi menteri, hubungan Rachmat dengan pemerintahan tidak terputus. Pada 17 Januari 2017, Presiden Jokowi mengangkatnya sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Jepang. Dalam posisi itu, ia kembali memainkan peran yang paling ia kuasai: menjadi jembatan ekonomi, budaya, dan diplomasi antara Indonesia dan Jepang.

Hijrah ke Politik dan Menjadi Pimpinan DPR

Rachmat kemudian masuk ke Partai NasDem pada 2016. Ia langsung ditempatkan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Partai NasDem. Pada Pemilu 2019, ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan Gorontalo dan berhasil meraih suara besar, yakni 146.067 dari total 721.032 suara di Provinsi Gorontalo. Perolehan itu mengantarkannya menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024.

Tak lama setelah masuk Senayan, karier politiknya langsung melesat. Partai NasDem mengusungnya menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2019-2024. ANTARA pernah menulis bahwa Rachmat hanya membutuhkan sekitar tiga tahun sejak menjadi kader partai hingga duduk di kursi Wakil Ketua DPR RI.

Pada periode 2024-2029, Rachmat tercatat sebagai Kapoksi Komisi VI DPR RI dan anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen. Komisi VI merupakan komisi yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UMKM, BUMN, dan persaingan usaha, bidang yang sangat dekat dengan pengalaman panjangnya di dunia industri.

“Pemberi Cahaya Negeri” dari Gorontalo

Meski berkarier di Jakarta dan dikenal dalam jaringan bisnis nasional-internasional, Rachmat tidak pernah lepas dari Gorontalo. Di tanah asal keluarganya, ia mendapat gelar “Ti Bulilango Hunggia” yang berarti “Pemberi Cahaya Negeri”. Gelar itu menjadi simbol penghormatan masyarakat Gorontalo atas kiprahnya dalam berbagai bidang.

Perhatiannya kepada Gorontalo tampak dalam berbagai kegiatan, mulai dari pertanian, pariwisata, kesehatan, hingga pengembangan ekonomi lokal. Pada Juni 2026, Gobel Group disebut siap berkolaborasi memajukan pariwisata dan ekonomi Gorontalo. Rachmat menyatakan apa yang dilakukan Gobel Group merupakan ungkapan terima kasih kepada masyarakat, pemerintah, dan leluhur di Gorontalo.

Baginya, Gorontalo bukan hanya daerah pemilihan. Gorontalo adalah akar identitas, ruang pengabdian, dan tempat kembali. Tak mengherankan bila prosesi pemakamannya direncanakan dilakukan di Gorontalo.

Dikenang sebagai Sahabat dan Putra Terbaik Bangsa

Kepergian Rachmat Gobel membuat banyak tokoh menyampaikan duka. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengenangnya sebagai sahabat, negarawan, dan pengusaha yang rendah hati. Amran menyebut Rachmat selalu memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat dan mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan bangsa.

Amran juga mengenang pertemuan terakhir mereka saat Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo pada Juni 2026. Dalam pertemuan itu, Rachmat disebut masih antusias membicarakan kemajuan pertanian dan pembangunan Gorontalo.

Warisan Rachmat Gobel

Jejak Rachmat Gobel sulit diringkas dalam satu jabatan. Ia bukan hanya mantan Menteri Perdagangan. Ia juga bukan sekadar pewaris Gobel Group. Ia adalah figur yang membangun reputasi lewat ketekunan panjang: belajar dari pabrik, ditempa Jepang, menyelamatkan perusahaan dari krisis, menjadi pelobi industri, menghubungkan Indonesia-Jepang, masuk pemerintahan, lalu membawa pengalaman bisnis ke parlemen.

Warisan terpentingnya mungkin bukan pada jabatan, melainkan pada cara ia memandang pembangunan. Baginya, industri harus membangun manusia. Bisnis harus punya akar sosial. Politik harus membawa manfaat bagi daerah. Dan Gorontalo, tanah yang selalu ia bawa dalam pengabdian, menjadi penanda bahwa sebesar apa pun seseorang melangkah, akar tetap penting untuk dijaga.

Perjalanan Hidup Rachmat Gobel

 

TahunJejak Karier
1962Lahir di Gorontalo pada 3 September
1980-anMenempuh pendidikan Perdagangan Internasional di Chuo University, Tokyo
1988Mulai bekerja di PT National Gobel sebagai tenaga pelatih di pabrik baterai
1991-1993Direktur Perencanaan PT National Gobel
1993-2002Wakil Direktur Utama PT National Gobel
1994Menjabat Direktur Utama PT National Gobel
1998-2009Memimpin Gabungan Perusahaan Industri Elektronika atau Gabel
2000Memperbarui kerja sama jangka panjang Gobel Group dengan Matsushita
2004-2010Aktif di Kadin dan Komite Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Jepang
2014-2015Menteri Perdagangan RI
2017-2019Utusan Khusus Presiden RI untuk Jepang
2019-2024Anggota DPR RI dari NasDem dan Wakil Ketua DPR RI
2024-2029Kapoksi Komisi VI DPR RI dan anggota BKSAP
2026Wafat di Jakarta pada 10 Juli 2026