Periskop.id - Di tengah realisasi IPO yang belum terlalu agresif, Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan bahwa pipeline perusahaan yang akan melantai di bursa tetap terjaga.

Hingga 9 Juli 2026, tercatat lima perusahaan telah melakukan IPO dengan total dana sebesar Rp1,67 triliun. Namun BEI menekankan bahwa fokus utama bukan semata jumlah transaksi.

“Kami tidak melihat keberhasilan pasar perdana hanya dari jumlah transaksi atau nilai dana yang dihimpun, melainkan lebih kepada kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin kepada wartawan, Kamis (9/7).

Saat ini, terdapat enam perusahaan dalam pipeline IPO, yang sebagian besar berasal dari kelompok perusahaan dengan aset skala besar. Hal ini menunjukkan bahwa minat dari perusahaan berkualitas tetap terjaga.

Dari sisi sektoral, perusahaan di bidang healthcare menjadi yang paling dominan, disusul sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, serta basic materials. BEI menilai tren ini mencerminkan transformasi struktur ekonomi sekaligus meningkatnya kebutuhan pembiayaan di sektor-sektor strategis.

Lebih jauh, BEI tengah mengarahkan strategi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat IPO di kawasan Asia Tenggara.

“Daya saing tidak hanya ditentukan oleh jumlah IPO, tetapi juga oleh kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, BEI memperluas konektivitas global melalui kerja sama dengan berbagai bursa internasional, termasuk Singapura dan Hong Kong. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas emiten Indonesia sekaligus menarik partisipasi investor global ke dalam negeri.