Periskop.id — Spanyol tidak menjuarai Piala Dunia 2026 hanya karena gol Ferran Torres pada menit ke-106. Gelar kedua La Roja dibangun melalui penguasaan bola yang nyaris obsesif, tekanan agresif, pertahanan paling rapat dalam sejarah turnamen, serta generasi muda yang tidak terlihat gentar di panggung terbesar.
Kemenangan 1-0 atas Argentina di New York New Jersey Stadium menjadi puncak perjalanan tersebut. Spanyol menguasai lebih dari 65% bola, melepaskan 12 tembakan tepat sasaran, dan mencatat lebih dari dua kali jumlah operan sukses Argentina pada final. Dominasi itu baru berubah menjadi gol setelah Nico Williams dan Torres, dua pemain pengganti, bekerja sama pada babak tambahan.
Di balik trofi itu, sederet angka menjelaskan bagaimana tim asuhan Luis de la Fuente mengendalikan Piala Dunia terbesar sepanjang sejarah.
Rodri dan Rekor 790 Operan Sukses
Angka paling mencolok datang dari Rodri. Kapten Spanyol tersebut menyelesaikan 790 operan sukses, terbanyak yang pernah dicatat seorang pemain dalam satu edisi Piala Dunia.
Rodri memecahkan rekornya sendiri ketika membukukan 638 operan sukses pada Piala Dunia Qatar 2022. Sebelum itu, catatan terbaik dipegang Xavi Hernandez yang menyelesaikan 599 operan saat membawa Spanyol menjadi juara pada 2010. Dua pemain terdekat dengan Rodri pada edisi 2026 juga berasal dari Spanyol, yakni Pau Cubarsi dengan 668 operan dan Aymeric Laporte sebanyak 618.
Jumlah tersebut memperlihatkan, penguasaan bola Spanyol tidak hanya menjadi identitas estetis. Rodri berfungsi sebagai pusat sirkulasi, pengatur tempo, sekaligus pengaman pertama ketika La Roja kehilangan bola.
Perannya membuat Rodri dinobatkan sebagai pemenang Golden Ball atau pemain terbaik Piala Dunia 2026. Ia melengkapi koleksi gelarnya setelah sebelumnya menjuarai Piala Eropa, Liga Champions, dan meraih Ballon d’Or.
“Tim ini luar biasa. Kami adalah juara dunia dua kali. Itu pencapaian yang sangat sulit, mungkin yang tersulit dalam sepak bola. Kami meraihnya dengan mengalahkan tim sekuat Argentina,” kata Rodri yang dikutip ESPN.
Spanyol Menekan, Bukan Sekadar Mengoper
Dominasi La Roja tidak berhenti pada jumlah operan. Mereka juga bekerja keras merebut kembali bola sesegera mungkin. Mikel Oyarzabal memaksa lawan melakukan 58 turnover, tertinggi di antara seluruh pemain. Ia mengungguli Pedri dan gelandang Maroko Neil El Aynaoui yang masing-masing mencatatkan 51.
Sementara itu, Dani Olmo menjadi pemain dengan tekanan defensif terbanyak, yakni 305 kali. Statistik tersebut menggambarkan cara Spanyol bertahan dari depan. Penyerang dan gelandang serangnya tidak menunggu lawan mendekati kotak penalti, melainkan langsung memburu bola sejak fase awal pembangunan serangan.
Pendekatan itu pula yang membantu bek-bek Spanyol bermain jauh dari gawang. Marc Cucurella dan Pau Cubarsi masing-masing berada di lapangan selama 750 menit, jumlah tertinggi untuk pemain nonkiper bersama gelandang Argentina Alexis Mac Allister.
Cubarsi menjalani seluruh tekanan tersebut saat baru berusia 19 tahun. Ia akhirnya memperoleh penghargaan Pemain Muda Terbaik, sedangkan Cucurella menjadi bagian penting dari struktur pertahanan dan sirkulasi bola di sisi kiri.
Yamal Menjadi Raja Dribel
Lamine Yamal mengakhiri turnamen dengan 35 dribel sukses, terbanyak di Piala Dunia 2026. Pemain berusia 19 tahun itu mengungguli Kylian Mbappe dengan 28 dribel, Lionel Messi 25, Vinicius Junior 23, dan Jeremy Doku 21.
Catatan tersebut menunjukkan besarnya peran Yamal dalam membuka pertahanan yang sudah terorganisasi. Ketika jalur operan tertutup, keberaniannya menghadapi lawan satu lawan satu memberi Spanyol cara lain untuk maju.
Yamal juga menjadi juara dunia pada usia 19 tahun 6 hari, menempatkannya di posisi keempat daftar pemain termuda yang pernah memenangi Piala Dunia. Ia hanya berada di belakang Pele, Ronaldo Nazario, dan Giuseppe Bergomi, serta memiliki usia yang sama dengan Coutinho ketika Brasil menjadi juara pada 1962.
Cubarsi menyusul pada posisi ketujuh dengan usia 19 tahun 178 hari, satu tingkat di atas Mbappe ketika menjadi juara bersama Prancis pada 2018.
Kehadiran keduanya menunjukkan keberhasilan Spanyol bukan hanya hasil kematangan pemain berpengalaman seperti Rodri, Laporte, dan Oyarzabal. Gelar ini juga dibangun oleh dua remaja yang telah menjadi bagian utama dari sistem permainan.
Unai Simon dan Pertahanan Terbaik dalam Sejarah
Spanyol hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan, rekor paling sedikit bagi sebuah tim juara Piala Dunia. Satu-satunya pemain yang mampu menjebol gawang La Roja adalah Charles De Ketelaere ketika Belgia kalah 1-2 pada perempat final.
Unai Simon mencatatkan tujuh nirbobol, melampaui rekor lama lima pertandingan yang sebelumnya dibuat sejumlah kiper, termasuk Walter Zenga, Fabien Barthez, Gianluigi Buffon, dan Iker Casillas.
Simon juga mencatat rangkaian 650 menit tanpa kebobolan dalam pertandingan Piala Dunia sejak penampilan terakhirnya pada Qatar 2022. Catatan itu melewati rekor Zenga bersama Italia yang bertahan selama 517 menit.
Sebagai pembanding, rekor terbaik sebelumnya untuk tim juara adalah dua gol kemasukan, masing-masing dicatat Prancis pada 1998, Italia pada 2006, dan Spanyol pada 2010.
Namun, keberhasilan Simon tidak dapat dipisahkan dari Laporte, Cubarsi, Cucurella, Pedro Porro, dan sistem tekanan tim secara keseluruhan. Argentina bahkan baru menciptakan tembakan pertamanya setelah Spanyol lebih dahulu menghasilkan 20 percobaan pada final.
Oyarzabal Samai Rekor Gol Spanyol
Spanyol mencetak 14 gol sepanjang turnamen, enam lebih banyak daripada ketika mereka menjadi juara pada 2010. Gol-gol itu dibagi di antara delapan pemain, menunjukkan ketergantungan La Roja tidak tertumpu kepada satu pencetak gol utama.
Mikel Oyarzabal menjadi pemain tersubur Spanyol dengan lima gol. Torehan tersebut menyamai rekor gol terbanyak seorang pemain Spanyol dalam satu edisi Piala Dunia, yang sebelumnya dibuat Emilio Butragueno pada 1986 dan David Villa pada 2010.
Ironisnya, gol terpenting justru datang dari Torres, yang belum mencetak gol sebelum final. Masuk sebagai pemain pengganti, penyerang Barcelona itu menyelesaikan umpan Nico Williams untuk menaklukkan Emiliano Martinez.
Torres menjadi pemain pengganti kedua yang mencetak gol kemenangan pada final Piala Dunia setelah Mario Gotze melakukannya untuk Jerman pada 2014. Ia juga menjadi pemain pengganti kelima yang pernah mencetak gol dalam laga final.
“Itu adalah gol yang dicetak oleh 47 juta orang,” kata Torres, merujuk kepada jumlah penduduk Spanyol.
Tak Terkalahkan dalam 38 Pertandingan
Kemenangan atas Argentina memperpanjang rangkaian Spanyol menjadi 38 pertandingan tanpa kekalahan, terdiri atas 29 kemenangan dan sembilan hasil imbang sejak takluk 0-1 dari Kolombia pada Maret 2024.
Catatan tersebut melewati Italia yang sebelumnya menjalani 37 pertandingan tanpa kalah pada 2018 hingga 2021. Spanyol juga menutup Piala Dunia 2026 dengan tujuh kemenangan beruntun setelah ditahan imbang pada pertandingan pembuka.
Rangkaian panjang itu menunjukkan gelar dunia bukan hasil performa sesaat selama sebulan. Spanyol telah mempertahankan tingkat permainan tersebut selama lebih dari dua tahun, termasuk ketika menjuarai Piala Eropa 2024.
“Saya merasa sangat bangga dengan generasi pesepakbola ini yang telah tumbuh bersama gagasan tersebut, menyempurnakannya, serta memberikan contoh tentang sebuah kelompok, sebuah keluarga,” ujar De la Fuente, dikutip dari laman resmi FIFA, Senin.
“Saya merasa sangat emosional saat menengok kembali ke belakang. Kami telah banyak berbicara dengan para pemain. Kami telah memenangkan segalanya, dan itu sungguh luar biasa. Mereka adalah generasi pesepak bola yang menjadi kebanggaan Spanyol. Bersama-sama, kita lebih kuat,” ungkap De La Fuente.
Piala Dunia 2026 akhirnya menghasilkan satu juara, tetapi banyak alasan di baliknya. Ada 790 operan Rodri, 35 dribel Yamal, 58 turnover Oyarzabal, tujuh nirbobol Simon, 38 pertandingan tanpa kekalahan, dan hanya satu bola yang berhasil menembus gawang Spanyol.
Angka-angka tersebut menggambarkan satu hal yang sama. La Roja tidak bergantung kepada seorang pahlawan. Mereka menjadi juara karena setiap bagian bekerja sebagai satu kesatuan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar