Periskop.id - Sejumlah sekolah negeri di Indonesia kekurangan murid baru pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027. Kondisi ini dilaporkan merata terjadi di berbagai daerah, mulai dari Bengkulu Tengah hingga Semarang.
Salah satu kasus paling mencolok terjadi di SMP Negeri 26 Kabupaten Bengkulu Tengah. Hanya satu siswa yang mengikuti proses MPLS di sekolah tersebut tahun ini, yakni Muhammad Yuda.
Kepala Sekolah SMPN 26 Kabupaten Bengkulu Tengah Sosnaidi menjelaskan, pihak sekolah sudah berupaya menarik minat masyarakat agar mau mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.
Sosnaidi memaparkan, para guru dan tim penerimaan siswa baru sudah melakukan sosialisasi ke sekolah dasar terdekat. Selain itu, sekolah juga menawarkan program seragam gratis bagi calon murid.
Tim sekolah bahkan sampai mendatangi rumah calon siswa secara langsung untuk membujuk orang tua. Meski begitu, Sosnaidi mengakui berbagai langkah itu belum mampu mendongkrak jumlah pendaftar di SMPN 26.
Fenomena kekurangan murid ternyata tidak hanya terjadi di Sumatera. Di Pulau Jawa, SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang juga mengalami hal serupa pada masa penerimaan siswa baru tahun ini.
Sekolah dasar negeri tersebut hanya kedatangan tiga siswa baru selama MPLS berlangsung. Jumlah itu jauh dari kapasitas kelas yang biasanya diisi puluhan murid.
Meski jumlah murid minim, pihak SDN Purwoyoso 01 tetap menggelar rangkaian MPLS seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekolah tidak meniadakan agenda pengenalan lingkungan bagi tiga siswa yang terdaftar tersebut.
Kasus sepinya kelas di dua sekolah tersebut menambah daftar sekolah negeri yang kekurangan peminat pada tahun ajaran baru ini. Sebelumnya, laporan serupa juga bermunculan dari berbagai daerah lain di Indonesia.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru soal posisi sekolah negeri di mata orang tua saat ini. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah sekolah negeri masih menjadi pilihan utama dalam menyekolahkan anak, ataukah preferensi masyarakat sudah bergeser ke opsi lain.
Upaya-upaya yang dilakukan sekolah, mulai dari sosialisasi hingga insentif seragam gratis, menunjukkan sekolah negeri kini harus bersaing lebih keras mendapatkan murid. Fenomena ini berpotensi berulang di tahun-tahun mendatang jika penyebab utamanya tidak segera diidentifikasi dan diatasi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar