Periskop.id - PT Permodalan Nasional Madani (PNM), bagian dari BRI Group, mencatat peningkatan laba yang signifikan dari Rp359 miliar pada 2020 menjadi Rp1,14 triliun pada 2025. BRI Group menyampaikan, pertumbuhan laba ini tidak hanya mencerminkan ekspansi usaha, tetapi juga kualitas pengelolaan risiko yang semakin matang.
“Kinerja PNM yang terus membaik menjadi refleksi bahwa pendekatan ekosistem ini efektif dalam menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” kata Group CEO BRI Hery Gunardi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/4).
Tak hanya dari sisi profitabilitas, aset PNM juga mencatatkan lonjakan yang kuat dari Rp31,7 triliun pada 2020 menjadi Rp57,0 triliun pada 2025. Menurut perseroan, pertumbuhan ini mencerminkan ekspansi bisnis yang semakin agresif namun tetap terjaga kualitasnya.
Sejalan dengan itu, total liabilitas meningkat dari Rp26,1 triliun pada 2020 menjadi Rp45,3 triliun pada 2025. Hal ini, lanjutnya, menunjukkan kapasitas intermediasi perseroan yang meningkat dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat prasejahtera produktif.
Struktur Permodalan
Di sisi permodalan, fundamental PNM juga semakin kuat dengan total ekuitas yang tumbuh lebih dari dua kali lipat, dari Rp5,6 triliun pada 2020 menjadi Rp11,7 triliun pada 2025.
Penguatan struktur permodalan ini dipandang menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan bisnis, sekaligus meningkatkan ketahanan Perseroan dalam menghadapi dinamika ekonomi.
Perseroan menyampaikan, pencapaian tersebut merupakan hasil nyata dari sinergi dalam ekosistem Holding Ultra Mikro yang mengintegrasikan kekuatan BRI, Pegadaian, dan PNM.
Melalui sinergi ini, catat perseroan, PNM mampu memperluas jangkauan layanan, meningkatkan skala ekonomi, serta memperkuat kapabilitas bisnis melalui dukungan digitalisasi dan integrasi sistem yang semakin mendorong efisiensi.
Menurut Hery, perseroan melihat Holding Ultra Mikro sebagai platform strategis untuk menciptakan sinergi lintas entitas yang mampu meningkatkan skala bisnis, efisiensi operasional, serta kualitas pertumbuhan. Ekosistem Ultra Mikro juga mendorong peningkatan akses pembiayaan bagi masyarakat prasejahtera, khususnya perempuan pelaku usaha ultra mikro.
Hal ini tidak hanya berdampak pada kinerja keuangan perseroan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan inklusi keuangan nasional.
“Ke depan, Holding Ultra Mikro akan terus kami dorong sebagai enabler utama dalam membangun ekosistem keuangan yang terintegrasi,” kata Hery.
Dengan sinergi yang semakin kuat antara BRI, Pegadaian, dan PNM, Hery pun menyatakan, pihaknya optimistis dapat memperluas jangkauan layanan sekaligus mendorong inklusi keuangan yang relevan bagi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar