Periskop.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memastikan identitas anak dari terduga peneror bom di SD Srengseng Sawah 15 tidak bocor ke publik maupun ke anak yang bersangkutan. Langkah ini diambil untuk mencegah perundungan terhadap anak tersebut di lingkungan sekolah.
Abdul Mu'ti menegaskan, seluruh pihak sekolah diminta menahan diri agar tidak menyebarkan informasi terkait status orang tua anak itu. Ia meminta kerahasiaan tersebut dijaga ketat oleh semua elemen sekolah.
"Kita menyampaikan supaya tidak ada satupun yang menginformasikan mengenai ini kepada anaknya dan kita minta supaya dijaga betul," kata Abdul Mu'ti usai kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Srengseng Sawah 15, Jakarta, Selasa (15/7).
Pernyataan itu muncul menyusul penangkapan terduga peneror bom pada Senin (13/7) pukul 12.20 WIB di Gang Kidan, Kampung Srengseng Sawah, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lokasi penangkapan tak jauh dari sekolah yang jadi target ancaman.
Terduga pelaku disebut merupakan orang tua salah satu siswa di sekolah tersebut, berdasarkan informasi yang beredar di media massa.
Di sisi lain, Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Metro Jaya Kombes Rita Wulandari Wibowo menjelaskan, pihaknya telah memberikan edukasi sekaligus trauma healing bagi anak-anak yang terdampak kejadian teror tersebut. Rita menyebutkan, langkah lanjutan berupa edukasi untuk para guru juga akan dilakukan.
"Setelah ini kita akan mengedukasi juga para bapak ibu gurunya supaya kita punya semangat yang sama bagaimana kita mengamankan, menjadikan sekolah ini aman, nyaman, dan ramah," kata Rita.
Kepolisian bersama dinas pendidikan berkomitmen mengawal proses pemulihan di sekolah tersebut. Rita memastikan, sejauh ini tidak ada pihak yang menyebarkan konten terkait kejadian teror ke publik.
"Alhamdulillah, luar biasa, baik, langsung kami edukasi dan kami treatment saat ini juga tidak ada yang memberikan informasi, menyebarkan atau mendistribusikan konten-konten yang terkait dengan adanya kejadian di sekolah ini," kata dia.
Teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi bermula dari pesan pribadi lewat WhatsApp yang diterima guru saat upacara hari pertama MPLS, Senin (13/7). Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi mengungkapkan, pesan tersebut diterima oleh guru kelas 1 dan staf Tata Usaha sebelum akhirnya dilaporkan ke polisi.
Isi pesan itu mengancam akan meledakkan bom di 11 titik sekolah dan meminta pihak sekolah tidak melapor ke polisi. Polisi menerima laporan ancaman tersebut pukul 07.30 WIB, saat siswa dan guru tengah melaksanakan upacara.
"Kita dapati bahwa memang informasinya betul, bahwa ada WA yang masuk ke guru dan TU," kata Nurma Dewi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar