periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka pada zona hijau pagi ini, Kamis 19 Februari 2026. IHSG mengawali perdagangan dengan kenaikan 47,22 poin atau 0,57% ke level 8.357,44.
Sebanyak 302 saham naik, 55 turun, dan 283 belum bergerak. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 41.051 kali. Volume saham yang diperdagangkan mencapai 424,30 juta saham senilai Rp265,55 miliar.
Secara teknikal, Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mencermati IHSG masih berada dalam momentum bullish dengan support kuat di area 8.250–8.270 dan resistance lanjutan di kisaran 8.350–8.400. Selama tidak ada tekanan eksternal signifikan dari rilis risalah The Fed atau lonjakan yield AS, peluang melanjutkan penguatan masih terbuka, apalagi sektor energi masih menjadi motor utama seiring stabilnya harga minyak dan batu bara.
“Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek setelah reli cepat dalam dua hari terakhir,” kata Hendra, Kamis (19/2).
Dari sisi saham pilihan, INDF menarik dicermati sebagai saham defensif berbasis konsumsi dengan fundamental solid dan valuasi yang masih relatif wajar, sehingga layak buy dengan target 7.000, terutama jika terjadi rotasi sektor dari energi ke consumer.
ADRO tetap prospektif seiring sentimen komoditas yang stabil dan arus dana ke sektor energi, dengan target 2.500 dalam jangka pendek menengah. JPFA layak speculative buy menuju 2.830 karena berpotensi rebound seiring perbaikan margin dan sentimen sektor poultry yang mulai pulih.
Sementara BRIS juga menarik untuk speculative buy dengan target 2.600, didukung pertumbuhan pembiayaan syariah yang konsisten dan potensi katalis dari ekspansi digital banking.
“Strateginya, investor dapat memanfaatkan momentum dengan pendekatan buy on weakness pada saham-saham tersebut, sambil tetap disiplin menjaga level cut loss untuk mengantisipasi volatilitas global yang masih dinamis,” kata Hendra.
Sebelumnya, IHSG kembali menunjukkan tajinya dengan menembus level 8.300 dan ditutup menguat 1,19% ke 8.310, ditopang lonjakan signifikan sektor energi yang naik 2,45%. Kenaikan ini tidak berdiri sendiri, tetapi didukung nilai transaksi yang solid Rp23,49 triliun serta aliran dana asing yang mencatatkan net buy Rp467 miliar.
Secara eksternal, sentimen global relatif kondusif. Bursa Jepang seperti Nikkei 225 dan TOPIX menguat, sementara harga minyak Brent dan WTI naik tipis di tengah negosiasi AS–Iran, menjaga optimisme di saham berbasis komoditas. Meski imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,07% dan indeks dolar AS menguat, tekanan tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan arus risk appetite di emerging market, termasuk Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar